Advertisement
Indonesia Positif

Wamen Komdigi Sebut Festival Enggrang Ledokombo Oase Kemanusiaan di Era Digitalisasi

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, memberikan pujian mendalam terhadap konsistensi masyarakat dalam melestarikan budaya lokal saat menghadiri peluncuran Festival Egrang ke-14.

TIMES Indonesia,
Wamen Komdigi Sebut Festival Enggrang Ledokombo Oase Kemanusiaan di Era Digitalisasi
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria saat sambutan pada acara Peluncuran Festival Enggrang ke 14. (Foto: M. Abdul Basid/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JEMBER Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, memberikan pujian mendalam terhadap konsistensi masyarakat dalam melestarikan budaya lokal saat menghadiri peluncuran Festival Egrang ke-14 di Kecamatan Ledokombo, Jember, Sabtu (9/5/2026).

​Nezar Patria menyebut bahwa Festival Egrang yang diinisiasi oleh Komunitas Tanoker bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah simbol perlawanan positif terhadap dampak negatif modernitas dan isolasi sosial di era digital.

Advertisement

​Berdiri di hadapan ratusan warga dan pegiat budaya, Nezar menggarisbawahi filosofi permainan egrang yang sangat relevan dengan visi kementeriannya.

Menurutnya, bermain egrang membutuhkan keseimbangan, fokus, dan ketangguhan tiga elemen yang juga dibutuhkan masyarakat Indonesia dalam menavigasi dunia digital yang penuh disrupsi.

​"Di saat layar gawai seringkali menjauhkan yang dekat, Festival Egrang justru merekatkan kembali ikatan sosial kita. Ini adalah oase kemanusiaan. Egrang mengajarkan kita bahwa untuk melangkah tinggi, kita butuh keseimbangan. Begitu juga dengan teknologi. Setinggi apa pun kemajuan digital kita, ia harus tetap seimbang dengan nilai moral dan budaya," ujar Nezar Patria dalam sambutannya.

Nezar menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin digitalisasi menggerus identitas bangsa.

Sebaliknya, infrastruktur digital yang sedang dibangun pemerintah pusat harus menjadi alat penguat bagi konten-konten lokal seperti Festival Egrang agar bisa menjangkau audiens global.​

Advertisement

"Kami di Komdigi berkomitmen agar desa-desa seperti Ledokombo tidak hanya menjadi penonton dalam transformasi digital. Kami ingin dunia melihat bagaimana anak-anak di pelosok Jember merayakan perdamaian dan kegembiraan melalui egrang. Digitalisasi harus menjadi pengeras suara bagi kearifan lokal kita," tambahnya.

​Festival Egrang ke-14 tahun ini mengusung semangat kolaborasi lintasgenerasi.

Nezar melihat potensi besar dalam aspek ekonomi kreatif yang tumbuh di sekitar festival, mulai dari kerajinan tangan hingga agrowisata berbasis komunitas.

"Literasi digital komunitas yang mendorong para pemuda desa untuk menjadi kreator konten yang mempromosikan pariwisata daerah dan ruang aman digital," imbuhnya.

​Menutup kunjungannya, Nezar Patria menyampaikan apresiasi khusus kepada Komunitas Tanoker yang telah selama 14 tahun konsisten membina anak-anak dan perempuan di Ledokombo melalui pendekatan budaya.

"Kami berharap model pemberdayaan berbasis komunitas ini dapat direplikasi di daerah lain di seluruh Indonesia," tandasnya.

​Acara ini ditandai dengan aksi teatrikal egrang yang memukau, melibatkan ratusan peserta dari berbagai usia, serta pameran produk UMKM lokal yang kini mulai merambah pasar digital. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia