Advertisement
Indonesia Positif

Tak Sekadar Wisata, Omah Kebun Bumiaji Ubah Cara Belajar Pertanian Indonesia

Di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan, sebuah inisiatif eduwisata berbasis pertanian ramah lingkungan lahir dari Kota Batu.

TIMES Indonesia,
Tak Sekadar Wisata, Omah Kebun Bumiaji Ubah Cara Belajar Pertanian Indonesia
Dr. Ir. Emma Budi Sulistiarini, ST.,MT.,IPM., Dosen Teknik (dan manajemen) Industri, Fakultas Teknik, Universitas Widya Gama Malang.
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan, sebuah inisiatif eduwisata berbasis pertanian ramah lingkungan lahir dari Kota Batu.

Omah Kebun Bumiaji (OKBA) hadir sebagai model integrasi pendidikan, wisata, dan pertanian organik yang dirancang untuk memberikan dampak ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
Konsep OKBA dikembangkan melalui penyusunan grand desain kawasan eduwisata yang menggabungkan praktik pertanian organik dengan pendekatan wisata edukatif.

Advertisement

Inisiatif ini tidak hanya menawarkan destinasi wisata alternatif, tetapi juga ruang belajar terbuka bagi pelajar, keluarga, dan masyarakat umum tentang pentingnya pertanian berkelanjutan.

Wisata yang Mengedukasi, Bukan Sekadar Menghibur

Berbeda dari kebun wisata konvensional, Omah Kebun Bumiaji dirancang sebagai laboratorium alam. Pengunjung diajak terlibat langsung dalam aktivitas pertanian ramah lingkungan, mulai dari pengenalan pupuk organik, sistem pertanian terpadu, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Pengembangan kawasan ini dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan akademisi, petani, pemerintah daerah, masyarakat, hingga pelajar. Proses perencanaan dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD), sehingga desain yang dihasilkan benar-benar berbasis kebutuhan dan potensi lokal.

Enam Zona Utama dalam Satu Kawasan Terpadu

Dalam grand desain yang disusun, kawasan Omah Kebun Bumiaji dibagi ke dalam enam blok utama yang saling terintegrasi:

  • Edutainment, ruang belajar interaktif yang menggabungkan edukasi dan hiburan
  • Vantage Point, titik pandang untuk menikmati lanskap alam sekaligus memahami ekosistem
  • Playground, area bermain edukatif bagi anak-anak
  • Area Edukasi Pertanian, pusat pembelajaran pertanian berkelanjutan
  • Area Ternak, peternakan edukatif berbasis ramah lingkungan
  • Gazebo, ruang istirahat sekaligus area diskusi dan kegiatan komunitas

Selain itu, kawasan ini juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti welcome area, service area, kebun petik, pusat oleh-oleh produk pertanian, hingga area parkir, yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.

Advertisement

Dorong Ekonomi Lokal dan Kesadaran Lingkungan

Keberadaan Omah Kebun Bumiaji diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani lokal. Produk pertanian organik dan hasil olahannya dipromosikan langsung kepada wisatawan, membuka peluang pasar sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

Di sisi lain, konsep eduwisata ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan yang efektif. Melalui pengalaman langsung di lapangan, pengunjung—khususnya pelajar—dapat memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam dan mengadopsi pola hidup yang lebih berkelanjutan.

Contoh Nyata Pembangunan Berkelanjutan

Dengan mengintegrasikan aspek pendidikan, pariwisata, dan pertanian ramah lingkungan, Omah Kebun Bumiaji diproyeksikan menjadi model pengembangan eduwisata berkelanjutan di Indonesia. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Sustainable Development, yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial.

Ke depan, Omah Kebun Bumiaji tidak hanya menjadi destinasi wisata edukatif, tetapi juga bukti bahwa inovasi berbasis kolaborasi dan potensi lokal mampu menjawab tantangan lingkungan dan pembangunan masa depan. (*)


*) Penulis: Dr. Ir. Emma Budi Sulistiarini, ST.,MT.,IPM., Dosen Teknik (dan manajemen) Industri, Fakultas Teknik, Universitas Widya Gama Malang.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

S
PenulisSantoso (CR-058) Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia