Advertisement
Indonesia Positif

Dosen UNUJA Hadirkan Aplikasi Monitoring Deteksi Dini Jentik, Cegah DBD di Kalangan Santri Nurul Hidayah

Tim dosen Universitas Nurul Jadid (UNUJA) kembali menghadirkan inovasi teknologi kesehatan berbasis masyarakat melalui pengembangan aplikasi monitoring sistem deteksi dini jentik nyamuk guna mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) di lingkungan pesantren

TIMES Indonesia,
Dosen UNUJA Hadirkan Aplikasi Monitoring Deteksi Dini Jentik, Cegah DBD di Kalangan Santri Nurul Hidayah
Kegiatan Pendampingan penguatan pengetahuan tentang prilaku hidup sehat dan jenjit nyamuk. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

PROBOLINGGO Tim dosen Universitas Nurul Jadid (UNUJA) kembali menghadirkan inovasi teknologi kesehatan berbasis masyarakat melalui pengembangan aplikasi monitoring sistem deteksi dini jentik nyamuk guna mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) di lingkungan pesantren, Kamis (30/10/2025).  

Program ini dilaksanakan dalam rangka Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan tahun 2025.

Advertisement

Kegiatan pengabdian berlokasi di Pondok Pesantren Nurul Hidayah, Sumberrejo, Paiton, Probolinggo. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kondisi wilayah yang hampir setiap bulan mengalami kasus DBD akibat tingginya populasi nyamuk Aedes aegypti di lingkungan pemukiman santri.

Program bertajuk “DBD Alert-Pesantren: Model Edukasi dan Aksi Santri Berbasis PHBS untuk Pencegahan DBD dengan Sistem Deteksi Dini Jentik” ini diketuai oleh Dr. Sri Astutik Andayani, M.Kes, dengan anggota tim M. Syafih, M.Kom, Setiyo Adi Nugroho, M.Kes, serta dua mahasiswi Fakultas Kesehatan, Rinda Riani Juli Fanti dan Robiatul Adawiyah.

Melalui program ini, tim dosen UNUJA melatih para santri menjadi Santri Jumantik — juru pemantau jentik nyamuk — yang bertugas melakukan pemantauan berkala di area pesantren. Para santri tidak hanya diberi edukasi tentang bahaya DBD, tetapi juga dibekali keterampilan menggunakan aplikasi digital yang terintegrasi dengan sistem pelaporan daring.

“Santri kami ajak langsung membuat perangkap telur nyamuk dari botol bekas dan memantau jentik setiap minggu. Hasilnya mereka laporkan lewat website DBD Alert Pesantren,” ujar Dr. Sri Astutik Andayani, ketua tim pengabdian.

Aplikasi tersebut dilengkapi dashboard digital yang menampilkan indikator warna hijau, kuning, dan merah sesuai kondisi kebersihan dan potensi risiko di masing-masing titik pantau. Setiap minggu, santri melakukan inspeksi di bak mandi, ember, serta area sekitar asrama untuk memastikan tidak ada tempat berkembang biaknya nyamuk.

Advertisement

Hasil pelaksanaan program menunjukkan peningkatan Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 72 persen menjadi 80 persen hanya dalam waktu tiga minggu. Lingkungan pesantren kini tampak lebih bersih, dan para santri semakin disiplin menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

“Program ini membuat santri lebih peduli terhadap kesehatan dan memahami cara mencegah DBD sejak dini,” ungkap salah satu pengurus Pondok Pesantren Nurul Hidayah.

Selain edukasi kesehatan, program DBD Alert Pesantren juga memperkenalkan inovasi ovitrap sederhana dari bahan daur ulang serta sistem pelaporan berbasis teknologi informasi.

Fina Farhana, perwakilan keluarga besar pesantren, menyampaikan apresiasinya kepada UNUJA.

“Kami berterima kasih kepada Universitas Nurul Jadid yang telah mendukung pesantren melalui kemitraan ini. Pesantren memang membutuhkan sistem berbasis teknologi yang dapat membantu mencegah penyakit di kalangan santri,” ujarnya.

Dengan dukungan Kemdikbudristek melalui hibah PkM 2025, program ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara pesantren dan perguruan tinggi dalam mewujudkan pesantren sehat berbasis teknologi dan perilaku hidup bersih serta sehat (PHBS), sekaligus dapat direplikasi di berbagai pesantren lainnya di Indonesia. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia