Advertisement
Indonesia Positif

ARTI Tekankan Pentingnya Literasi Publik ditengah Maraknya Investasi Bodong Berkedok Robot Trading

Asosiasi Robot Trading Indonesia (ARTI) sebagai gerakan nasional yang berfokus pada edukasi, literasi, dan pengembangan ekosistem robot trading yang transparan, aman, dan bertanggung jawab

TIMES Indonesia,
ARTI Tekankan Pentingnya Literasi Publik ditengah Maraknya Investasi Bodong Berkedok Robot Trading
Ketua Bidang Edukasi dan Literasi ARTI, Ardi Novianto Putra. (FOTO: dok. Pribadi)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JAKARTA Asosiasi Robot Trading Indonesia (ARTI) sebagai gerakan nasional yang berfokus pada edukasi, literasi, dan pengembangan ekosistem robot trading yang transparan, aman, dan bertanggung jawab di Indonesia menyayangkan masih maraknya praktik investasi bodong berkedok trading yang terus memakan korban di Indonesia.

Di tengah perkembangan teknologi finansial, sejumlah pihak tidak bertanggung jawab justru memanfaatkan momentum tersebut untuk menjalankan skema penipuan, terutama dengan pola Ponzi.

Advertisement

Ketua Bidang Edukasi dan Literasi ARTI, Ardi Novianto Putra, fenomena tersebut menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat dirugikan oleh platform yang mengklaim menggunakan sistem trading otomatis namun tidak memiliki dasar bisnis yang jelas.

Ia menilai bahwa fenomena ini menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap mekanisme trading yang sebenarnya.

“Kami sangat menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang menjadi korban investasi bodong berkedok robot trading. Banyak platform mengklaim menggunakan robot trading dengan imbal hasil pasti, padahal dalam praktik trading yang sesungguhnya tidak ada jaminan keuntungan tetap,” ujar Ardi dalam keterangan persnya kepada TIMES Indonesia, Selasa (7/4/2026).

Menurut Ardi, istilah “robot trading” kerap disalahgunakan untuk menarik minat masyarakat. Pelaku memanfaatkan kurangnya literasi dengan menawarkan sistem otomatis yang diklaim mampu menghasilkan profit konsisten tanpa risiko.

“Trading adalah aktivitas yang memiliki risiko tinggi dan bergantung pada kondisi pasar. Klaim profit tetap justru menjadi indikasi kuat adanya praktik yang tidak sehat atau bahkan penipuan,” ulas pri yang juga Trader Consultant itu .

Advertisement

ARTI menekankan beberapa ciri utama investasi bodong berkedok trading, antara lain:

  • Menjanjikan keuntungan tetap atau pasti
  • Tidak transparan dalam mekanisme trading
  • Tidak memiliki izin resmi dari regulator
  • Lebih fokus pada perekrutan anggota baru
  • Menggunakan testimoni berlebihan sebagai alat promosi

ARTI juga mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan pengecekan legalitas dan tidak mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat.

“Kami mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan memahami prinsip dasar investasi, yaitu legal dan logis. Jangan sampai tergiur keuntungan instan tanpa memahami risiko yang ada,” tambah Ardi.

Sebagai bagian dari komitmen dalam meningkatkan literasi keuangan, ARTI terus mendorong edukasi publik terkait trading yang benar serta bahaya investasi skema ponzi berkedok robot trading.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, ARTI berharap praktik investasi bodong berkedok trading dapat ditekan dan tidak lagi merugikan masyarakat luas. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Nuril Fahmi
PenulisAhmad Nuril FahmiSarjana Ilmu Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Bergabung dengan TIMES Indonesia dan bertugas di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak 2020. Sudah meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia