Advertisement
Indonesia Positif

Mahasiswa UIN Malang Canangkan Robot Terapi Bagi Anak Speech Delay

Tiga mahasiswa Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menggagas inovasi teknologi berupa robot terapi bagi anak-anak yang mengalami speech delay.

TIMES Indonesia,
Mahasiswa UIN Malang Canangkan Robot Terapi Bagi Anak Speech Delay
Mahasiswa UIN Malang menjadi juara 1 dalam kompetisi TIEC 2026 dengan mencanangkan robot bagi anak speech delay. (FOTO: Amelia for TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Tiga mahasiswa Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menggagas inovasi teknologi berupa robot terapi bagi anak-anak yang mengalami speech delay, atau kemampuan bicara anak lebih lambat daripada anak seusianya.

Ide ini dituangkan dalam essay kompetisi Trunojoyo International Essay Competition (TIEC) 2026 dan berhasil mendapatkan juara 1. 

Advertisement

Ketiganya adalah Amelia Resti Iffadah (Sastra Inggris),  Hasnia Imroatis Syarifah (Pendidikan Agama Islam), dan Nurul Fadhilah Ramadhani  (Pendidikan Agama Islam). 

Amelia menjelaskan bahwa robot ini digunakan sebagai pengganti terapi konvensional yang harus bertatap muka setidaknya seminggu dua kali. Ia menilai bahwa layanan terapi speech delay di Indonesia tergolong terbatas, sehingga ia dan tim berinisiatif menciptakan inovasi ini.

“Penanganan speech delay ini harus terapi, tetapi di Indonesia masih terbatas, jadi saya dan tim berinisiatif untuk menggagas ide ini,” ujarnya pada TIMES Indonesia, Selasa (25/5/2026). 

Mahasiswa UIN Malang

Ia menambahkan bahwa sebenarnya teknologi yang dapat membantu terapi speech delay cukup berkembang. Akan tetapi, lokasi terapi untuk penanganan masalah ini masih terbatas. Sedangkan, inovasi yang diciptakan Amelia dan tim bisa dilakukan melalui rumah. 

Advertisement

Selain itu, ini juga akan meringankan beban orang tua supaya tidak berjaga selama 24 jam, karena sudah ada robot yang akan membantu peran orang tua dalam menemani sang anak.

Ia juga menekankan bahwa robot terapi ini tidak dapat menggantikan peran terapis asli secara 100 persen, hanya saja ia bisa menjadi pilihan alternatif bagi para orang tua apabila tidak bisa membawa anak mereka ke terapis langsung.

“Sebenarnya robot tidak bisa menggantikan terapis, hanya sebagai alternatif jika orang tua tidak bisa datang langsung ke terapis,” tambahnya.

Rencananya kedepan, ia akan mengembangkan lebih jauh lagi terkait inovasi tersebut, bahkan hingga membuat produknya. 

“Jadi kita membuat juga roadmap inovasi ini selama 5 tahun kedepan mau dibawa kemana, jadi tidak sebatas pada esai saja,” imbuhnya.

Dalam kompetisi tersebut, Amelia dan timnya berhasil menyingkirkan peserta dari mancanegara, seperti Thailand, Bangladesh, hingga Ethiopia. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia