Di Balik TMMD 128 Gresik, Babinsa Slempit Bantu Pengepul Sampah Bertahan Hidup
Di tengah pembangunan jalan, rumah layak huni, dan fasilitas desa, Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0817/Gresik menyimpan kisah yang lebih sunyi, tetapi sarat makna. Di Desa Slempit, Kecamatan Kedamean, kehadiran TNI juga meny
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
GRESIK – Di tengah pembangunan jalan, rumah layak huni, dan fasilitas desa, Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0817/Gresik menyimpan kisah yang lebih sunyi, tetapi sarat makna. Di Desa Slempit, Kecamatan Kedamean, kehadiran TNI juga menyentuh kehidupan warga yang menggantungkan nafkah dari barang bekas.
Sabtu (16/5/2026), Babinsa Desa Slempit, Sertu Heru, mendampingi Sukirman (29) mengunjungi rumah Sandang (41), seorang pengepul sampah plastik dan kertas. Dari aktivitas sederhana itu, terlihat bahwa program TMMD tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga meneguhkan perhatian kepada warga yang berjuang di sektor informal.
Sukirman menuturkan bahwa Sertu Heru telah menjadi sosok yang dekat dengan masyarakat. Tidak hanya hadir saat kegiatan resmi, Babinsa juga terlibat dalam membantu persoalan sehari-hari warga.
“Pak Tentara Heru selalu mendampingi kami warga Slempit. Tadi beliau juga membantu saya menjual hasil mulung berupa kertas dan plastik,” ujar Sukirman.
Bagi Sandang, yang setiap hari mengumpulkan plastik dan kertas untuk mencukupi kebutuhan keluarga, perhatian itu memberi kekuatan moral yang besar. Ia merasa pekerjaannya yang sederhana tetap dihargai.
“Kami merasa diperhatikan. Semoga kebersamaan seperti ini terus terjalin,” katanya.
TMMD ke-128 di Desa Slempit menghadirkan beragam pembangunan fisik, mulai dari jalan desa, RTLH, hingga sarana pertanian. Namun nilai terbesarnya justru terletak pada hubungan yang terbangun antara prajurit TNI dan masyarakat.
Di balik proyek-proyek tersebut, ada pendekatan humanis yang membuat warga merasa lebih dekat dengan negara. Kehadiran Babinsa di rumah seorang pengepul sampah menjadi simbol bahwa pembangunan juga harus menjangkau mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Langkah kecil itu memperlihatkan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat bukan sekadar slogan, tetapi hadir dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


