Pameran “Seni Lupa” Ruang Apresiasi Mahasiswa Seni Rupa UM
Pameran tugas akhir mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang itu menampilkan puluhan karya lukis yang mencerminkan keragaman gagasan serta proses kreatif.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Nuansa kreatif memenuhi Galeri Raos saat pameran “Seni Lupa Art Exhibition” resmi dibuka, Sabtu (8/11/2025).
Pameran tugas akhir mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang itu menampilkan puluhan karya lukis yang mencerminkan keragaman gagasan serta proses kreatif para mahasiswa tingkat akhir.
Pameran dibuka untuk umum pada 8–13 November 2025. Selama lima hari, pengunjung dapat menikmati ragam karya yang dihasilkan sebagai bagian dari tugas akhir akademik.
Ketua pelaksana, Aditiya Eka Putra, mengatakan “Seni Lupa” merupakan pameran perdana mahasiswa angkatan 2021. Nama tersebut dipilih sebagai permainan kata dari “Seni Rupa”.
“Banyak dari kami yang sempat ‘lupa’ tenggat tugas akhir sehingga harus lembur. Tapi justru dari situ muncul semangat baru untuk menyelesaikan karya terbaik,” ujarnya.
Setiap peserta menampilkan enam karya dengan tema yang beragam, mulai dari lanskap pantai, karakter zodiak Leo, hingga kritik sosial.

Aditiya sendiri menghadirkan seri lukisan bertema “Eksploitasi Hewan”, yang menyoroti ketamakan manusia terhadap satwa.
Ia berharap pameran ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi publik, tetapi juga bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa seni rupa.
“Kami ingin karya-karya ini bisa diapresiasi masyarakat, seniman, dan dosen. Proses melukis itu panjang, jadi kami berharap pesan di balik setiap karya benar-benar tersampaikan,” kata Aditiya.
Menurutnya, “Seni Lupa” diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan.
Salah satu pengunjung, Felix, mengaku terpikat pada karya bertema eksploitasi hewan.
“Begitu masuk, saya langsung tertarik pada lukisan tentang keserakahan manusia terhadap hewan. Detilnya bagus, warnanya berani dan seperti menyala,” ujarnya. (*)
Pewarta: Natasa Ayang Sauqina
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

