Mahasiswa UM Gelar Aksi Solidaritas untuk Hana Salsabila
Ratusan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UM menggelar aksi solidaritas di depan Gedung Rektorat pada Kamis sore.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Ratusan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UM menggelar aksi solidaritas di depan Gedung Rektorat pada Kamis sore. Aksi ini diikuti lebih dari 200 mahasiswa sebagai bentuk duka atas meninggalnya Hana Salsabila, mahasiswa Fakultas Teknik UM yang mengalami kecelakaan saat survei program Kuliah Kerja Nyata (KKN/UM BBM) sehari sebelumnya.
Momentum ini menandai kembalinya gerakan massa mahasiswa UM setelah vakum bertahun-tahun. Berbagai organisasi mahasiswa seperti Geram Cakrawala, ACX UM, DPM UM, BEM UM, dan BEM FA turut bergabung, menunjukkan solidaritas lintas kolektif di tengah masa libur semester.

Dalam forum terbuka, Ketua BEM FIS UM, Bima Juliansyah, menegaskan bahwa universitas harus bertanggung jawab penuh atas keselamatan mahasiswa yang menjalankan aktivitas di luar kampus. Ia menekankan perlunya jaminan berupa asuransi atau fasilitas kesehatan bagi mahasiswa KKN. Selain itu, massa aksi juga menyoroti dugaan pelecehan verbal oleh oknum Pusat Sumber Daya Wilayah (PSDW) UM yang hingga kini belum ditangani secara tegas.
Pihak rektorat melalui Dirmawa UM, Dr. Siti Sendari, menyatakan kesediaan untuk menyediakan asuransi bagi mahasiswa KKN, meski masih membutuhkan proses birokrasi. Ia juga menegaskan bahwa kasus pelecehan verbal sedang dalam penanganan. Wakil Rektor 1 UM menambahkan bahwa evaluasi sistem keselamatan dan pengadaan asuransi akan segera diupayakan, serta pihak kampus telah memberikan santunan kepada keluarga korban.

Namun, tanggapan rektorat dinilai normatif oleh mahasiswa. Hilmy, moderator aksi, menekankan bahwa jawaban kampus belum menjawab keresahan mendasar. Ia berharap tuntutan mahasiswa segera ditindaklanjuti agar jaminan keselamatan benar-benar terwujud.
Aksi ditutup dengan doa bersama dan penyalaan lilin di depan Gedung Rektorat sebagai simbol duka sekaligus pengingat perjuangan hak-hak mahasiswa. Gerakan ini menjadi awal bahwa mahasiswa UM akan terus mengawal janji kampus terkait asuransi keselamatan KKN dan penuntasan kasus pelecehan hingga tuntas. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

