Advertisement
Indonesia Positif

Menyambung Asa di Ujung Tanggul: Kisah Bu Sarti, Lansia Sebatang Kara yang Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Di balik riuh rendah kehidupan masyarakat Kabupaten Jember, terselip sebuah potret kemanusiaan yang menyayat hati.

TIMES Indonesia,
Menyambung Asa di Ujung Tanggul: Kisah Bu Sarti, Lansia Sebatang Kara yang Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Kasi PMKS Kecamatan Tanggul, Sunaryati Widiya saat mendatangi Bu Sarti. (Foto : M. Abdul Basid/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JEMBER

Di balik riuh rendah kehidupan masyarakat Kabupaten Jember, terselip sebuah potret kemanusiaan yang menyayat hati.

Advertisement

Bu Sarti, seorang nenek berusia 63 tahun di Kecamatan Tanggul, kini menjadi simbol perjuangan melawan kesendirian dan kemiskinan ekstrem.

Kisahnya mencuat setelah laporan warga melalui kanal pengaduan resmi Wadul Gus'e direspons cepat oleh otoritas setempat.

​Saat Tim Reaksi Cepat (TRC) Kecamatan Tanggul menginjakkan kaki di Dusun Curah Putih, Desa Patemon, mereka disambut oleh kenyataan yang lebih getir dari sekadar laporan tertulis.

Bu Sarti ditemukan hidup benar-benar sebatang kara.

Tanpa suami, tanpa anak, dan tanpa satu pun sanak saudara yang bisa menjadi tempatnya bersandar di hari tua.

Advertisement

​Penderitaan Bu Sarti mencapai puncaknya ketika rumah kecil yang selama ini ia tumpangi satu-satunya tempat berteduh dari terik dan hujan harus dibongkar oleh pemilik lahan.

Kini, ia terpaksa mengungsi di sudut sempit rumah tetangga yang juga hidup dalam keterbatasan.

​"Saya tidak punya apa-apa lagi, Nak," ucap Bu Sarti dengan suara parau yang tertahan oleh tangis.

"Setiap hari saya hanya bisa menunggu. Kalau ada tetangga yang ingat dan memberi nasi, saya makan. Kalau tidak ada, saya puasa. Begitulah cara saya bertahan hidup selama ini," tambahnya.

​Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut, Kasi PMKS Kecamatan Tanggul, Sunaryati Widiya, memimpin langsung proses asesmen di lapangan.

Tim tidak hanya memberikan dukungan moril, tetapi juga melakukan langkah taktis untuk memastikan hak-hak dasar Bu Sarti terpenuhi secara administratif maupun sosial.

​"Kondisi Bu Sarti adalah darurat kemanusiaan bagi kami. Kami segera melakukan validasi data kependudukan agar beliau bisa segera masuk dalam skema bantuan pemerintah yang tepat sasaran," tegas Sunaryati dengan penuh haru.

​Pihak Kecamatan Tanggul berkomitmen untuk ​melaporkan segera hasil asesmen kepada Dinas Sosial Kabupaten Jember dan ​mengupayakan solusi hunian yang layak agar Bu Sarti tidak lagi menumpang di tempat yang tidak semestinya, serta ​nenjamin ketersediaan pangan melalui koordinasi dengan lingkungan setempat dan program bantuan sosial daerah.

​Kasus Bu Sarti adalah pengingat bagi kita semua bahwa di sekitar kita masih ada jiwa-jiwa yang terabaikan.

Pemerintah Kecamatan Tanggul menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Bu Sarti berjuang sendirian.

​Langkah cepat melalui sistem Wadul Gus'e ini membuktikan bahwa sinergi antara laporan warga dan respons pemerintah dapat menjadi penyelamat bagi mereka yang berada di titik terendah kehidupan.

Harapannya, melalui langkah nyata ini, senyum di wajah keriput Bu Sarti dapat kembali hadir, dan masa tuanya tidak lagi dihabiskan dalam ketakutan akan hari esok. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

M Abdul Basid
PenulisM Abdul BasidBergabung di TIMES Indonesia sejak 2023. Meliput berbagai topik daerah di Kabupaten Jember.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia