Advertisement
Indonesia Positif

Bebas Skripsi, Mahasiswa Universitas Ma Chung Malang Ciptakan Inovasi Berdampak Nyata

Skripsi sering kali menjadi tantangan terbesar bagi mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Namun bagi Lauw Aaron Christoperus Prayogo

TIMES Indonesia,
Bebas Skripsi, Mahasiswa Universitas Ma Chung Malang Ciptakan Inovasi Berdampak Nyata
Lauw Aaron Christoperus Prayogo, mahasiswa Prodi Information System Universitas Ma Chung.
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Skripsi sering kali menjadi tantangan terbesar bagi mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Namun bagi Lauw Aaron Christoperus Prayogo, mahasiswa Prodi Information System Universitas Ma Chung Malang tugas akhir justru menjadi kesempatan emas untuk berkarya dan menghasilkan inovasi yang berdampak nyata. Melalui jalur Tugas Akhir Teknologi Tepat Guna (TTG), Aaron tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya, tetapi juga menciptakan solusi konkret yang bermanfaat bagi masyarakat.

Berkarya Melalui Teknologi Tepat Guna

Advertisement

Berbeda dengan tugas akhir konvensional yang wajib ditempuh mahasiswa pada umumnya, Universitas Ma Chung memberikan fleksibilitas melalui proyek inovatif. Peluang inilah yang diambil oleh Aaron. Sembari menuntaskan kewajiban akademiknya, ia berhasil melahirkan inovasi teknologi yang siap guna.

“Saya merasa jalur TTG memberikan ruang yang lebih luas bagi saya untuk menghasilkan sesuatu yang langsung berdampak nyata di masyarakat,” ungkap Aaron.

Proyek yang digarapnya berwujud sistem berbasis website yang berfokus pada Disaster Spatial Learning. Sistem ini dirancang khusus untuk mengelola asesmen guna mengukur tingkat kesadaran (awareness) siswa terhadap bencana alam secara kontekstual.

Inovasi ini lahir dari keprihatinannya saat melihat kondisi sebuah sekolah mitra yang berada di kawasan rawan bencana. Mulai dari erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir, hingga hujan abu, seluruhnya berpotensi melanda wilayah tersebut. Kondisi geografis ini menyadarkan Aaron bahwa edukasi kebencanaan tidak bisa lagi bersifat umum (generik), melainkan harus relevan dengan ancaman nyata di lingkungan sekitar.

“Dari sanalah sistem ini hadir sebagai solusi. Kedepannya, kami berharap sistem ini tidak berhenti di satu sekolah saja, melainkan dapat diperluas jangkauannya hingga skala regional bahkan nasional,” jelasnya.

Advertisement

Proses Perancangan dan Pengakuan Ilmiah

Proses kreatif ini diawali dengan studi literatur mendalam seputar Disaster Spatial Learning, yang dilanjutkan dengan riset lapangan di sekolah mitra untuk memahami kebutuhan riil di sana. Berdasarkan temuan tersebut, sistem mulai dirancang dan dikembangkan di bawah bimbingan intensif dosen pembimbing.

Kerja keras Aaron membuahkan hasil yang membanggakan. Proyek ini berhasil disusun menjadi artikel ilmiah yang menembus jurnal, sekaligus memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai pengakuan resmi atas orisinalitas karyanya.

Bagi Aaron, Program Studi Information System Universitas Ma Chun berhasil membuka ruang inovasi ini bagi mahasiswanya. “Saya merasa beruntung karena Universitas Ma Chung, khususnya Program Studi Sistem Informasi, membuka kesempatan ini bagi mahasiswanya. Ini mencerminkan visi program studi yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga mendorong mahasiswanya untuk menjadi problem-solver yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Mengasah Kepemimpinan di Organisasi Kampus

Selama masa kuliah, Aaron tidak hanya bersinar di bidang akademik. Ia juga aktif mengasah kemampuan interpersonal dan kepemimpinannya selama tiga tahun di Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Universitas. Dedikasinya membawa Aaron dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum pada tahun terakhirnya.

Bagi Aaron, ada banyak pelajaran berharga yang ia dapatkan dari berorganisasi:

  • Jaringan yang Luas: Membangun relasi yang tidak hanya bernilai selama kuliah, tetapi juga menjadi modal penting di dunia profesional.
  • Wadah Mengasah Soft Skills: Organisasi menjadi laboratorium nyata untuk melatih kemampuan komunikasi dan kepemimpinan yang sulit didapatkan hanya dari bangku kelas.
  • Manajemen Krisis: Belajar mengelola dinamika tim, mengambil keputusan krusial di bawah tekanan, dan kepercayaan anggota.

“Pengalaman ini menjadi salah satu babak paling membentuk dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa,” terang Aaron.

Ekosistem yang Suportif

Bagi Aaron, kunci keberhasilannya dalam menyeimbangkan organisasi dan prestasi akademik terletak pada dua faktor utama: rekan organisasi yang suportif dan kehadiran dosen pembimbing yang mendampingi proses akademiknya.

“Saya bangga bisa menjadi salah satu mahasiswa Universitas Ma Chung. Banyak hal yang bisa di-highlight, terutama dosen pembimbing dan dosen-dosen akademik lainnya yang sangat suportif,” ungkapnya.

“Di tengah padatnya tuntutan akademik dan tanggung jawab organisasi yang berjalan bersamaan, mereka ada untuk terus mendampingi masa akademik dan tetap mendorong untuk tidak menyerah pada amanah yang sudah diemban,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia