Advertisement
Indonesia Positif

Bakesbangpol Turun ke Sekolah: Siswa SMK Cendika Bangsa Belajar Demokrasi dari Dekat

RPS SMK Cendika Bangsa,Kepanjen Malang berubah menjadi ruang dialog tempat ide, pertanyaan, dan rasa ingin tahu saling bertemu, Rabu (8/4/2026) 

TIMES Indonesia,
Bakesbangpol Turun ke Sekolah: Siswa SMK Cendika Bangsa Belajar Demokrasi dari Dekat
Sosialisasi bertajuk “Pemahaman Demokrasi Melalui Pendidikan Politik bagi Pelajar”. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG RPS SMK Cendika Bangsa,Kepanjen Malang berubah menjadi ruang dialog tempat ide, pertanyaan, dan rasa ingin tahu saling bertemu, Rabu (8/4/2026).

Selama tiga jam, dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menggelar sosialisasi bertajuk “Pemahaman Demokrasi Melalui Pendidikan Politik bagi Pelajar.” Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri dari universitas terkemuka di Malang, dan diikuti siswa kelas XI dari berbagai jurusan: TKR, TKJ, Akuntansi, MP, hingga DPB.

Advertisement

Politik, Lebih Dekat dari yang Dibayangkan

Acara dibuka oleh Kepala SMK Cendika Bangsa, Abdulloh Muthi. Dalam sambutannya, ia menekankan satu hal yang sering luput dipahami pelajar.

“Politik sangat dekat dengan kehidupan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan ini membantu siswa memahami politik secara benar bukan sekadar dari potongan informasi di media sosial, tetapi dari kerangka berpikir yang utuh.

Pesan itu menjadi semacam pengantar bagi diskusi yang kemudian berkembang luas. Politik, dalam konteks ini, tidak lagi tampil sebagai sesuatu yang elitis atau rumit, melainkan sebagai bagian dari keputusan sehari-hari yang berdampak langsung pada masyarakat.

Generasi Muda di Pusat Panggung

Materi pertama disampaikan oleh Andy Ilham Hakim, dosen Ilmu Politik dari Universitas Brawijaya. Ia membuka dengan satu fakta yang sulit diabaikan: pemilih muda kini mendominasi.

Sekitar 60 persen pemilih berasal dari generasi muda gabungan milenial dan generasi setelahnya. Artinya, arah demokrasi ke depan sangat ditentukan oleh mereka yang hari ini masih duduk di bangku sekolah dan kampus.

Advertisement

Data dari survei CSIS 2022 juga menunjukkan bahwa keterlibatan anak muda dalam politik terus meningkat. Namun, peningkatan jumlah belum tentu diiringi dengan kualitas pemahaman.

Di sinilah pentingnya pendidikan politik sejak dini.

Andy menyoroti tiga isu utama yang dekat dengan kehidupan anak muda: kesejahteraan, lapangan pekerjaan, dan keadilan. Tiga hal ini, menurutnya, bukan sekadar topik diskusi, tetapi inti dari keputusan politik yang diambil negara.

Demokrasi: Lebih dari Sekadar Pemilu

Dalam penjelasannya, demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai proses memilih dalam pemilu. Ia mengingatkan bahwa demokrasi berasal dari kata Yunani demos (rakyat) dan kratia (kekuasaan)—yang berarti kekuasaan berada di tangan rakyat.

Namun dalam praktiknya, kekuasaan itu dijalankan melalui sistem perwakilan. Di sinilah muncul lembaga legislatif sebagai perpanjangan suara masyarakat.

Andy kemudian mengurai prinsip-prinsip utama demokrasi: kedaulatan rakyat, partisipasi warga, kesetaraan politik, kebebasan dan hak asasi manusia, serta akuntabilitas dan transparansi.

“Demokrasi bukan hanya prosedur, tetapi juga nilai,” tegasnya.

Setiap kebijakan yang dirasakan masyarakat, lanjutnya, adalah hasil dari proses politik. Dengan kata lain, tidak ada warga yang benar-benar berada di luar politik—semua terlibat, sadar atau tidak.

Menjadi Pemilih yang Tidak Sekadar Ikut-ikutan

Bagi pemilih pemula, tantangan terbesar bukan pada memilih, tetapi pada memahami apa yang dipilih.

Andy menawarkan tiga langkah sederhana namun krusial: memahami isu, mengenali partai, dan mempelajari kandidat. Tiga hal ini menjadi fondasi agar pilihan tidak didasarkan pada popularitas semata.

Namun proses tidak berhenti di bilik suara. Setelah memilih, pemilih muda tetap memiliki peran: mengawasi dan menjaga jalannya demokrasi.

Ia mengingatkan bahwa pembiaran terhadap pelanggaran akan membuka ruang bagi pelanggaran berikutnya. Demokrasi, dalam arti ini, adalah proses yang harus terus dijaga.

Pelajar, Hak, dan Batasan

Materi kedua disampaikan oleh Surya Desismansyah Eka Saputra dari Universitas Negeri Malang. Ia membawa diskusi ke wilayah yang lebih dekat dengan kehidupan siswa: posisi pelajar dalam politik.

“Politik dekat dengan kita sehari-hari,” ujarnya, mengulang benang merah yang sama, tetapi dari sudut pandang berbeda.

Ia menyinggung kebijakan yang melarang pelajar ikut demonstrasi, sekaligus pandangan dari Komnas HAM yang menyatakan bahwa setiap individu memiliki hak untuk menyampaikan pendapat. Di titik ini, siswa diajak melihat bahwa realitas tidak selalu hitam-putih.

Demonstrasi, menurutnya, tidak memerlukan izin, tetapi harus melalui pemberitahuan. Artinya, ada ruang kebebasan yang diatur oleh tanggung jawab.

Dari OSIS hingga Filosofi Belajar

Surya juga mengajak siswa melihat politik dari lingkup paling dekat: organisasi sekolah.

Ia mengulas sejarah lahirnya OSIS pada era 1970-an sebagai bagian dari upaya membentuk karakter kepemimpinan di lingkungan pendidikan. Dari sini, siswa bisa memahami bahwa praktik demokrasi sebenarnya sudah dimulai dari hal-hal sederhana—seperti pemilihan ketua organisasi.

Namun ia menekankan satu hal yang lebih mendasar: etika.

Dalam dunia akademik, siswa boleh salah, tetapi tidak boleh berbohong. Nilai ini menjadi fondasi bagi terbentuknya karakter yang jujur dan bertanggung jawab.

Untuk mencapainya, ia menawarkan tiga “mantra” sederhana: buku, cinta, dan setia. Sebuah kombinasi yang terdengar puitis, tetapi menyimpan makna mendalam—pengetahuan, kepedulian, dan konsistensi.

Ketika Pertanyaan Menjadi Tanda Kritis

Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian paling hidup dalam kegiatan ini. Siswa tidak ragu mengangkat isu-isu besar.

Mereka bertanya tentang sejauh mana demokrasi telah berjalan di Indonesia, isu pelanggaran HAM, hingga tragedi gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan satu hal penting: siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga berpikir.

Diskusi pun bergerak dari teori ke realitas. Dari konsep demokrasi ke peristiwa yang benar-benar terjadi. Di sinilah pendidikan politik menemukan relevansinya.

Demokrasi yang Terus Bertumbuh

Dalam penutup materi, disampaikan bahwa demokrasi di Indonesia tidak hadir secara instan. Ia berkembang melalui tahapan—transisi, prosedural, hingga konsolidasi.

Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa demokrasi adalah proses yang terus berjalan, bukan kondisi yang selesai.

Setiap warga negara memiliki satu suara yang sama. Namun nilai dari suara itu bergantung pada bagaimana ia digunakan.

Kegiatan di RPS SMK Cendika Bangsa Kepanjen pagi itu mungkin telah usai. Namun pertanyaan yang muncul tidak ikut selesai.

Jika generasi muda kini memegang porsi terbesar dalam demokrasi, sejauh mana mereka siap menggunakan kekuatan itu—bukan hanya untuk memilih, tetapi juga untuk menjaga? (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

N
PenulisNiswa Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia