BEM Unipma Madiun Latih Packaging Batik Ciprat Sambung Roso
Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, kualitas produk saja tidak lagi cukup. Packaging kini memainkan peran krusial dalam menentukan daya tarik dan nilai jual.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MAGETAN – Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, kualitas produk saja tidak lagi cukup. Packaging kini memainkan peran krusial dalam menentukan daya tarik dan nilai jual. Kesadaran inilah yang mendorong Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unipma Madiun (Universitas PGRI Madiun) berkolaborasi dengan dosen menggelar program Pemberdayaan Masyarakat (PM) BEM Berdampak 2025 yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Sosialisasi ini berlokasi di Balai Desa Simbatan, Magetan pada 14 Oktober 2025, yang menjadi agenda pertama dari beberapa proker lainnya.
Dihadiri dosen pendamping, yakni Dr. Endang Sri Maruti, M.Pd, mahasiswa yang tergabung dalam PM BEM Unipma Madiun 2025 dan pendamping dari SWP Batik Ciprat Sambung Roso serta beberapa anak-anak penyandang disabilitas ringan.
Secara spesifik menyasar produk Batik Ciprat Sambung Rosoz karya seni otentik yang dihasilkan oleh anak-anak disabilitas di bawah naungan Sheltered Workshop Peduli (SWP) Sambung Roso.
Batik Ciprat telah lama diakui sebagai simbol kemandirian dan ekspresi bebas, di mana setiap cipratan malam pada kain adalah cerminan otentik dari jiwa para penyandang disabilitas intelektual dan rungu. Namun, nilai seni yang tinggi ini seringkali terhambat untuk mencapai segmen pasar premium karena ketiadaan kemasan yang memadai. Inilah yang menjadi titik tolak program BEM Unipma Madiun memastikan bahwa perjuangan dan kualitas karya para difabel ini tidak tereduksi hanya karena masalah presentasi.

Kegiatan sosialisasi ini bertujuan mentransformasi kemasan tradisional menjadi kemasan yang menarik, elegan, simpel, dan kekinian, yang bukan hanya sekadar pembungkus, tetapi juga cermin dari kualitas dan filosofi produk di dalamnya.
Kegiatan PM BEM Berdampak 2025 ini menargetkan para pendamping anak-anak disabilitas di SWP Sambung Roso dan beberapa anak disabilitas ringan yang terlibat langsung dalam proses produksi. Hal ini krusial, sebab keberlanjutan inovasi packaging harus dikuasai oleh mereka yang paling dekat dengan proses bisnis harian.
Mahasiswa Program Studi Sejarah, Guntur Ega Pratama, yang juga anggota aktif BEM, didapuk sebagai pemateri utama. Kehadiran mahasiswa sebagai pemateri menunjukkan adanya transfer pengetahuan antar generasi yang efektif, sekaligus menggarisbawahi peran aktif BEM sebagai agen perubahan, bukan sekadar pelaksana program seremonial.
Guntur Ega Pratama dalam materinya tidak hanya membahas estetika desain, tetapi juga menyentuh aspek fungsionalitas dan ekonomi. Secara teknis, model packaging yang mereka rekomendasikan untuk memberikan kesan premium namun tetap ringkas yaitu dengan ukuran 30x10x4 cm, dan bahan baku yang dipilih secara cermat, yaitu duplek 350 gram.
Pemilihan bahan Duplek 350 gram ini merupakan langkah strategis untuk menjamin kemasan memiliki kekuatan dan ketahanan yang baik, melindungi produk batik selama proses distribusi, dan memberikan first impression yang kokoh serta berkelas saat diterima oleh konsumen.
Tujuan akhir dari perubahan desain ini adalah mendorong produk Batik Ciprat Sambung Roso untuk tidak hanya laku di tingkat lokal, tetapi juga mampu bersaing di pameran nasional bahkan internasional.

Lebih dari sekadar pelatihan teknis tentang kertas dan ukuran, PM BEM Berdampak 2025 adalah sebuah investasi sosial. Dampak jangka panjang dari pengembangan kemasan ini jauh melampaui estetika produk, dengan kemasan yang elegan dan kekinian, produk yang dihasilkan dari kerja keras penyandang disabilitas akan dipandang sebagai komoditas berharga dengan nilai jual tinggi, bukan sekadar produk kerajinan tangan biasa.
Peningkatan citra produk ini secara langsung akan meningkatkan pendapatan SWP Sambung Roso, yang pada akhirnya akan kembali kepada anak-anak disabilitas, memperkuat semangat kemandirian mereka, dan menjamin keberlangsungan usaha. BEM Unipma Madiun melalui program ini, telah melakukan intervensi kritis yang esensial, mengatasi gap antara kualitas produksi dan strategi pemasaran.
Hal ini sejalan dengan temuan bahwa anak-anak difabel di Sambung Roso mampu menghasilkan karya yang unik dan diminati, namun memerlukan bantuan dalam strategi pemasaran modern, seperti yang tercermin dalam upaya-upaya peningkatan pemasaran digital sebelumnya.
Kolaborasi BEM, dosen dan masyarakat ini menjadi model ideal dalam Community Governance, di mana institusi pendidikan berperan aktif menggunakan sumber daya intelektualnya untuk memecahkan masalah praktis di lapangan, memastikan bahwa semangat mandiri yang telah berhasil ditanamkan pada para difabel dapat berkelanjutan dan benar-benar berdaya saing di pasar yang sesungguhnya.
Program ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran mendalam untuk tidak hanya menciptakan lulusan Unipma Madiun, tetapi juga mengemas harapan dan masa depan yang lebih inklusif bagi komunitas di sekitarnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

