PG Semboro Gelar Tradisi Petik Tebu Manten, Tanda Musim Giling Dimulai
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global yang kian terasa, secercah harapan muncul dari jantung industri gula di Jawa Timur.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
JEMBER – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global yang kian terasa, secercah harapan muncul dari jantung industri gula di Jawa Timur.
Pabrik Gula (PG) Semboro secara resmi memulai rangkaian musim giling tahun 2026 dengan menggelar tradisi sakral dan unik, Petik Tebu Manten, sebuah ritual tahunan yang memadukan kearifan lokal dengan ambisi swasembada pangan nasional.
Warna-warni janur kuning dan alunan doa mengiringi prosesi "pernikahan" dua batang tebu pilihan.
Sosok tebu jantan yang diberi nama Raden Bagus Rosan dan tebu betina Dyah Ayu Roro Manis dirias menyerupai pengantin adat Jawa sebelum diarak menuju mesin giling.
Bagi masyarakat setempat, ini bukan sekadar seremoni.
General Manager PG Semboro, Ari Suprih Adi Susetyo, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan manifestasi dari hubungan harmonis yang tak terpisahkan antara pabrik dan mitra petani.
"Filosofi mengawinkan Raden Bagus Rosan dan Dyah Ayu Roro Manis adalah simbol ikatan batin. Kami ingin menegaskan bahwa PG Semboro dan petani adalah satu kesatuan. Tanpa sinergi yang kuat, roda industri ini tidak akan berputar maksimal," ujar Ari.
Musim giling yang akan dimulai pada 14 Mei 2026 ini mengusung tema besar “Sinergi dalam Harmoni Petani dan Pabrik Gula, Kita Wujudkan Kesejahteraan Bersama Menuju Swasembada Gula”.
Tahun ini, PG Semboro mematok target yang signifikan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
• Total Tebang Giling: 855.010 ton tebu.
• Target Produksi Gula: 62.500 ton.
• Kapasitas Olah: 6.200 ton tebu per hari (TCD).
• Luas Lahan: 11.000 hektare, yang seluruhnya merupakan lahan milik petani rakyat.
Operasional pabrik dijadwalkan berlangsung selama 145 hari hingga akhir September mendatang.
Ari memastikan bahwa seluruh lini produksi, mulai dari kesiapan mesin hingga sumber daya manusia, telah berada dalam kondisi prima untuk mencapai target rendemen di angka 7,30 persen.
Keberadaan PG Semboro di masa krisis ini menjadi vital.
Lebih dari sekadar fasilitas produksi, pabrik ini berfungsi sebagai generator ekonomi bagi ribuan kepala keluarga di Jember.
Menurutnya, dampak ekonomi (multiplier effect) dari musim giling ini sangat terasa nyata,
Lapangan kerja langsung yang menyerap lebih dari 1.200 karyawan organik dan musiman, sektor informal yang juga menghidupi sekitar 1.000 sopir logistik dan 5.000 tenaga tebang/angkut dan pertumbuhan UMKM dengan menghidupkan ratusan warung nasi, jasa transportasi, dan usaha mikro di sekitar area pabrik dan perkebunan.
"Ketika mesin kami mulai menderu, itu artinya dapur ribuan warga mulai mengepul. Warung-warung kembali ramai, transportasi bergerak, dan daya beli masyarakat meningkat. Keberhasilan giling di PG Semboro adalah keberhasilan rakyat Jember," tegas Ari.
Menutup rangkaian acara, manajemen PG Semboro memohon dukungan dan doa restu dari seluruh elemen masyarakat.
Dengan persiapan matang dan semangat kolaborasi, PG Semboro optimistis dapat memberikan kontribusi terbaik bagi industri gula tanah air.
"Kami berharap musim giling 2026 ini membawa keberkahan bagi para petani, keselamatan bagi para pekerja, dan hasil yang optimal bagi bangsa Indonesia. PG Semboro siap menjadi garda terdepan dalam perjalanan menuju swasembada gula nasional," pungkas Ari. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


