Diplomasi Energi RI–Korsel: Nuklir dan Mineral Kritis Jadi Fokus Kerja Sama
Kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan di sektor nuklir hingga mineral kritis dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok energi bersih global.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
JAKARTA – Kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan di sektor nuklir hingga mineral kritis dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok energi bersih global. Manuver ini sekaligus mencerminkan pendekatan diplomasi energi yang terukur.
Penandatanganan tiga nota kesepahaman menjadi pijakan konkret untuk mendorong peran Indonesia, tidak hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem industri energi berkelanjutan.
Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia berupaya mengintegrasikan kekayaan sumber daya mineral dengan keunggulan teknologi Korea Selatan. Sinergi ini diharapkan memperkuat hilirisasi industri dan menciptakan ekosistem energi yang lebih mapan.
Penasehat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar, Prof. Dr. Henry Indraguna, menilai kerja sama ini sebagai bentuk penguatan posisi tawar Indonesia dalam diplomasi ekonomi global. “Kerja sama ini menunjukkan kita tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mulai mengakses teknologi tingkat tinggi untuk memperkuat kedaulatan energi nasional,” ujar Henry di Jakarta, Minggu (5/4/2026).
Ia menyebut, kemitraan tersebut menjadi tonggak penting dalam mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas di sektor energi.
Dalam kesempatan terpisah, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyampaikan komitmen untuk meningkatkan hubungan strategis dengan Indonesia. Hal itu disampaikan dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan.
“Kami ingin meningkatkan hubungan bilateral menjadi kemitraan strategis komprehensif khusus,” ujar Lee.
Ia juga menegaskan, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memiliki hubungan strategis komprehensif khusus dengan Korea Selatan.
Arah Baru Energi Hijau Henry menilai masuknya teknologi nuklir dan hidrogen dalam kerja sama tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengembangkan sumber energi alternatif yang stabil dan berkelanjutan.
Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan upaya transformasi Indonesia dari sekadar pemilik sumber daya menjadi aktor utama dalam pengelolaan energi.
“Negara harus memiliki kehendak untuk menguasai sumber dayanya sendiri. Ini bagian dari upaya mewujudkan kedaulatan energi demi kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia tengah berada dalam proses menuju peran yang lebih besar dalam menentukan arah pengembangan energi hijau global. Henry juga menilai, kerja sama ini berpotensi menjadi titik balik bagi penguatan ekonomi hijau dan kemandirian teknologi nasional, jika dapat direalisasikan secara optimal.
Dampak lanjutan dari kolaborasi tersebut diperkirakan tidak hanya menyentuh sektor industri, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Jika integrasi teknologi berjalan baik, Indonesia berpotensi menjadi pusat energi bersih di Asia, sekaligus melahirkan tenaga teknokrat yang mampu mengelola nuklir dan mineral kritis secara mandiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, dengan penguatan hilirisasi dan penguasaan teknologi, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga dapat berkembang sebagai pusat inovasi di tingkat global. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


