Dukung Ketahanan Pangan, Urban Farming SLB Argasari Lestari Jadi Solusi Edukatif di Tengah Keterbatasan Lahan
Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap krisis pangan, perubahan iklim, serta menyempitnya lahan hijau di kawasan perkotaan, isu ketahanan pangan kini tidak lagi sekadar wacana pemerintah atau akademisi.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
TASIKMALAYA – Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap krisis pangan, perubahan iklim, serta menyempitnya lahan hijau di kawasan perkotaan, isu ketahanan pangan kini tidak lagi sekadar wacana pemerintah atau akademisi.
Ketahanan pangan telah menjadi tanggung jawab bersama dan menariknya, benih kesadaran itu kini tumbuh dari ruang yang mungkin kerap luput dari sorotan halaman sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB).
Di sudut halaman SLB ABC Argasari Lestari Tasikmalaya, Jawa Barat, deretan pot dan polybag tertata rapi. Tanaman tomat, kangkung, dan cabai tumbuh hijau dan terawat.
Tidak ada alat pertanian modern atau lahan luas membentang. Namun dari ruang sederhana itulah, pembelajaran besar tentang kemandirian pangan, cinta lingkungan, dan harga diri manusia ditanamkan langsung oleh tangan-tangan kecil para siswa berkebutuhan khusus.
Program berkebun yang dijalankan SLB ABC Lestari Tasikmalaya bukan sekadar kegiatan tambahan sekolah. Ia adalah media pembelajaran kontekstual, ruang terapi edukatif, sekaligus manifestasi nyata urban farming dalam dunia pendidikan inklusif.
Urban farming atau pertanian perkotaan kini semakin relevan di tengah keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan pangan sehat.
Konsep ini mendorong pemanfaatan ruang sempit pekarangan rumah, atap bangunan, hingga halaman sekolah-untuk menghasilkan bahan pangan secara mandiri dan berkelanjutan.
SLB ABC Lestari Tasikmalaya menerjemahkan konsep tersebut ke dalam praktik nyata. Dengan memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan sekolah, mereka menciptakan kebun sederhana yang produktif.
Pot dan polybag dipilih sebagai media tanam agar mudah dirawat, aman bagi siswa, dan fleksibel dipindahkan.
Lebih dari sekadar menanam sayuran, kebun sekolah ini menjadi simbol bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari langkah kecil, bahkan dari institusi pendidikan yang melayani siswa berkebutuhan khusus.
Bagi siswa berkebutuhan khusus, pembelajaran abstrak sering kali menjadi tantangan. Oleh karena itu, pendekatan berbasis pengalaman langsung menjadi sangat penting.
Para siswa tidak hanya mendengar penjelasan guru, tetapi juga menyentuh tanah, menanam bibit, menyiram tanaman, mengamati perubahan setiap hari, hingga merasakan kegembiraan saat panen tiba.
Aktivitas ini memberikan pengalaman belajar yang utuh melibatkan pancaindra, emosi, dan gerak tubuh. Pembelajaran semacam ini terbukti lebih mudah dipahami dan diingat oleh siswa SLB.
Kepala SLB ABC Lestari Tasikmalaya, Aris Rahman, M.Pd, menjelaskan bahwa program berkebun sengaja dirancang sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
“Kami ingin anak-anak belajar dari hal yang nyata dan bisa mereka rasakan langsung. Berkebun mengajarkan proses, kesabaran, dan tanggung jawab. Ini bukan hanya tentang menanam sayur, tetapi menanam nilai kehidupan,” ujar Aris Rahman. Senin (9/2/2026) pagi.
Menurutnya, lingkungan sekolah adalah ruang belajar yang sangat kaya jika dimanfaatkan secara kreatif dan humanis.
Kegiatan berkebun di SLB ABC Lestari Tasikmalaya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa. Guru berperan sebagai pendamping, bukan pengarah yang menekan.
Setiap siswa diberi peran sesuai kapasitasnya ada yang menyiram tanaman,ada yang membersihkan daun kering, ada yang memindahkan bibit serta ada pula yang memanen hasil kebun.
Pendekatan ini memungkinkan seluruh siswa terlibat aktif tanpa merasa terbebani. Secara fisik, kegiatan berkebun melatih motorik halus dan kasar. Secara psikologis, ia meningkatkan fokus, kesabaran, dan rasa percaya diri. Saat tanaman tumbuh subur, kebanggaan terpancar jelas dari wajah para siswa.
“Anak-anak terlihat lebih percaya diri ketika melihat hasil kebunnya tumbuh. Mereka merasa mampu dan dihargai karena hasilnya nyata,” tambah Aris Rahman.

Bagi siswa berkebutuhan khusus, pengalaman keberhasilan sederhana seperti ini memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosi dan harga diri.
Program berkebun ini juga menjadi pintu masuk penting untuk mengenalkan pangan sehat dan gizi seimbang. Melalui kebun sekolah, siswa diajak memahami bahwa sayuran segar memiliki manfaat besar bagi kesehatan tubuh.
Dengan bahasa sederhana, guru menjelaskan manfaat sayuran menjaga daya tahan tubuh,
membantu pertumbuhan, memberi energi, dan menjaga kesehatan pencernaan.
Sayuran yang ditanam tidak menggunakan bahan kimia berbahaya, sehingga aman dan sehat untuk dikonsumsi. Edukasi ini sangat penting, mengingat pola makan anak-anak termasuk siswa berkebutuhan khusus masih kerap didominasi makanan instan.
Hasil panen kebun sekolah biasanya dimanfaatkan untuk kegiatan memasak sederhana atau dibawa pulang oleh siswa. Dengan begitu, pembelajaran tidak berhenti di sekolah, tetapi berlanjut ke rumah dan lingkungan keluarga.
Ketahanan pangan sering kali dipahami sebagai isu besar yang hanya bisa ditangani oleh negara. Namun melalui program berkebun di sekolah, SLB ABC Lestari Tasikmalaya menunjukkan bahwa ketahanan pangan juga dapat dibangun dari pendidikan dasar.
Siswa dikenalkan pada gagasan bahwa pangan bisa ditanam sendiri, alam perlu dirawat dan manusia tidak sepenuhnya bergantung pada sistem komersial.
Kesadaran ini menjadi fondasi penting bagi generasi masa depan termasuk siswa berkebutuhan khusus agar tumbuh sebagai individu yang mandiri dan peduli lingkungan.
Bagi siswa SLB, keterampilan hidup (life skill) memiliki peran yang sangat krusial. Berkebun bukan hanya kegiatan edukatif, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan keterampilan dasar bercocok tanam, siswa memiliki bekal untuk membantu kebutuhan rumah tangga, mengisi waktu dengan aktivitas produktif, bahkan membuka peluang usaha kecil di masa depan.
Keterampilan ini fleksibel, adaptif, dan dapat disesuaikan dengan berbagai tingkat kemampuan. Inilah yang membuat berkebun menjadi salah satu life skill paling inklusif.
Lebih dari sekadar hasil panen, program berkebun di SLB ABC Lestari Tasikmalaya menanamkan nilai-nilai karakter secara alami. Siswa belajar disiplin melalui rutinitas menyiram tanaman, tanggung jawab terhadap tanaman yang dirawat, kerja sama dalam mengelola kebun serta kesabaran menunggu hasil.
Nilai-nilai ini tumbuh bukan lewat ceramah, tetapi lewat pengalaman langsung. Setiap tanaman menjadi “guru” yang mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan perawatan, konsistensi, dan perhatian.
Melalui program berkebun, SLB ABC Lestari Tasikmalaya tidak hanya mendidik siswa, tetapi juga menyampaikan pesan kuat kepada masyarakat: pendidikan inklusif mampu berkontribusi nyata terhadap isu global seperti ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Sekolah hadir sebagai agen perubahan sosial menghubungkan dunia pendidikan, keluarga, dan lingkungan sekitar. Dari halaman sekolah yang sederhana, tumbuh kesadaran kolektif tentang pentingnya pangan sehat dan lingkungan lestari.
Program ini juga menantang stigma terhadap siswa berkebutuhan khusus. Mereka bukan objek belas kasihan, melainkan subjek aktif yang mampu menghasilkan, merawat, dan memberi manfaat.
Ke depan, SLB ABC Lestari Tasikmalaya berharap program berkebun ini dapat terus berkembang. Baik melalui penambahan jenis tanaman, integrasi dengan mata pelajaran lain, maupun kolaborasi dengan orang tua dan komunitas.
Model pembelajaran ini sangat potensial direplikasi di sekolah lain baik SLB maupun sekolah inklusif karena biaya relatif rendah, mudah diterapkan dan berdampak langsung bagi siswa.
Dari halaman sekolah yang sederhana, SLB ABC Lestari Tasikmalaya telah membuktikan bahwa pendidikan bisa tumbuh hijau, produktif, dan penuh makna.
Dengan menanam sayuran, para siswa tidak hanya merawat tanaman, tetapi juga menanam harapan, kepercayaan diri, dan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi diri mereka sendiri, keluarga, dan masyarakat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

