Pensiun Jadi Perangkat Desa, Fatkurrohman Bangun Sukses Baru dari Kandang Ayam Petelur
Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai perangkat Desa Tinggar, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, Fatkurrohman (60) memutuskan untuk tidak berdiam diri saat masa pensiun tiba.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
JOMBANG – Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai perangkat Desa Tinggar, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, Fatkurrohman (60) memutuskan untuk tidak berdiam diri saat masa pensiun tiba.
Alih-alih menikmati waktu luang, ia justru menapaki jalan baru sebagai peternak ayam petelur dan kini dikenal sebagai salah satu peternak sukses di desanya.
Lima bulan setelah purna tugas, Fatkurrohman mulai menekuni usaha peternakan dari nol. Dengan modal awal sekitar Rp150 juta hasil tabungan pribadi dan tambahan pinjaman dari keluarga, ia membangun kandang sederhana di lahan belakang rumahnya.
“Awalnya cuma bisa menampung seribu ekor ayam. Sekarang, alhamdulillah sudah berkembang jadi empat ribu ekor,” tutur Fatkurrohman saat ditemui di kandangnya.
Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan peternakan, semangat belajar Fatkurrohman tidak luntur. Ia banyak menimba ilmu dari keluarga di Kediri yang lebih dulu menekuni usaha serupa. Cara belajarnya sederhana namun efektif, amati, tiru, dan modifikasi.
“Belajar dari pengalaman orang lain, terus dicoba sendiri. Kalau gagal, diperbaiki. Yang penting tekun,” ujarnya sambil tersenyum.
Kini, ayam jenis CP merah menjadi sumber penghidupan barunya. Dari sekitar 3.000 ekor ayam produktif, setiap hari ia bisa memanen 142–144 kilogram telur. Telur-telur itu dibeli tengkulak dari berbagai wilayah, seperti Kecamatan Gudo dan Megaluh.
Harga telur di tingkat kandang saat ini berkisar Rp26 ribu per kilogram, yang menurutnya cukup menyejukkan hati para peternak. “Kalau harga segitu, peternak masih bisa untung, asal harga pakan tidak naik,” katanya.
Kreatif Cegah Bau, Tetap Ramah Lingkungan

Salah satu kunci keberhasilan Fatkurrohman adalah kepeduliannya terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekitar. Ia rutin menyemprot kandang dengan cairan fermentasi EM4seminggu sekali untuk mengurai limbah dan mencegah bau tak sedap.
“Kalau tidak disemprot, baunya bisa menyengat. Tapi dengan cairan ini, udara di sekitar kandang tetap segar,” jelasnya.
Langkah sederhana itu membuat kandangnya tetap bersih dan tidak mengganggu warga sekitar, sekaligus menjadi contoh bagi peternak lain di desanya.
Hadapi Kenaikan Harga Jagung dengan Keteguhan
Di balik kesuksesannya, Fatkurrohman tetap harus menghadapi tantangan berat. Harga pakan, terutama jagung, terus melambung. Dari semula Rp5.500 per kilogram kini mencapai Rp7.000 atau lebih di tingkat gudang.
“Kalau pakan naik, otomatis laba ikut turun. Tapi selama masih bisa bertahan, saya tetap jalan terus,” ungkapnya tegar.
Ia berharap pemerintah atau lembaga terkait dapat membentuk koperasi khusus peternak yang mampu menyediakan jagung dengan harga stabil dan terjangkau.
“Kalau ada koperasi yang bisa bantu suplai pakan, kami para peternak pasti lebih tenang,” harapnya.
Dari Desa, untuk Desa
Kini, dari kandang sederhana di ujung Desa Tinggar, Fatkurrohman telah menorehkan kisah inspiratif. Ia membuktikan bahwa masa pensiun bukan akhir dari produktivitas, melainkan awal dari babak baru yang penuh peluang.
Tak hanya menyejahterakan keluarga, usahanya juga menggerakkan ekonomi warga sekitar. Sejumlah tetangga kini ikut membantunya dalam pengelolaan kandang dan distribusi telur.
“Yang penting niat, sabar, dan mau belajar. Insyaallah ada hasilnya,” pungkasnya penuh semangat.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


