Budaya Adab Bersalaman, Tumbuhkan Karakter Hormat pada Siswa SLB ABC Argasari Lestari Kota Tasikmalaya
Sejumlah siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tampak berderet memasuki lingkungan sekolah. Dengan ritme masing-masing, mereka menghampiri guru-guru yang telah bersiap di halaman sekolah.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
TASIKMALAYA – Sejumlah siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tampak berderet memasuki lingkungan sekolah. Dengan ritme masing-masing, mereka menghampiri guru-guru yang telah bersiap di halaman sekolah.
Tangan kecil terulur, senyum merekah, dan sapaan hangat mengalir perlahan. Di momen inilah nilai adab, hormat, dan kemanusiaan ditanamkan secara nyata.
Setiap pagi di SLB ABC Argasari Lestari Kota Tasikmalaya, proses pendidikan tidak dimulai dari buku pelajaran atau papan tulis. Ia dimulai dari sebuah kebiasaan sederhana namun penuh makna yakni bersalaman dengan guru.
Budaya adab bersalaman menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di SLB ABC Argasari Lestari. Ia bukan sekadar rutinitas, melainkan metode pendidikan karakter yang hidup.
Sebagai sekolah luar biasa, SLB ABC Argasari Lestari melayani siswa dengan beragam kebutuhan khusus. Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pendidikan yang digunakan menempatkan hubungan emosional sebagai fondasi utama.
Sentuhan tangan dalam salaman, tatapan mata, dan senyum guru menjadi bahasa nonverbal yang sangat penting bagi anak-anak ABK. Interaksi ini membantu siswa merasa aman, diterima, dan siap mengikuti pembelajaran.
Budaya adab bersalaman dilaksanakan setiap hari. Guru berdiri menyambut siswa, bukan untuk mengawasi, melainkan untuk menyambut. Anak-anak belajar mengantre, mengenali guru, dan berani melakukan kontak sosial.
Bagi sebagian siswa, proses ini menjadi latihan motorik dan sensorik. Bagi yang lain, ia menjadi sarana melatih keberanian dan pengendalian emosi. Semua dijalani tanpa paksaan, dengan pendekatan yang ramah dan penuh kesabaran.
Pada TIMES Indonesia, Kepala SLB ABC Argasari Lestari, Aris Rahman MPd, menjelaskan bahwa budaya adab bersalaman merupakan bagian dari visi besar sekolah dalam membangun karakter siswa ABK.
“Kami meyakini bahwa pendidikan karakter tidak harus dimulai dari program besar. Justru dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari, seperti bersalaman, anak-anak belajar tentang hormat, sopan santun, dan rasa aman,” ujar Aris Rahman, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, anak berkebutuhan khusus membutuhkan pembiasaan yang konsisten dan nyata. Nilai adab tidak cukup diajarkan secara verbal, tetapi harus dialami langsung oleh siswa.
“Salaman ini bukan hanya untuk menghormati guru, tapi juga untuk membangun kedekatan emosional. Anak merasa diperhatikan, diterima, dan itu sangat penting bagi kesiapan mereka belajar,” tambahnya.
Budaya adab bersalaman di SLB ABC Argasari Lestari bertujuan menanamkan nilai-nilai karakter dasar, di antaranya hormat kepada guru dan orang lain, sopan santun dalam interaksi social, empati dan kepedulian, disiplin dan keteraturan dan kepercayaan diri anak ABK.
Nilai-nilai ini menjadi bekal penting bagi siswa untuk berinteraksi di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.
Dalam konteks pendidikan nasional, budaya bersalaman sejalan dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi berakhlak mulia dan gotong royong.
Dari sisi psikologi, sentuhan positif seperti berjabat tangan terbukti dapa mengurangi kecemasan anak, memberikan rasa aman, memperkuat ikatan emosional serta dapat membantu regulasi emosi.
Bagi anak berkebutuhan khusus, sentuhan yang aman dan konsisten menjadi media komunikasi yang sangat efektif.
Guru-guru di SLB ABC Argasari Lestari tidak hanya mengajarkan adab, tetapi mempraktikkannya langsung. Mereka menyambut siswa dengan sikap ramah, menyesuaikan diri dengan kondisi anak, dan memberikan respons yang penuh empati.
Ada guru yang menunduk agar sejajar dengan siswa, ada yang memberi pujian sederhana, dan ada pula yang menenangkan anak yang sedang gelisah. Semua dilakukan sebagai bagian dari pendidikan berbasis kasih sayang.
Budaya adab bersalaman tidak hanya dirasakan manfaatnya di sekolah, tetapi juga di rumah. Salah seorang orang tua siswa mengaku melihat perubahan positif pada anaknya.
“Sekarang anak saya jadi lebih berani menyapa dan bersalaman, bukan hanya dengan guru, tapi juga dengan keluarga di rumah. Sikapnya lebih tenang dan percaya diri,” ungkap salah satu orang tua siswa SLB ABC Argasari Lestari.
Ia menilai kebiasaan sederhana di sekolah memberikan dampak besar terhadap perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Sebagai orang tua, kami merasa terbantu. Anak tidak hanya belajar pelajaran, tapi juga belajar adab,” tambahnya.
Pihak sekolah secara aktif mengajak orang tua untuk menerapkan pembiasaan adab yang sama di rumah. Dengan demikian, nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tidak terputus, melainkan berlanjut dalam lingkungan keluarga.
Kolaborasi ini menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter bagi anak berkebutuhan khusus.
Budaya adab bersalaman membantu siswa ABK mengenal norma sosial sejak dini. Anak belajar bahwa menyapa, menghormati, dan bersikap sopan adalah bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.
Dengan bekal ini, siswa diharapkan mampu beradaptasi lebih baik ketika berada di luar lingkungan sekolah.
Sebagai kota yang dikenal menjunjung tinggi nilai religius dan kearifan lokal, Tasikmalaya memiliki tradisi adab yang kuat. Budaya bersalaman di SLB ABC Argasari Lestari selaras dengan nilai-nilai tersebut.
Sekolah menjadi ruang strategis untuk mewariskan budaya lokal kepada generasi muda, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Praktik budaya adab bersalaman di SLB ABC Argasari Lestari menjadi contoh bahwa pendidikan inklusif tidak hanya soal akses, tetapi juga soal pemuliaan martabat manusia.
Dari kebiasaan kecil yang konsisten, lahir perubahan besar dalam pembentukan karakter siswa.
Di SLB ABC Argasari Lestari Kota Tasikmalaya, setiap jabat tangan adalah awal pembelajaran. Dari salaman tumbuh rasa hormat, empati, dan kepercayaan diri.
Pendidikan sejati menurut Aris bukan hanya tentang kecerdasan akademik, tetapi tentang membentuk manusia yang beradab.
"Budaya adab bersalaman membuktikan bahwa pendidikan karakter bisa dimulai dari hal paling sederhana, namun memberi dampak yang mendalam dan berkelanjutan," pungkas Aris. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

