Advertisement
Indonesia Positif

Nida Putri N, Penyanyi Indie yang Tumbuh dari Proses dan Rasa

Perjalanan seorang penyanyi tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ada yang tumbuh pelan-pelan dari ruang kecil, dari keberanian yang belum utuh, dari proses belajar yang panjang, hingga akhirnya menemukan suara dan caranya sendiri dalam bermusik.

TIMES Indonesia,
Nida Putri N, Penyanyi Indie yang Tumbuh dari Proses dan Rasa
Nida Putri N, penyanyi indie yang membangun perjalanan musiknya melalui proses panjang, karakter vokal lembut, dan kejujuran dalam menyampaikan rasa. (Foto: Dok. Pribadi Nida Putri N)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

TANGERANG Perjalanan seorang penyanyi tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ada yang tumbuh pelan-pelan dari ruang kecil, dari keberanian yang belum utuh, dari proses belajar yang panjang, hingga akhirnya menemukan suara dan caranya sendiri dalam bermusik.

Hal itu juga dirasakan oleh Nida Putri Nashiroh, yang dikenal dengan nama panggung Nida Putri N. Penyanyi indie kelahiran Jakarta, 6 November 2000, ini sejak kecil tumbuh di Tangerang Selatan dan mulai mengenal dunia tarik suara sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Advertisement

Awal ketertarikan Nida pada musik muncul ketika ia mengikuti paduan suara di sekolah. Saat itu, salah satu guru mulai memperhatikan kualitas suaranya dan menilai bahwa Nida memiliki potensi untuk dikembangkan. Meski begitu, Nida belum langsung percaya diri.

Rasa percaya diri itu baru perlahan tumbuh ketika ia duduk di kelas 8 SMP. Dorongan dari guru dan lingkungan sekolah membuat Nida mulai berani tampil solo dalam berbagai kegiatan. Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika ia mendapat apresiasi dari pihak sekolah setelah memenangkan lomba solo vokal.

Kemenangan tersebut menjadi titik penting bagi Nida. Dari sana, ia mulai merasa bahwa menyanyi bukan hanya kegiatan yang ia sukai, tetapi juga sesuatu yang bisa ia tekuni lebih serius.

“Saat mendapat apresiasi dari sekolah dan menang lomba solo vokal, aku semakin percaya diri dan mulai yakin kalau aku memang bisa bernyanyi,” ujar Nida.

Dalam perjalanan musiknya, sosok ibu menjadi salah satu figur paling berpengaruh bagi Nida. Sang ibu mendukung minat Nida di dunia tarik suara, termasuk membantu Nida mengikuti les vokal meski dengan segala keterbatasan. Dukungan itu menjadi bagian penting dalam proses tumbuhnya rasa percaya diri Nida sebagai penyanyi.

Advertisement

Dari sekolah, perjalanan Nida kemudian berkembang ke lingkungan komunitas. Ia mulai membangun pengalaman bernyanyi dari ruang-ruang kecil, sebelum akhirnya memanfaatkan media sosial seperti YouTube dan Instagram untuk memperkenalkan suaranya kepada lebih banyak orang. Seiring waktu, Nida juga mulai tampil dari panggung ke panggung.

Bagi Nida, setiap fase itu memiliki peran penting. Ia tidak melihat proses bermusiknya sebagai perjalanan yang instan. Justru dari proses panjang itulah ia belajar mengenal karakter vokal dan cara menyampaikan lagu dengan lebih jujur.

Nida mendeskripsikan warna vokalnya sebagai soft dan agak tipis. Karakter tersebut membuatnya cenderung memilih konsep aransemen yang sederhana, agar suaranya tetap terdengar jelas dan tidak bertabrakan dengan instrumen.

Pilihan itu juga membentuk arah musikal Nida. Ia merasa dekat dengan warna musik pop, folk, ballad, akustik, serta piano-orchestra. Nuansa musik yang tenang dan lembut memberi ruang bagi Nida untuk menyampaikan emosi dalam lagu tanpa harus memaksakan vokalnya terdengar besar.

“Aku merasa vokalku soft dan agak tipis. Karena itu, aku lebih memilih aransemen yang sederhana supaya suara aku tidak bertabrakan dengan instrumen dan tetap bisa terdengar,” jelasnya.

Sebelum lebih banyak membawakan karya sendiri, Nida juga melewati fase cover lagu. Baginya, cover bukan sekadar menyanyikan ulang lagu orang lain. Fase itu menjadi ruang belajar untuk memahami teknik vokal, mengatur pernapasan, hingga mencari cara agar lagu yang dibawakan tetap terasa sebagai versinya sendiri.

Menurut Nida, membawakan lagu orang lain punya tantangan tersendiri. Ia harus keluar dari bayangan penyanyi asli dan berusaha menghadirkan karakter vokalnya sendiri. Dari proses itulah Nida merasa semakin mengenal identitasnya sebagai penyanyi.

Namun, setelah cukup lama membawakan lagu orang lain, Nida mulai merasa perlu memiliki karya sendiri. Ia merasa semua proses belajar dan pengalaman bernyanyi yang dijalani pada akhirnya mengarah pada satu tujuan, yaitu berekspresi melalui lagu yang bisa menjadi cerita dari dirinya sendiri.

Sebagai penyanyi indie, Nida menyadari bahwa perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Keterbatasan biaya produksi dan promosi menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Meski begitu, ia tidak melihat keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti.

Nida tetap berusaha memperkenalkan karyanya melalui berbagai ruang, termasuk media sosial dan platform musik digital. Baginya, era digital memberi peluang bagi penyanyi indie untuk terus berkarya dan menjangkau pendengar secara lebih luas, meski harus berjalan secara mandiri.

Di luar musik, Nida juga menjalani aktivitas lain seperti live streaming dan menjadi host untuk menambah pemasukan. Hal itu menjadi bagian dari cara Nida bertahan sebagai pekerja kreatif, sambil tetap menjaga ruang untuk terus bernyanyi dan berkarya.

Nida tidak menutup mata bahwa menjadi penyanyi juga berkaitan dengan kebutuhan hidup. Namun, ia tetap ingin menjaga makna musik sebagai ruang komunikasi dan olah rasa. Baginya, bernyanyi bukan hanya soal suara, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa menyampaikan isi hati melalui nada.

“Buat aku, bernyanyi itu komunikasi dan olah rasa. Menyampaikan isi hati. Mau di panggung besar atau di rumah, bernyanyi tetap sama,” ungkapnya.

Dalam berkarya, Nida berusaha menyeimbangkan teknik dan rasa. Teknik vokal tetap penting karena dapat membantu penyanyi menyampaikan emosi dengan lebih baik. Namun, jika harus memilih, Nida tetap menempatkan rasa sebagai hal utama.

Bagi Nida, inti dari musik adalah menyampaikan perasaan. Itulah yang ingin ia bawa dalam setiap lagu yang dinyanyikan, baik melalui karya sendiri maupun lagu yang ia bawakan ulang.

Nida juga ingin dikenal sebagai penyanyi yang punya cerita. Ia tidak ingin orang hanya mendengar suaranya, tetapi juga merasakan apa yang ingin ia sampaikan melalui lagu. Karena itu, karakter lembut dalam vokalnya bukan sekadar ciri suara, melainkan bagian dari cara Nida membangun kedekatan dengan pendengar.

“Aku lebih nyaman dikenal sebagai penyanyi yang punya cerita. Buat aku, bernyanyi itu bercerita tentang isi hati lewat nada. Tujuannya adalah ketika pendengar bisa ikut merasakan apa yang kita rasakan lewat lagu,” tuturnya.

Ke depan, Nida ingin terus belajar menulis karya sendiri. Ia berharap lagu-lagunya suatu hari bisa didengar lebih luas dan menemani banyak orang dalam berbagai fase kehidupan. Bagi Nida, hasil adalah bonus dari Tuhan, sementara proses adalah bagian yang harus terus dijalani.

Ia percaya bahwa perjalanan musik bukan sesuatu yang selesai dalam waktu singkat. Musik adalah ruang untuk terus belajar, tumbuh, dan memahami diri sendiri.

“Proses itu selamanya. Hasil adalah bonus dari Tuhan. Fokusku adalah bagaimana aku bisa nyaman, menikmati, dan merasa hidup di setiap prosesnya,” kata Nida.

Melalui perjalanan yang ia jalani, Nida ingin menunjukkan bahwa karya yang lahir dari proses sederhana dan keterbatasan tetap bisa memiliki makna. Baginya, selama sebuah karya dibuat dengan hati, lagu itu akan menemukan pendengarnya sendiri.

“Sesuatu yang dibuat dengan hati akan didengar dengan hati,” tutup Nida. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia