Advertisement
Indonesia Positif

BEM Berdampak Unipma 2025 Gelar Pelatihan Alat Pencampur Warna di Batik Ciprat Sambung Roso

Dalam dunia seni rupa dan kerajinan, kreativitas tidak hanya berhenti pada ide dan keterampilan tangan, tetapi juga pada kemampuan mengolah warna dengan tepat.

TIMES Indonesia,
BEM Berdampak Unipma 2025 Gelar Pelatihan Alat Pencampur Warna di Batik Ciprat Sambung Roso
Pelatihan Alat Pencampur Warna di Batik Ciprat Sambung Roso. (Foto: Humas UNIPMA for TIMES Indonesia).
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MAGETAN Dalam dunia seni rupa dan kerajinan, kreativitas tidak hanya berhenti pada ide dan keterampilan tangan, tetapi juga pada kemampuan mengolah warna dengan tepat. Menyadari pentingnya pemahaman teknik pencampuran warna bagi para pelaku seni, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unipma Madiun (Universitas PGRI Madiun) berkolaborasi dengan dosen pendamping, melaksanakan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat (PM) BEM Berdampak 2025. Program ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kegiatan ini dilaksanakan pada 17 Oktober 2025 di Balai Desa Simbatan, Magetan. 

Acara ini dihadiri Dosen pendamping, mahasiswa PM BEM Unipma 2025, pendamping dari SWP Batik Ciprat Sambung Roso berjumlah 5 orang, serta anak-anak penyandang disabilitas ringan berjumlah 10 anak yang selama ini aktif dalam proses produksi Batik Ciprat. 

Advertisement

Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengenal dan mempraktikkan cara penggunaan alat pencampuran warna tersebut. 

Batik Ciprat Sambung Roso, merupakan karya seni autentik dari anak-anak disabilitas intelektual dan rungu di bawah naungan Sheltered Workshop Peduli (SWP) Sambung Roso.

Alat-Pencampur-Warna.jpg

Setiap cipratan warna di atas kain mencerminkan kemandirian, semangat, dan ekspresi jiwa yang murni. Namun, proses pewarnaan yang tidak seragam kerap menjadi kendala dalam meningkatkan nilai estetika dan hasil produksi yang kurang sesuai. 

Melalui pelatihan ini, mahasiswa BEM Unipma Madiun berupaya membantu para perajin agar dapat menghasilkan warna yang konsisten dan harmonis pada saat proses produksi batik ciprat.

Advertisement

Program ini menjadi bentuk nyata sinergi antara akademisi dan masyarakat, khususnya dalam memperkuat kemampuan teknis dan estetika karya anak-anak disabilitas.

Diharapkan, melalui penguasaan alat dan teknik pencampuran warna yang lebih baik, produk Batik Ciprat Sambung Roso mampu tampil semakin berwarna, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di pasar nasional hingga internasional.

Tidak sekadar pelatihan dan penggunaan warna , kegiatan PM BEM Berdampak 2025 bertema “Eksplorasi Warna, Cipta Karya Tanpa Batas” menjadi sebuah investasi sosial yang bermakna. 

Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan cara menggunakan alat pencampuran warna, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya estetika, konsistensi warna, dan profesionalisme dalam menghasilkan karya seni batik yang bernilai tinggi.

Dampak jangka panjang dari penguasaan teknik pencampuran warna ini melampaui aspek artistik semata. 

Batik-Ciprat-Sambung-Roso.jpg

Dengan pemahaman yang baik terhadap kombinasi warna dan penggunaan alat pencampur yang tepat, para perajin Batik Ciprat Sambung Roso—yang sebagian besar merupakan anak-anak penyandang disabilitas intelektual dan rungu di bawah naungan Sheltered Workshop Peduli (SWP) Sambung Roso)—akan mampu menghadirkan karya dengan kualitas visual yang lebih kuat dan menarik. 

Batik yang dihasilkan tidak lagi hanya dilihat sebagai produk kerajinan tangan, melainkan sebagai hasil karya seni yang bernilai tinggi dan berdaya saing di pasar premium.

Peningkatan kualitas warna ini secara langsung berdampak pada peningkatan citra dan nilai jual produk Batik Ciprat, sehingga dapat menambah pendapatan bagi SWP Sambung Roso. 

Lebih dari itu, manfaatnya akan kembali kepada para penyandang disabilitas, memperkuat semangat kemandirian dan kepercayaan diri mereka untuk terus berkarya. Melalui pelatihan ini, BEM Unipma Madiun melakukan intervensi yang strategis—menjembatani kesenjangan antara kemampuan produksi dan strategi peningkatan kualitas visual produk yang menjadi kunci dalam pemasaran modern.

Dengan adanya pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi menjadi awal dari proses pemberdayaan berkelanjutan. 

Dengan penguasaan dan penggunaan alat yang tepat, para perajin Batik Ciprat diharapkan dapat menghasilkan karya yang semakin berwarna, konsisten, dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas. 

Selain itu, diharapkan pula agar semangat kolaborasi dan inklusivitas yang terbangun dalam program ini terus dijaga, sehingga SWP Sambung Roso dapat berkembang menjadi pusat kreativitas yang tidak hanya menghasilkan batik indah, tetapi juga menebarkan inspirasi tentang kemandirian, kesetaraan, dan keberdayaan difabel dalam berkarya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

S
PenulisSuciati (CR-219) Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia