IKA PMII Merdeka Malang Dilantik, Siap Dampingi Kader Hadapi Tantangan Generasi Z
Perubahan karakter generasi muda di era digital menjadi tantangan baru bagi organisasi kemahasiswaan. Pola kaderisasi yang berhasil diterapkan puluhan tahun lalu dinilai tak lagi sepenuhnya relevan untuk menjawab dinamika generasi Z hingga generasi A
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Perubahan karakter generasi muda di era digital menjadi tantangan baru bagi organisasi kemahasiswaan. Pola kaderisasi yang berhasil diterapkan puluhan tahun lalu dinilai tak lagi sepenuhnya relevan untuk menjawab dinamika generasi Z hingga generasi Alpha.
Kesadaran itulah yang menjadi salah satu fokus utama Pengurus Komisariat Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Universitas Merdeka Malang periode 2026-2031 yang resmi dilantik pada Jumat (19/6/2026).
Kepengurusan baru tersebut dipimpin Muhammad Syifa'ul Khoiri, alumni Rayon Hukum PMII Universitas Merdeka Malang yang selama ini aktif di berbagai kegiatan sosial dan kewirausahaan di Kota Malang.
Menurut Syifa, pelantikan IKA PMII Merdeka bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan momentum untuk memperkuat konsolidasi antaralumni sekaligus membangun kedekatan dengan kader aktif PMII.
"Ini menjadi momentum konsolidasi kepada sahabat-sahabat alumni PMII Merdeka yang saat ini telah aktif di bidangnya masing-masing, baik di organisasi masyarakat, pemerintahan maupun dunia usaha. Sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan penguatan jaringan, termasuk dengan kader-kader PMII Merdeka," kata Syifa.
Syifa menilai tantangan terbesar yang dihadapi organisasi mahasiswa saat ini adalah perubahan pola pikir dan karakter generasi muda.
Menurutnya, metode kaderisasi yang diterapkan dua dekade lalu tidak bisa diterapkan secara sama kepada generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat.
"Kami mempunyai tanggung jawab besar untuk mendampingi kader, karena proses kaderisasi saat ini dengan 25 tahun lalu sangat jauh berbeda. Karena itu, kami juga harus berkolaborasi dan berkoordinasi dengan kader-kader yang ada di Malang agar tidak terkikis zaman," ujarnya.
Dia menegaskan, alumni memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga semangat kader agar tetap aktif dalam organisasi ekstra kampus dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Menurut Syifa, banyak kader PMII yang telah menorehkan kiprah di tingkat nasional. Tradisi tersebut, kata dia, harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
"Banyak kader PMII yang menjadi tokoh besar di panggung nasional. Semangat inilah yang akan kami tularkan kepada adik-adik penerus," katanya.
Selain memperkuat hubungan antara alumni dan kader, IKA PMII Merdeka juga berkomitmen membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Organisasi alumni tersebut siap berkontribusi melalui gagasan dan pemikiran konstruktif bersama Pemerintah Kota Malang maupun DPRD Kota Malang demi mendukung pembangunan daerah.
"Kami siap membuka ruang diskusi bersama pemerintah, untuk kebaikan Kota Malang ke depannya," ujar pria yang berlatar belakang pengusaha tersebut.
Dengan semangat kolaborasi dan penguatan kaderisasi, IKA PMII Merdeka Malang berharap dapat menjadi rumah bersama bagi para alumni sekaligus menjadi mitra strategis dalam mencetak generasi muda yang adaptif, kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


