Potensi PMT Berbahan Pangan Lokal Sebagai Solusi Pencegahan Permasalahan Gizi
Hasil SSGI Tahun 2024 menunjukkan bahwa permasalahan gizi di Indonesia masih perlu mendapatkan perhatian. Prevalensi Stunting Nasional menunjukkan tren penurunan dari 37,6%
TIMES Indonesia,
A-AA+
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Hasil SSGI Tahun 2024 menunjukkan bahwa permasalahan gizi di Indonesia masih perlu mendapatkan perhatian. Prevalensi Stunting Nasional menunjukkan tren penurunan dari 37,6% ( Riskesdas 2013 ), 30,8% ( Riskesdas 2018 ), 21,5% ( SKI 2023 ) dan sebesar 19,8% hasil SSGI 2024. Meskipun menunjukkan tren penurunan, tetapi belum mampu mencapai target yang ditetapkan sebesar 14% pada tahun 2024.
Demikian pula permasalahan wasting dan underweight juga masih menjadi permasalahan yang perlu untuk segera diselesaikan. Permasalahan gizi juga masih menjadi prioritas pada kelompok ibu hamil. Hasil SKI tahun 2023 menunjukkan prevalensi Ibu Hamil KEK sebesar 16,9%. Salah satu upaya intervensi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pemberian PMT.
PMT atau pemberian makanan tambahan telah lama digunakan sebagai sebuah upaya intervensi permasalahan gizi di Indonesia.
Terdapat dua jenis PMT yang dikenal yaitu PMT Penyuluhan yang diberikan di posyandu dan PMT Pemulihan yang diberikan selama sekian hari makan sesuai jenis kasus yang ditangani. Tujuan utama pemberian PMT Penyuluhan adalah sebagai sarana edukasi yang diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan merubah perilaku masyarakat tentang gizi seimbang. Sedangkan PMT Pemulihan diberikan kepada balita atau kelompok rentan yang memiliki permasalahan gizi seperti berat badan tidak naik, berat badan kurang maupun gizi kurang dan gizi buruk dengan tujuan memperbaiki status gizi, mendukung tumbuh kembang dan mencegah permasalahan gizi lebih lanjut.
Namun demikian, pemberian PMT masih menemui banyak kendala antara lain anggaran, daya terima rendah serta perubahan perilaku pada masyarakat mengenai gizi seimbang belum menunjukkan perubahan yang berarti. Jenis PMT pabrikan / biskuit yang pada awal program PMT tersebut ada, ternyata belum mampu diterima secara optimal oleh masyarakat. Konsumsi biskuit selama 90 hari menimbulkan rasa bosan pada sasaran baik balita maupun ibu hamil.
Oleh karena itu, pemikiran untuk memberikan PMT dengan bahan utama adalah bahan pangan lokal menjadi sebuah strategi yang layak untuk diberikan kepada masyarakat. Menurut UU No. 18 Tahun 2012 tentang pangan, yang dimaksud dengan pangan lokal adalah pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal. Pangan yang dimaksud diproduksi dan tersedia diwilayah setempat, dikonsumsi secara nyata oleh masyarakat setempat serta tidak bertentangan dengan budaya, agama dan keyakinan masyarakat setempat.
Kenapa harus bahan pangan lokal? Beberapa hal yang menyebabkan PMT bahan pangan lokal menjadi strategi paling direkomendasikan antara lain karena jumlahnya yang berlimpah dan mudah didapat. Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati termasuk yang terbesar di dunia. Dengan luas perairan 2/3 dari luas wilayah keseluruhan dan iklim tropis, menyebabkan Indonesia memiliki sumber pangan lokal yang berlimpah.
Menurut Badan Pangan Nasional Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, 40 jenis bahan minuman dan 110 jenis rempah dan bumbu. Dengan keberagaman jenis pangan lokal yang ada , maka memungkinkan untuk menyediakan PMT dengan kecukupan gizi sesuai standar.
Keberadaan pangan lokal yang berlimpah juga mampu menekan biaya produksi serta anggaran. Ini sangat strategis mengingat kondisi ekonomi di tengah situasi krisis global yang membutuhkan efisiensi anggaran di dalam negeri. Konsumsi pangan lokal diarahkan menuju kemandirian pangan dan gizi sebagaimana Perpres 81/2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.

Beberapa tantangan yang dihadapi dalam pemnafaatan PMT bahan pangan lokal antara lain:
- Pemahaman masyarakat tentang gizi yang masih kurang, sehingga muncul anggapan bahwa makanan bergizi selalu menggunakan bahan pangan tertentu yang harganya mahal dan jumlahnya terbatas.
- Perilaku konsumsi pangan lokal dan beragam di masyarakat masih rendah.
- Bahan pangan lokal umumnya kurang menarik dalam penyajian sehingga daya terima di masyarakat terhadap PMT bahan pangan lokal menjadi rendah.
- Keberadaan makanan instan / pabrikan yang menawarkan kemudahan dan manajemen pemasaran yang bagus sehingga masyarakat lebih memilih makanan instan dibandingkan makanan lokal.
Strategi dalam Pemberian PMT Berbahan Pangan Lokal:
1. Formulasi menu sesuai kebutuhan gizi
Penggunaan bahan pangan lokal sebagai PMT bagi intervensi permasalahan gizi akan menyebabkan PMT lebih mudah diterima. Ahli Gizi dapat mengembangkan formulasi dan modifikasi sesuai kebutuhan gizi sasaran.
2. Inovasi
Berbagai tehnik pengolahan dan resep dapat menghindari kebosanan. Menurut Prof Murdiati ( 2019 ) Indonesia memiliki lebih dari 3.259 jenis kuliner dan lebih dari 5.300 makanan asli Indonesia. Ini masih mungkin untuk terus dikembangkan melalui kreatifitas dan inovasi para Ahli Gizi Masyarakat sehingga olahan pangan lokal dapat memenuhi nilai gizi dan dapat diberikan sebagai PMT. Demikian pula para pelaku kuliner dapat terus melakukan pengembangan dan modifikasi resep sehingga semakin memperkaya pilihan olahan yang dapat dipergunakan untuk menu PMT pangan lokal.
3. Peran Pemerintah dan Tenaga Kesehatan
Peran pemerintah sesuai arah kebijakan nasional sebagaimana dituangkan dalam RPJMN 2025-2029 meliputi pencegahan dan penurunan stunting melalui penguatan ketahanan Kesehatan. Ketahanan Kesehatan bersinergi dengan kemandirian pangan dan gizi antara lain melalui pemberian PMT bahan pangan lokal sebagai intervensi untuk pencegahan dan penanggulangan permasalahan gizi. Untuk itu diharapkan sosialisasi secara berkelanjutan sehingga pemanfaatan bahan pangan lokal dapat lebih optimal.
4. Peran Masyarakat
Kemandirian pangan dan gizi mampu mendukung keberhasilan PMT bahan pangan lokal. Masyarakat diharapakan dapat berperan aktif memastikan program PMT bahan pangan lokal dapat terus dilanjutkan. Dengan kemandirian pangan dan gizi keluarga dan masyarakat, keterbatasan anggaran bukan lagi menjadi alasan tidak terselesaikannya permasalahan gizi masyarakat.
5. Edukasi Gizi
Peningkatan pemahaman dan pendampingan perlu dilakukan untuk memastikan perubahan perilaku masyarakat dalam konsumsi gizi seimbang dengan memanfaatkan pangan lokal. Edukasi gizi yang tepat kepada keluarga, kader dan masyarakat diharapkan mampu merubah perilaku masyarakat dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai PMT untuk pencegahan permasalahan gizi lebih lanjut.
Pemberian PMT berbahan pangan lokal merupakan strategi yang sangat potensial dalam pencegahan dan penanggulangan permasalahan gizi secara berkelanjutan di Indonesia. Namun demikian perlu peran serta pemerintah, tenaga Kesehatan dan masyarakat dalam mendukung program ini sehingga dapat mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi melalui pengembangan formulasi, modifikasi dan inovasi pemanfaatan PMT berbahan pangan lokal agar memberikan dampak positif terutama dalam mencegah dan mengatasi permasalahan gizi di Indonesia.
Sebagai contoh, di Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur telah dikembangkan inovasi Pantura Asmoro (Patin Nutrisi untuk Anak Puskesmas Sukomoro) yang mengolah ikan patin sebagai pangan lokal hasil budidaya perikanan air tawar setempat sebagai produk PMT untuk balita underweight dengan hasil kenaikan berat badan yang cukup signifikan.
*) Oleh: Dwi Tutut Yanuarti, S.Tr.Gz. (Pembina DPC Persagi Kabupaten Magetan)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

