Advertisement
Indonesia Positif

Akpol Semarang Lahirkan Pemimpin Berempati, Taruna Didorong Terjun Bantu Pengentasan Kemiskinan

Akpol Semarang menerapkan model pembelajaran berbasis proyek sosial. Taruna dilatih turun langsung ke masyarakat untuk membantu pengentasan kemiskinan melalui kolaborasi lintas sektor.

TIMES Indonesia,
Akpol Semarang Lahirkan Pemimpin Berempati, Taruna Didorong Terjun Bantu Pengentasan Kemiskinan
Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang mulai menerapkan model pembelajaran baru berbasis Project-Based Learning (PBL). (FOTO: Akpol Semarang)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JAKARTA Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang mulai menerapkan model pembelajaran baru berbasis Project-Based Learning (PBL) yang mendorong taruna terlibat langsung dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari proyek perubahan bertajuk Transformasi Pendidikan Kepemimpinan Taruna Akpol Berbasis Kolaborasi untuk Pengentasan Kemiskinan Berkelanjutan yang digagas oleh tenaga pendidik Akpol, Nugraha Aristawarman, S.I.K., M.M.

Proyek ini bertujuan membentuk calon perwira Polri yang tidak hanya unggul dalam aspek hukum dan kedisiplinan, tetapi juga memiliki empati sosial yang kuat. Nugraha menilai, akar dari banyak persoalan keamanan di masyarakat kerap bersumber dari ketimpangan sosial dan ekonomi.

Advertisement

“Selama ini kita kuat di bidang penegakan hukum, tapi masih kurang menyentuh persoalan sosial masyarakat. Padahal akar masalah keamanan sering kali berawal dari kemiskinan,” ujarnya di kampus Akpol, Senin (3/11/2025).

Ia menambahkan, melalui pendekatan PBL, taruna Akpol tidak hanya belajar teori kepemimpinan di ruang kelas, tetapi juga turun langsung ke lapangan. Mereka mendampingi petani, pelaku usaha kecil, hingga kelompok perempuan desa dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal. Dalam setiap kegiatan, taruna dilatih untuk memahami dinamika sosial dan berkolaborasi dengan berbagai pihak lintas sektor.

Nugraha menyebut, proyek ini melibatkan banyak instansi dan lembaga, mulai dari Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pertanian, lembaga perbankan, akademisi, hingga kelompok masyarakat sipil, melalui pendekatan multi-helix collaboration. “Taruna belajar bekerja lintas disiplin dan memahami kebijakan publik. Ini latihan kepemimpinan sekaligus latihan empati,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tingkat kemiskinan ekstrem nasional pada Maret 2025 turun menjadi 0,85 persen atau sekitar 2,38 juta orang. Namun kesenjangan masih tinggi antarwilayah. Di Jawa Tengah, tempat Akpol berada, angka kemiskinan mencapai 9,48 persen dengan lebih dari 3,3 juta penduduk hidup di bawah garis sejahtera. Menurut Nugraha, kondisi itu menjadi panggilan moral bagi Polri untuk hadir dalam upaya pengentasan kemiskinan.

“Angka-angka itu bukan sekadar data. Di baliknya ada wajah-wajah manusia yang berjuang bertahan hidup. Kepemimpinan sejati harus hadir di sana,” tuturnya.

Advertisement

Gubernur Akpol, Irjen Pol Midi Siswoko, S.I.K., menyambut baik inovasi tersebut dan menilai pendekatan ini penting untuk membangun karakter pemimpin Polri masa depan. “Akpol bukan hanya tempat melahirkan penegak hukum, tetapi juga pemimpin bangsa. Kepemimpinan sejati tumbuh dari empati dan keberanian memahami kesulitan orang lain,” tegasnya.

Midi berharap inisiatif ini dapat menjadi arah baru dalam pendidikan kepolisian, di mana keamanan dan kesejahteraan berjalan beriringan. “Menjaga ketertiban juga berarti membantu masyarakat keluar dari lingkar kemiskinan,” ujarnya.

Melalui model ini, para taruna Akpol belajar bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal memberi perintah, tetapi juga tentang mendengar dan memahami. Nugraha menegaskan, transformasi pendidikan ini diharapkan melahirkan perwira Polri yang lebih manusiawi dan peka terhadap kondisi sosial.

“Kalau polisi memahami ekonomi rakyat, maka setiap kebijakan dan tindakan mereka akan lebih berkeadilan,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia