Advertisement
Indonesia Positif

Waspada 'Hidden Hunger' di Balik Kemeriahan Berbuka; Perspektif Keamanan Pangan

Memasuki bulan Ramadan 2026, fenomena berburu takjil kembali mendominasi ruang publik. Namun, di balik warna-warni minuman segar dan aroma gorengan yang menggoda, tersimpan tantangan besar mengenai pemenuhan nutrisi dan keamanan pangan yang sering terabai

TIMES Indonesia,
Waspada 'Hidden Hunger' di Balik Kemeriahan Berbuka; Perspektif Keamanan Pangan
Tatik Handayani, dosen Akafarma Sunan Giri Ponorogo. (Foto: Dok Pribadi for TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

PONOROGO Memasuki bulan Ramadan 2026, fenomena berburu takjil kembali mendominasi ruang publik. Namun, di balik warna-warni minuman segar dan aroma gorengan yang menggoda, tersimpan tantangan besar mengenai pemenuhan nutrisi dan keamanan pangan yang sering terabaikan oleh .asyarakat.

Menurut Tatik Handayani dosen Analis Akafarma Sunan Giri Ponorogo, secara biokimia, tubuh yang berpuasa selama lebih dari 13 jam mengalami fase katabolisme.

Advertisement

Mayoritas masyarakat cenderung memilih hidangan dengan Indeks Glikemik (IG) tinggi saat berbuka. Konsumsi gula sederhana (sirup dan pemanis buatan) secara masif saat perut kosong memicu lonjakan insulin mendadak. Dari sudut pandang analis, penggunaan pewarna non-pangan (seperti Rhodamin B pada sirup merah) masih menjadi ancaman laten di pasar-pasar kaget.

Gorengan yang dijual seringkali menggunakan minyak yang telah melewati titik asapnya (deep frying berulang), menghasilkan radikal bebas yang bersifat karsinogenik.

Estetika visual (warna cerah) lebih laku dibandingkan informasi nilai gizi. Ini adalah tantangan bagi edukasi publik. Jangan sampai masyarakat terjebak pada "kenyang sesaat" namun "lapar nutrisi" (hidden hunger).

"Masyarakat cenderung 'balas dendam' saat berbuka. Padahal, secara analisis kimia pangan, tubuh membutuhkan elektrolit dan serat kasar untuk mengembalikan homeostasis, bukan sekadar sirup fruktosa tinggi," ujar Tatik.

Untuk menjaga kualitas kesehatan selama Ramadan, mulailah dengan air mineral atau air kelapa yang mengandung elektrolit alami. Pilih kurma (mengandung serat) dibandingkan gorengan tepung terigu. Ramadan seharusnya menjadi momentum detoksifikasi biologis, bukan ajang penumpukan toksin akibat pemilihan makanan yang salah. (*)

Advertisement

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia