Di Pamekasan, Tim Riset UB Hibahkan Mesin Pencacah Sampah Organik dan Kembangkan Turunan Eco-Enzyme
Tim Riset Universitas Brawijaya (UB) mendorong pengelolaan sampah organik bernilai ekonomi melalui pelatihan pembuatan eco-enzyme dan beragam produk turunannya di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
PAMEKASAN – Tim Riset Universitas Brawijaya (UB) mendorong pengelolaan sampah organik bernilai ekonomi melalui pelatihan pembuatan eco-enzyme dan beragam produk turunannya di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.
Selain memberikan pelatihan kepada para pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), tim riset juga menghibahkan dua unit mesin pencacah sampah organik kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pamekasan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) yang didanai oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Riset tersebut mengangkat tema pengolahan sampah organik dan penguatan ekonomi sirkular sebagai upaya mengurangi timbunan sampah sekaligus menciptakan produk ramah lingkungan yang memiliki nilai tambah.
Sejak Februari hingga Mei 2026, Tim Riset UB telah melakukan kajian mengenai volume sampah organik dan kondisi kesuburan tanah di wilayah penelitian.
Hasil kajian tersebut kemudian diperkuat melalui pelatihan yang melibatkan 30 pengelola TPS3R mitra DLH Kabupaten Pamekasan pada 11–12 Juni 2026.
Pelatihan yang berlangsung di Kantor DLH Kabupaten Pamekasan itu dirancang dalam dua tahap. Hari pertama difokuskan pada penguatan pengetahuan peserta, sedangkan hari kedua diisi dengan praktik pembuatan eco-enzyme dan produk turunannya.
Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga keterampilan yang dapat langsung diterapkan di TPS3R masing-masing.
Materi pada hari pertama membahas pemanfaatan sampah organik dalam kerangka ekonomi sirkular.
Peserta diperkenalkan pada cara mengolah eco-enzyme menjadi berbagai produk bernilai guna, seperti sabun cuci piring, sabun cuci tangan, sabun mandi, pupuk organik cair, cairan pembersih lantai dan kamar mandi, serta produk kebersihan ramah lingkungan lainnya.
Materi disampaikan oleh Ketua Tim Riset UB, Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., ASEAN Eng., bersama anggota tim, Dr. Prisca Kiki Wulandari, S.Pd., M.Sc.
Keduanya menekankan bahwa sampah buah dan sayur yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi bahan baku produk rumah tangga sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Persoalan Air Menjadi Perhatian Peserta
Pelatihan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB tersebut mendapat respons antusias dari peserta.
Sebagian besar pengelola TPS3R di Kabupaten Pamekasan diketahui telah mencoba mengolah sampah organik menjadi eco-enzyme. Namun, hasil fermentasi yang diperoleh belum selalu sesuai standar yang diharapkan.
Peserta memanfaatkan sesi diskusi untuk mengevaluasi praktik yang selama ini mereka lakukan.
Pertanyaan yang mengemuka antara lain berkaitan dengan komposisi bahan, proses fermentasi, ciri-ciri eco-enzyme yang berhasil, serta penyebab munculnya aroma, warna, dan tekstur yang tidak sesuai.
Jenis air yang digunakan dalam proses pembuatan eco-enzyme juga menjadi perhatian utama. Kondisi geografis sejumlah wilayah di Pamekasan yang mengalami kekeringan dan berdekatan dengan kawasan pesisir menyebabkan sumber air memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Kandungan mineral maupun tingkat salinitas air dinilai dapat memengaruhi proses fermentasi dan kualitas produk yang dihasilkan.
Pembahasan tersebut menjadi penting karena keberhasilan pengolahan sampah tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan organik. Ketepatan komposisi, kualitas air, kebersihan wadah, dan pengendalian proses fermentasi turut menentukan mutu eco-enzyme.
Mesin Pencacah Percepat Proses Pengolahan
Pada akhir pelatihan hari pertama, Dr. Rita Parmawati menyerahkan dua unit mesin pencacah sampah organik kepada DLH Kabupaten Pamekasan.
Mesin yang dirancang oleh Ketua Tim Riset UB tersebut diperuntukkan bagi pencacahan sampah buah dan sayur sebagai bahan utama pembuatan eco-enzyme.
Mesin itu diharapkan dapat mengatasi persoalan lamanya proses persiapan bahan yang sebelumnya dilakukan secara manual. Dengan ukuran potongan yang lebih kecil dan seragam, permukaan bahan organik yang berinteraksi dalam proses fermentasi menjadi lebih luas.
Kondisi tersebut berpotensi membuat pengolahan lebih efektif dan membantu mempercepat penguraian bahan.
Penggunaan mesin pencacah juga dapat menghemat tenaga dan waktu para pengelola TPS3R. Sampah buah dan sayur dalam jumlah besar dapat dihancurkan dengan lebih cepat dibandingkan pemotongan menggunakan pisau secara manual.
Sebagai contoh hasil inovasi, Tim Riset UB turut membagikan paket produk turunan eco-enzyme kepada peserta. Setiap paket berisi sabun cuci tangan, cairan pembersih lantai dan kamar mandi, serta pupuk organik cair.
Produk tersebut diharapkan menjadi referensi bagi pengelola TPS3R untuk mengembangkan produk serupa sesuai dengan potensi dan kebutuhan wilayah masing-masing.

Tiga Drum Eco-Enzyme Dibuat dalam 30 Menit
Memasuki hari kedua, peserta terlibat langsung dalam proses pengolahan sampah organik. Bersama Tim Riset UB, mereka mempraktikkan penggunaan mesin pencacah sekaligus membuat eco-enzyme dalam tiga drum fermentasi.
Salah satu anggota Tim Riset, Ichi Fiaqi Hamada, S.T menjadi fasilitator dalam pembuatan eco-enzym dan produk turunannya.
Setiap proses produksi menggunakan molase atau gula merah cair, sampah buah dan sayur, serta air dengan komposisi yang telah ditentukan. Sebanyak tiga kilogram sampah buah dan sayur dicacah menggunakan mesin sebelum dicampurkan dengan bahan lainnya.
Berkat penggunaan mesin pencacah, persiapan tiga drum eco-enzyme dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 30 menit.
Praktik ini memberikan pengalaman baru kepada peserta mengenai pentingnya teknologi tepat guna dalam pengelolaan sampah.
Mesin berukuran sederhana dapat meningkatkan efisiensi kerja sekaligus memperbesar kapasitas pengolahan sampah organik di tingkat TPS3R.
Setelah mempraktikkan pembuatan eco-enzyme, peserta diajak mengolah cairan hasil fermentasi yang telah disiapkan sebelumnya menjadi produk turunan.
Produk pertama yang dibuat adalah sabun cair. Tim riset memperkenalkan penggunaan bahan pendukung dan tahapan pencampuran yang diperlukan agar eco-enzyme dapat diolah menjadi sabun yang layak digunakan.
Praktik berikutnya adalah pembuatan cairan pembersih lantai dan kamar mandi. Peserta dikenalkan pada fungsi setiap bahan, teknik pencampuran, ketepatan takaran, serta aspek kehati-hatian dalam proses produksi. Penambahan minyak esensial juga diperkenalkan untuk memberikan aroma pada produk akhir.
Untuk mendukung penerapan secara mandiri, seluruh peserta memperoleh modul yang berisi formula, komposisi bahan, tahapan kerja, dan informasi dasar pengembangan produk turunan eco-enzyme.
Formula tersebut merupakan hasil inovasi Dr. Rita Parmawati dan telah didaftarkan untuk memperoleh perlindungan kekayaan intelektual.
Dari Pengolahan Sampah Menuju Peluang Usaha
Pelatihan tidak berhenti pada kemampuan memproduksi eco-enzyme. Para peserta berharap produk yang telah dikembangkan dapat dipasarkan secara lebih luas dan digunakan oleh masyarakat.
Dengan demikian, pengolahan sampah organik tidak hanya berfungsi mengurangi volume sampah, tetapi juga dapat menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Pengembangan produk turunan membuka peluang bagi TPS3R untuk bertransformasi dari tempat pengolahan sampah menjadi unit produksi berbasis lingkungan.
Sampah buah dan sayur yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat praktis dan nilai jual.
Peserta juga menilai edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan. Penggunaan produk pembersih yang lebih ramah lingkungan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi pencemaran air dan tanah akibat pemakaian bahan kimia rumah tangga secara berlebihan.
Selain pendampingan produksi, para pengelola TPS3R mengharapkan adanya pelatihan lanjutan mengenai pengemasan, standardisasi mutu, perizinan, pencatatan biaya produksi, pemasaran digital, dan pengembangan jaringan pasar.
Kemampuan tersebut dibutuhkan agar produk turunan eco-enzyme dapat diterima masyarakat dan memiliki daya saing.
Kolaborasi Tim Riset UB, BRIN, DLH Kabupaten Pamekasan, dan pengelola TPS3R ini menjadi langkah awal dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih produktif.
Melalui perpaduan riset, teknologi tepat guna, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat, sampah organik tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat mendukung ekonomi lokal.
Program tersebut sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-6 tentang air bersih dan sanitasi layak serta tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

