Advertisement
Indonesia Positif

Inspiratif! Mahasiswa Tuli Asal Gresik Sulap Barang Bekas Jadi Karya Seni

Dengan ketelatenan dan imajinasi, barang-barang yang sebelumnya dianggap tak berguna disulap menjadi karya estetik, unik, dan ramah lingkungan.

TIMES Indonesia,
Inspiratif! Mahasiswa Tuli Asal Gresik Sulap Barang Bekas Jadi Karya Seni
Dua mahasiswa Tuli asal Kabupaten Gresik Jawa Timur saat menyulap barang bekas jadi karya seni. (Foto: Akmal/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

GRESIK  Dua mahasiswa tuli asal Kabupaten Gresik, Jawa Timur membuktikan kreativitas tak mengenal batas dengan mengubah barang bekas menjadi karya bernilai seni tinggi.

Mereka adalah Aisyah Grisseeta Azzahra, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Gresik, dan Eidelweis Syahida Ayazhi, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Advertisement

Di tengah keterbatasan pendengaran, mereka berdua mulai mengasah kreativitas. Gelas dan botol bekas diubah menjadi pot tanaman serta hiasan lucu bernilai seni tinggi. 

Dengan ketelatenan dan imajinasi, barang-barang yang sebelumnya dianggap tak berguna disulap menjadi karya estetik, unik, dan ramah lingkungan. Latar belakang Ayazhi di bidang seni rupa berpadu harmonis dengan minat Aisyah pada kreativitas dan teknologi.

"Tak hanya bernilai ekonomi, tapi pesannya adalah pentingnya daur ulang," kata Aisyah dan Ayazhi dengan bahasa isyarat pada Jumat (9/1/2026).

Ke depan, mereka berharap hasil karya daur ulang mereka dapat dipasarkan secara online serta dikenalkan langsung kepada masyarakat melalui kegiatan Car Free Day (CFD). "Nanti akan kami jual disana," ujarnya.

Dukungan keluarga menjadi fondasi penting. Andayani, orang tua Ayazhi yang sehari-hari berprofesi sebagai penjaga kantin sekolah, mengaku awalnya melihat putrinya hanya membantu jualan dan menghabiskan waktu dengan ponsel selama liburan.

Advertisement

“Kami terus memberi masukan dan mendukung agar Ayazhi dan temannya memiliki aktivitas yang lebih produktif,” tutur Andayani. 

Dia mengaku bangga melihat semangat putrinya dalam berkarya. "Semoga mereka bisa terus menciptakan karya baru, menambah wawasan tentang daur ulang, dan melatih imajinasi seni," ucapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Akmalul Azmi
PenulisAkmalul AzmiSarjana Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura (2017). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia