Memaknai Idul Fitri: Rektor UIN KHAS Jember Serukan Kembali ke Ketaatan Sejati
Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni menegaskan, Idul Fitri bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi harus menjadi titik balik menuju perubahan hidup yang lebih baik dan berkelanjutan.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
JEMBER – Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah dimaknai sebagai momen penting bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri setelah menjalani ibadah Ramadan selama satu bulan penuh.
Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni menegaskan, Idul Fitri bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi harus menjadi titik balik menuju perubahan hidup yang lebih baik dan berkelanjutan.
“'Id itu adalah hari ketika seseorang tidak lagi bermaksiat kepada Allah SWT,” ujar Prof. Hepni dalam refleksi Idul Fitri.
Ia menjelaskan, hakikat Idul Fitri adalah kembalinya manusia dari perilaku menyimpang menuju kepatuhan penuh terhadap ajaran Allah SWT.
“'Id merupakan ar-ruju’ minal mukhalafah ilal muwafaqah, yakni kembalinya manusia dari penyimpangan menuju ketaatan sepenuhnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ukuran kemenangan dalam Islam tidak terletak pada kemeriahan perayaan, melainkan pada tingkat ketakwaan yang mampu dipertahankan setelah Ramadan.
“Orang yang menang adalah mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, bertakwa, serta takut kepada Allah,” katanya, mengutip makna firman Ilahi.
Menurut Prof. Hepni, Ramadan merupakan proses pembinaan spiritual yang dilakukan melalui ibadah puasa dan salat malam secara konsisten.
Selama bulan suci tersebut, umat Islam menjalani proses penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs yang membentuk kualitas keimanan menjadi lebih baik.
“Melalui puasa dan ibadah malam Ramadan, seseorang mengalami pembersihan dosa hingga kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan,” ungkapnya.
Ia menyebut proses ini sebagai manajemen qalbu, yakni penguatan dimensi spiritual melalui pengendalian diri dan penghayatan ibadah secara mendalam.
Prof. Hepni juga mengingatkan bahwa keimanan dan keikhlasan menjadi kunci utama dalam meraih ampunan selama Ramadan, sebagaimana ditegaskan dalam hadis.
“Karena itu, Idul Fitri sejatinya adalah momentum lahir kembali secara spiritual, menjadi pribadi yang bersih dan lebih taat,” pungkasnya. (D)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

