Menhaj Bahas Capaian Kesehatan dan Evaluasi KKHI di Madinah
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Menhaj RI) Mochamad Irfan Yusuf menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan Indonesia pada masa operasional ibadah haji tahun 1447 H/2026 M sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MADINAH – Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Menhaj RI) Mochamad Irfan Yusuf menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan Indonesia pada masa operasional ibadah haji tahun 1447 H/2026 M sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.
“Terbukti angka kematian turun, tahun kemarin pada hari (operasional-red) yang sama itu 301 dan sekarang ini kita 208,” ucap Menhaj RI Mochamad Irfan Yusuf kepada Media Center Haji saat Media Briefing di Madinah, Kamis (4/6/2026) kemarin.
Meskipun ada penurunan dan lebih baik, lanjut Menhaj Mochamad Irfan Yusuf, angka ini masih belum memuaskan dan menjadi catatan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia maupun pemerintah Arab Saudi.
“Kita berusaha keras dan ini memang belum memuaskan buat kita apalagi buat teman-teman di Saudi. Ini juga menjadi catatan mereka dan kita akan bekerja keras untuk ini,” kata pria yang akrab disapa Gus Irfan.

Selain menurunnya angka jemaah haji Indonesia yang wafat pada periode atau waktu yang sama, Gus Irfan juga mengungkapkan salah satu capaian di kesehatan adalah terbitnya izin beroperasi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Madinah.
Meskipun izin operasional telah diberikan, Gus Irfan bersama jajarannya sedang mempertimbangkan keberlanjutan KKHI karena kebijakan dari Pemerintah Arab Saudi yang menurut Gus Irfan kehadiran klinik ini perlu dikaji lagi.
“Jadi kita pertimbangkan apakah perlu dipertahankan KKHI. KKHI ini walaupun boleh beroperasi tapi regulasinya bahwa KKHI ini tidak boleh merawat inap. Kalau tidak boleh merawat inap ya ngapain kita bikin KKHI. Sehingga kita berpikiran ada klinik satelit kemudian langsung ke rumah sakit,” ungkap Gus Irfan.

“Itu pemikiran kami dan ini akan kita matangkan nanti. Kita matangkan dengan teman-teman di KKHI maupun Kementerian Kesehatan Saudi,” tandasnya.
Sebagai informasi, selain KKHI di setiap sektor juga terdapat klinik satelit yang diisi oleh dokter, perawat yang bertugas di sektor-sektor dan dibantu dokter dan perawat dari tiap-tiap kelompok terbang (kloter).
Klinik satelit ini berperan mengatasi permasalahan kesehatan sebelum dikirim ke KKHI ataupun jika sakit yang serius, dari klinik satelit di sektor bisa langsung dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi dengan sepengetahuan KKHI. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


