Kenduri Lawasan QRISMA Fest 2026 Jadi Penutup Harmoni Tradisi dan Transaksi Digital
Penutupan rangkaian kegiatan dari Bank Indonesia (BI) Cabang Malang sebagai kesatuan dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-112 Kota Malang berlangsung berbeda tahun ini.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Penutupan rangkaian kegiatan dari Bank Indonesia (BI) Cabang Malang sebagai kesatuan dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-112 Kota Malang berlangsung berbeda tahun ini. Melalui gelaran QRISMA (QRIS untuk Masyarakat dan UMKM), tradisi lokal dipadukan dengan semangat digitalisasi ekonomi dalam satu panggung besar ditutup dalam kegiatan Kenduri Lawasan QRISMA Fest 2026 di Gedung Kesenian Gajayana, Jumat (8/5/2026) kemarin malam.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi mengatakan, kegiatan tersebut terinspirasi dari video perjalanan Kota Malang saat peringatan HUT pada 1 April 2026 lalu. Video itu menampilkan perubahan Kota Malang dari masa ke masa, termasuk perkembangan budaya hingga teknologi.
“Dari situ muncul gagasan bagaimana tradisi dan perkembangan transaksi digital bisa dipertemukan. Akhirnya Pak Wali Kota menantang kami membuat kegiatan penutup HUT Kota Malang di Gedung Kesenian Gajayana,” ujar Indra, Sabtu (9/5/2026).
Menurutnya, QRISMA bukan sekadar festival transaksi digital. Kegiatan itu membawa pesan besar tentang bagaimana tradisi tetap hidup di tengah perkembangan teknologi.
“Kegiatan ini bermakna menghubungkan tradisi menuju transaksi. Tujuannya melestarikan tradisi sekaligus meningkatkan transaksi digital sebagai denyut nadi ekonomi,” ungkapnya.
Indra menegaskan, digitalisasi kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dihadapi masyarakat dan pelaku UMKM agar tidak tertinggal perkembangan zaman.

Dalam pelaksanaannya, QRISMA menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas. Mulai dari Malam Merchant QRIS yang diikuti 1.120 merchant sesuai usia Kota Malang ke-112, workshop dan edukasi digitalisasi bagi lebih dari 50 UMKM di kawasan Kayutangan, hingga kompetisi lingkungan bersih yang melibatkan 34 RT.
Tak hanya itu, kegiatan Amazing Race juga diikuti 21 sekolah dasar dengan total 210 siswa, serta lomba kreasi tumpeng yang diikuti empat RW.
Salah satu yang paling menyita perhatian ialah pencatatan Rekor MURI melalui penjualan 112 tumpeng jajanan jadul menggunakan QRIS. Rekor tersebut diklaim menjadi yang pertama di Indonesia.
“Kami berharap masyarakat semakin bahagia dan tetap mempertahankan tradisi. Tapi kalau bertransaksi, menggunakan QRIS,” ucapnya.
Sementara itu, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menyebut QRISMA menjadi momentum istimewa dalam peringatan HUT ke-112 Kota Malang karena mampu mempertemukan nilai tradisi dan kemajuan zaman dalam harmoni yang kuat.
“Makna kenduri lawasan itu ada nilai kebersamaan, gotong royong dan menjadi ruang memperkuat keeratan sosial,” kata Wahyu.
Ia mengapresiasi Bank Indonesia Malang yang dinilai berhasil menunjukkan bahwa pembangunan daerah harus dilakukan secara kolaboratif.
Menurut Wahyu, tema HUT Kota Malang tahun ini, “Ngalam Melintas Bergerak Tuntas Mbois Berkelas”, tercermin dalam konsep QRISMA yang menggabungkan heritage dengan kemajuan transaksi digital.
“Melalui semangat itu kita ingin menjadi kota yang adaptif menghadapi tantangan apapun. Tradisi tetap dijaga, tetapi transaksi terus bergerak maju,” jelasnya.
Wahyu menilai transformasi pembayaran digital melalui QRIS menjadi langkah penting bagi Kota Malang untuk membawa UMKM naik kelas.
“QRISMA menjadi contoh nyata digitalisasi. Ini wujud kolaborasi ekonomi rakyat di dunia digital,” tegasnya.
Meski mendorong kemajuan teknologi, Pemerintah Kota Malang, kata Wahyu, tetap memiliki tanggung jawab menjaga seni dan budaya lokal agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Karena itu, Gedung Kesenian Gajayana sengaja dipilih sebagai lokasi acara untuk mengingatkan masyarakat terhadap sejarah dan identitas budaya Kota Malang.
“Kita tidak boleh lupa sejarah gedung legendaris ini. Justru tempat ini kita manfaatkan untuk memperkenalkan kemajuan zaman. Inilah Malang Melintas, tradisi dan transaksi,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


