Advertisement
Indonesia Positif

UWG Malang Siapkan Revolusi AI 2045, FSTI Cetak Generasi TechnoPreneur dan System Builder Indonesia

Universitas Widya Gama/ UWG Malang kembali mencuri perhatian dunia pendidikan tinggi nasional. Melalui Focus Group Discussion (FGD) Perancangan Visi

TIMES Indonesia,
UWG Malang Siapkan Revolusi AI 2045, FSTI Cetak Generasi TechnoPreneur dan System Builder Indonesia
(FOTO: AJP TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Universitas Widya Gama/ UWG Malang kembali mencuri perhatian dunia pendidikan tinggi nasional. Melalui Focus Group Discussion (FGD) Perancangan Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi (VMTS), Fakultas Sains dan Teknologi Informasi (FSTI) UWG resmi menyiapkan lompatan besar menuju fakultas berbasis Artificial Intelligence (AI), teknologi digital, dan technopreneurship untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Kegiatan strategis yang digelar di Auditorium Kampus 3 UWG, Selasa (5/5/2026) itu menghadirkan tokoh-tokoh penting dari kalangan akademisi, asosiasi profesi, praktisi industri, hingga alumni untuk merumuskan arah masa depan pendidikan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri global.

Advertisement

Hadir sebagai pemateri utama yakni Prof. Dr. Saiful Bukhori, S.T., M.Kom., pakar akademisi bidang teknologi informasi, Yoyon Arie Budi, S.ST., M.Kom. selaku Ketua APTIKOM LLDIKTI Wilayah VII, Yuda Adhadiyan, S.T. dari praktisi industri telematika, serta alumni FSTI UWG Kuncahyo S. N., M.Kom..

AI Bukan Lagi Alat Tambahan

Dalam forum tersebut, para narasumber sepakat bahwa AI kini bukan lagi sekadar teknologi tambahan, tetapi telah menjadi fondasi utama dalam dunia pendidikan dan industri masa depan.

Prof. Dr. Saiful Bukhori menegaskan bahwa visi fakultas harus mampu menjadi “mimpi besar” yang jelas arah dan target waktunya. Menurutnya, kampus harus memiliki positioning yang kuat agar mampu bersaing secara nasional maupun global.

Ia bahkan merekomendasikan visi baru FSTI UWG yang lebih tajam dan futuristik, yakni menjadi fakultas unggul dalam pengembangan teknologi digital dan technopreneurship pada tahun 2045.

“Visi tidak boleh generik. Harus spesifik, punya arah teknologi masa depan, serta mampu menjawab kebutuhan industri,” terang Prof. Saiful dalam forum FGD tersebut.

Advertisement

Mahasiswa Harus Jadi System Builder

Sementara itu, praktisi industri telematika, Yuda Adhadiyan, menyoroti perubahan drastis kebutuhan industri teknologi saat ini. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi programmer biasa.

Mahasiswa harus diarahkan menjadi system builder yang mampu memahami persoalan nyata, merancang solusi digital, hingga memanfaatkan AI sebagai co-pilot dalam bekerja dan berpikir.

“AI tidak boleh ditakuti, tetapi juga tidak boleh digunakan secara mentah. Mahasiswa harus kritis, mampu memvalidasi hasil AI, dan memahami logika di balik teknologi tersebut,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya project-based learning, di mana mahasiswa terbiasa mengerjakan proyek nyata berbasis kebutuhan industri dan masyarakat.

Kurikulum Anti Ketinggalan Zaman

Ketua APTIKOM LLDIKTI Wilayah VII, Yoyon Arie Budi, menegaskan bahwa kampus harus mampu memastikan kurikulum selalu relevan dengan perkembangan industri.

Evaluasi kurikulum minimal dua tahun sekali, penerapan Outcome-Based Education (OBE), hingga keterlibatan industri dalam proses pembelajaran dinilai menjadi langkah wajib untuk menciptakan lulusan kompetitif.

Menurutnya, indikator keberhasilan kampus tidak lagi hanya soal kelulusan, tetapi juga tingkat penyerapan kerja, sertifikasi profesi, hingga kemampuan lulusan menciptakan inovasi dan startup teknologi.

“Perguruan tinggi tidak boleh memproduksi pengangguran. Kampus harus memastikan lulusannya relevan dengan kebutuhan industri,” tegas Yoyon.

Technopreneurship Jadi Senjata Baru

FGD juga menyoroti pentingnya technopreneurship sebagai identitas baru FSTI UWG.

Kampus didorong untuk membangun ekosistem inkubator startup, laboratorium digital, laboratorium virtual, hingga Digital Research & Innovation Lab sebagai pusat inovasi mahasiswa.

Langkah ini diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja di perusahaan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan berbasis inovasi digital.

Alumni Soroti Pentingnya Lifelong Learning

Dari perspektif alumni, Kuncahyo S. N. menilai bahwa dunia kerja saat ini membutuhkan lulusan yang adaptif, komunikatif, mampu berpikir kritis, dan memiliki budaya belajar sepanjang hayat (lifelong learner).

Ia menekankan bahwa mahasiswa harus dibiasakan menghadapi studi kasus nyata, mampu mendokumentasikan pekerjaan secara profesional, serta terbiasa berkolaborasi lintas disiplin.

Menuju Fakultas Teknologi Berkelas Global

FGD menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari penguatan AI dalam pembelajaran, pengembangan smart campus, penguatan kemitraan industri, peningkatan SDM dosen doktor, hingga penyusunan roadmap pengembangan fakultas menuju tahun 2045.

Salah satu usulan visi alternatif yang mengemuka dalam forum tersebut adalah:

“Menjadi Fakultas Sains dan Teknologi Informasi yang bermutu, mandiri, bermartabat, dan berwawasan global, serta unggul dalam pengembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, dan technopreneurship berbasis kebutuhan masyarakat dan industri pada tahun 2045,” jelas. 

Melalui langkah besar ini, UWG Malang menunjukkan komitmennya untuk menjadi bagian dari transformasi pendidikan tinggi Indonesia di era AI dan ekonomi digital global. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

S
PenulisSantoso (CR-058) Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia