Belum Lulus, Siswa SMK Telkom Sudah Diterima 24 Kampus Luar Negeri Sekaligus
Ada yang berbeda dari riuh tepuk tangan di acara pelepasan siswa SMK Telkom Malang tahun ini. Sebanyak 460 siswa angkatan XXXII resmi dilepas dalam gelaran bertajuk SHINE,
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Ada yang berbeda dari riuh tepuk tangan di acara pelepasan siswa SMK Telkom Malang tahun ini. Sebanyak 460 siswa angkatan XXXII resmi dilepas dalam gelaran bertajuk SHINE, Student Honoring Innovations and Noteworthy Excellence. Namun, di balik air mata haru orang tua, ada cerita-cerita yang membuat banyak orang berpikir ulang soal anggapan lama tentang anak SMK.
Kepala SMK Telkom Malang Rahmat Dwi Djatmiko, S.Kom., M.M. menyampaikan hal itu dengan gamblang di hadapan para wisudawan. Menurut dia, kelulusan tahun ini menjadi bukti bahwa stigma "lulus SMK hanya untuk kerja" sudah tidak berlaku di sekolahnya yang memiliki slogan School of Global Digitalent. Para siswa punya tiga jalur yang bisa mereka pilih sesuai mimpi masing-masing: langsung bekerja, melanjutkan kuliah di dalam negeri, atau terbang menembus kampus-kampus luar negeri.
Angka-angkanya pun bicara. Sebanyak 69 siswa sudah diterima bekerja bahkan sebelum hari wisuda tiba. Sebagian di antaranya langsung masuk ke perusahaan papan atas. Dua nama, Cipto Yafig Adiwongso dan Muhammad Zuhair Zuhdi, kini tercatat sebagai Junior Cyber Security di PT Telkom Indonesia. Posisi yang biasanya diperebutkan para sarjana.
Yang memilih jalur akademis tidak kalah mentereng. Total 145 siswa diterima di perguruan tinggi. Rinciannya, 45 siswa lolos lewat SNBP, 38 siswa melalui SNBT, 52 siswa diterima di perguruan tinggi swasta, satu siswa masuk jalur kedinasan BCA, dan 9 siswa diterima di kampus luar negeri. Nama-nama kampus tujuan mereka pun bukan sembarangan: Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya (UB), hingga Telkom University.
Sementara itu, pintu dunia juga terbuka lebar. Total 31 Letter of Acceptance (LoA) berhasil dikantongi siswa SMK Telkom Malang dari kampus-kampus luar negeri bereputasi tinggi. Sebut saja Monash University dan Macquarie University di Australia, Deakin University, sampai University of British Columbia di Kanada.
Di tengah ratusan cerita sukses itu, satu nama mendadak jadi perbincangan hangat: Radika Afwa Bimalaksa. Peraih penghargaan Siswa Terbaik Nonakademik ini mencatatkan pencapaian yang sulit dipercaya. Radika mengantongi LoA dari 24 universitas luar negeri sekaligus, tersebar di 11 negara. Mulai Australia, Tiongkok, Kanada, Selandia Baru, Hong Kong, Jerman, Belanda, Uni Emirat Arab, Rusia, hingga Hungaria.

Pilihan yang kini ada di tangan Radika pun tidak main-main. Ada University of Auckland di Selandia Baru untuk jurusan Bachelor of Science bidang Computer Science, The Hong Kong Polytechnic University (PolyU) untuk jurusan Computer AI serta Information and Artificial Intelligence Engineering, sampai University of Toronto di Kanada, salah satu kampus paling prestisius di Amerika Utara. Tak hanya itu, ia juga mengantongi potongan biaya kuliah dari sejumlah kampus Australia, mulai 10 persen di University of Southern Queensland hingga 30 persen di University of Wollongong, plus enam program beasiswa yang sedang ia ikuti.
Menariknya, Radika justru menjadikan latar belakangnya sebagai anak SMK sebagai senjata, bukan beban. Banyak siswa SMK, kata dia, merasa minder karena 80 persen pembelajaran di sekolah berupa praktik sehingga khawatir lemah di kemampuan riset saat kuliah nanti. Padahal, menurutnya, kuncinya ada pada kejelian memilih kampus yang sesuai dengan latar belakang itu.
"Saya memilih banyak kampus di Australia karena dominan dengan praktik. Atau PolyU di Hong Kong, yang ujian akhirnya juga mengandalkan praktik di dunia IT," ungkapnya. Bukan kebetulan pula komposisi belajar di PolyU mirip dengan sekolahnya: 80 persen praktik, 20 persen teori.
Ia juga punya pesan untuk adik-adik kelasnya yang bermimpi kuliah di luar negeri. Prioritaskan nilai IELTS hingga 7 ke atas agar syarat kampus terpenuhi dan lebih tenang menyiapkan berkas pendukung lain seperti SAT dan transkrip. Satu lagi yang sering luput, pastikan kampus tujuan tidak mewajibkan nilai Fisika. Karena mata pelajaran itu tidak ada di kurikulumnya.
Di balik semua pencapaian itu, Radika tidak lupa menyebut peran gurunya. "Bagi saya, 99 persen guru belum mau menyempatkan waktu di luar jam kerjanya hanya untuk ambisi muridnya. Namun di SMK Telkom Malang, saya mendapat kesempatan 1 persen itu," tuturnya. Ia bahkan mendapat gambaran langsung soal fasilitas PolyU dari gurunya di bidang Cyber Security, Joni Setyawan, yang pernah berkunjung ke kampus tersebut.
Pihak sekolah menegaskan, keberhasilan Radika dan 459 lulusan lainnya bukan datang tiba-tiba. Semua adalah buah dari ekosistem belajar yang fokus pada inovasi serta kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Hasilnya, para lulusan SMK Telkom Malang tidak gagap ketika harus bersaing baik di dunia industri, seleksi perguruan tinggi nasional, maupun panggung kampus global. Anak SMK, terbukti, bisa bersinar di mana saja. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

