Advertisement
Indonesia Positif

Malam Budaya Tutup Bulan Buya Syafii Maarif 2026, Warisan Sang Guru Bangsa Terus Dihidupkan

MAARIF Institute menutup Bulan Buya Syafii Maarif 2026 dengan Malam Budaya dan peluncuran buku di Museum Nasional sebagai upaya merawat warisan pemikiran Sang Guru Bangsa.

TIMES Indonesia,
Malam Budaya Tutup Bulan Buya Syafii Maarif 2026, Warisan Sang Guru Bangsa Terus Dihidupkan
MAARIF Institute menutup Bulan Buya Syafii Maarif 2026 dengan Malam Budaya dan peluncuran buku di Museum Nasional sebagai upaya merawat warisan pemikiran Sang Guru Bangsa.
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Warisan pemikiran dan keteladanan moral almarhum Ahmad Syafii Maarif dinilai tetap relevan di tengah berbagai tantangan kebangsaan yang dihadapi Indonesia saat ini. Semangat itulah yang kembali ditegaskan MAARIF Institute melalui puncak peringatan Bulan Buya Syafii Maarif 2026 yang ditandai dengan penyelenggaraan "Malam Budaya" dan peluncuran buku di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di ruang Teater Museum Nasional tersebut menjadi penutup rangkaian Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif yang sebelumnya digelar di Yogyakarta bersama Kiniko Art serta di Padang Panjang bekerja sama dengan Talago Bumi sepanjang Mei hingga Juni 2026.

Advertisement

Melalui berbagai kegiatan tersebut, MAARIF Institute menegaskan komitmennya untuk terus merawat dan menghidupkan nilai-nilai yang diwariskan tokoh yang dikenal sebagai Guru Bangsa itu.

Acara dibuka dengan penampilan Tari Nandak Ajer khas Betawi yang dibawakan siswa SMA Muhammadiyah 4 Depok, sebelum memasuki rangkaian sambutan dan peluncuran buku.

Menjaga Api Pemikiran Buya Syafii

Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo, Ph.D., mengatakan peringatan Bulan Buya Syafii Maarif bukan sekadar mengenang sosok, melainkan menjaga agar gagasan-gagasannya tetap hidup dan menjadi inspirasi di tengah situasi bangsa yang terus berubah.

Menurutnya, nilai-nilai progresif, penghormatan terhadap pluralisme, serta kemanusiaan universal yang selama ini diperjuangkan Buya Syafii perlu terus dijaga.

"Melalui rangkaian kegiatan Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif ini, MAARIF Institute menegaskan komitmennya untuk menjaga api pemikiran Buya Syafii Maarif tetap menyala dalam situasi bangsa yang semakin merosot. Penting bagi kita untuk menjaga nilai Buya Syafii Maarif yaitu progresif, menghargai pluralisme dan kemanusiaan yang universal," ujar Andar.

Advertisement

Senada dengan itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., menilai sosok Buya Syafii tidak hanya dikenang karena kedalaman pemikirannya, tetapi juga karena keteladanan hidupnya.

Menurut dia, peringatan Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif bukan dimaksudkan untuk mengkultuskan seorang tokoh, melainkan menghadirkan inspirasi bagi generasi muda.

"Seorang sosok tidak hanya dilihat dari kedalaman pemikirannya, tetapi juga tata laku dan perilakunya," kata Fajar.

Dalam kesempatan tersebut, MAARIF Institute juga meluncurkan buku berjudul Buya Syafii di Mata Orang Biasa.

Peluncuran ditandai dengan penandatanganan replika buku secara simbolis oleh keluarga, kontributor, narasumber, dan sejumlah sahabat dekat Buya Syafii.

Buku tersebut menghadirkan kumpulan kenangan dan kesaksian dari masyarakat biasa yang pernah berinteraksi dengan Ahmad Syafii Maarif di berbagai fase kehidupannya, mulai dari kampung halamannya di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, Jakarta, hingga Yogyakarta yang menjadi tempat pengabdiannya selama bertahun-tahun.

Fadli Zon: Buya Syafii Adalah Guru Bangsa

Puncak acara diisi dengan Pidato Kebudayaan yang disampaikan Menteri Kebudayaan RI, Prof. (HC) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.

Menurut Fadli Zon, Ahmad Syafii Maarif merupakan sosok yang memiliki kesederhanaan dan konsistensi antara pemikiran serta tindakan, sehingga layak disebut sebagai Guru Bangsa.

"Pak Syafii juga sangat menghormati budaya dan bangsanya, yang dapat kita jadikan teladan dan terus dirawat oleh MAARIF Institute untuk menjaga pikiran dan keteladanan beliau," ujarnya.

Fadli Zon juga mengingatkan pentingnya amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan tanggung jawab negara dalam memajukan kebudayaan nasional serta menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara nilai-nilai budaya.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan keberagaman yang sangat besar memiliki kekayaan budaya, baik warisan benda maupun tak benda, yang harus terus dijaga dan didokumentasikan.

Pemikiran Buya Syafii, lanjut dia, sejalan dengan upaya menjaga identitas kebangsaan melalui pelestarian budaya.

Refleksi Melalui Puisi dan Testimoni

Suasana reflektif semakin terasa melalui pembacaan puisi oleh David Krisna Alka yang dilanjutkan dengan testimoni sejumlah tamu undangan.

Masing-masing berbagi kisah dan kenangan tentang Ahmad Syafii Maarif sebagai seorang intelektual, pendidik, sekaligus teladan moral yang meninggalkan jejak mendalam bagi banyak kalangan.

Melalui penutupan Bulan Buya Syafii Maarif 2026 ini, MAARIF Institute berharap semangat kebangsaan, keberagaman, dan kemanusiaan yang diperjuangkan Ahmad Syafii Maarif terus hidup serta menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam merawat Indonesia yang inklusif dan berkeadaban. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia