Advertisement
Indonesia Positif

Akademisi Tekankan Parenting Islami dalam Mengasuh Anak Masa Kini

Komunikasi yang efektif sebaiknya mendahulukan pesan positif sebelum menyampaikan larangan atau hal negatif. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar yang mengedepankan ajakan kepada kebaikan terlebih dahulu.

TIMES Indonesia,
Akademisi Tekankan Parenting Islami dalam Mengasuh Anak Masa Kini
Drs. Taufik Djafri, MM saat menjelaskan materi manajemen keluarga islami. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Pola komunikasi orang tua dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak di tengah tantangan era digital. Hal tersebut disampaikan akademisi STIE Malangkuçeçwara,

Masyarakat yang menjadi kajian manajemen keluarga. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Masyarakat yang menjadi kajian manajemen keluarga. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)

dalam kajian bertajuk “Memperbarui Sikap dan Perilaku Anggota Keluarga Menuju Akhlakul Karimah”, Rabu (10/6/2026) di Masjid Sabilillah Malang. 

Advertisement

Dalam kajiannya, ia menjelaskan mengenai manajemen keluarga sebagai upaya membangun hubungan yang lebih harmonis antara orang tua dan anak. Menurutnya, pendidikan keluarga perlu dimulai dari pembenahan diri orang tua sebelum membimbing anak-anak mereka. 

“Bagaimana orang tua memperbarui sikap dan mentalnya terlebih dahulu, baru membenahi anak-anak, itulah manajemen keluarga yang baik,” ujarnya. 

Salah satu pendekatan yang ia tekankan adalah penggunaan bahasa Qurani dalam berkomunikasi. Menurutnya, komunikasi yang efektif sebaiknya mendahulukan pesan positif sebelum menyampaikan larangan atau hal negatif. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar yang mengedepankan ajakan kepada kebaikan terlebih dahulu.

“Dalam mendidik anak, jangan hanya fokus pada larangan. Anak perlu lebih dahulu diberikan gambaran tentang perilaku yang baik agar pesan yang diterima lebih positif,” tambahnya.

Selain bahasa Qurani, Taufik juga menyoroti pentingnya penggunaan bahasa cinta dalam mengasuh anak. Menurutnya, hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan karakter.

Advertisement

“Ibu dan anak pernah satu tubuh, sehingga disana lintas dimensi yang mereka rasakan. Anak senang, ibu juga akan senang, meskipun jarak keduanya jauh,” imbuhnya. 

Taufik menambahkan bahwa kedekatan emosional tersebut dapat dibangun melalui keteladanan dan pendekatan yang penuh kasih sayang. Orang tua didorong tidak hanya memberikan teori, tetapi juga harus mampu memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak lebih mudah meniru apa yang dilakukan orang tuanya daripada hanya mendengar nasihat,” katanya.

Ia juga mendorong orang tua untuk memberikan pelajaran sederhana kepada anak yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar nilai-nilai moral lebih mudah dipahami anak. Hal tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan menyampaikan nasihat secara langsung yang terkadang membuat anak merasa digurui.

Selain pola komunikasi, Taufik juga menjelaskan pentingnya etika digital di tengah tingginya penggunaan gawai oleh anak-anak. Menurutnya, penggunaan teknologi perlu diimbangi dengan pembiasaan nilai-nilai spiritual.

“Sekarang anak merasa pintar karena pegang gawai, akhirnya nasihat orang tua tidak didengarkan dengan baik,” tambahnya. 

Taufik mencontohkan apabila anak akan makan, maka harus membaca bismillah. Hal tersebut perlu dibiasakan juga jika anak mau membuka gawai, supaya hati dan tangan dapat dipertemukan dengan sesuatu yang baik. 

“Salah satu kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan adalah mengajak anak membaca Bismillah sebelum membuka telepon genggam,” pungkasnya.

Terakhir, Taufik menambahkan bahwa peran orang tua dalam mendampingi anak mengakses dunia digital menjadi penting karena tantangan pengasuhan anak saat ini semakin kompleks.

Terakhir, ia berharap edukasi parenting semacam ini dapat terus berlanjut dan menjadi ruang berbagi bagi para orang tua dalam membangun keluarga yang harmonis serta membentuk generasi yang tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan nilai moral yang kuat.

Sementara itu, Manager Operasional LAZIS Sabilillah,  Sulaiman AP, menjelaskan bahwa materi ini juga menyinggung terkait kesehatan mental keluarga, terutama keluarga kurang mampu. Menurutnya, mereka tidak hanya menghadapi keterbatasan ekonomi, tetapi juga persoalan mental dan wawasan hidup yang masih rendah. Menurutnya, bantuan sosial semata tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut karena berpotensi menimbulkan ketergantungan apabila tidak diimbangi dengan upaya pemberdayaan.

“Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan ekonomi, tetapi juga edukasi mental, jalan hidup, tujuan hidup, dan wawasan lainnya,” ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa lemahnya kondisi mental dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, seperti perilaku kesehatan, pola pengasuhan anak, pendidikan, hingga pergaulan sosial. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia