Advertisement
Indonesia Positif

Fenomena Kutu Loncat Gen-Z, Pakar UMM Malang Dorong Adaptasi Perusahaan

Pakar Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM Malang), Kenny Roz S.Kom., M.M., menilai fenomena kutu loncat ala Gen-Z, atau kebiasaan berpindah-pindah pekerjaan bukan sebagai pengukur loyalitas terhadap perusahaan,

TIMES Indonesia,
Fenomena Kutu Loncat Gen-Z, Pakar UMM Malang Dorong Adaptasi Perusahaan
ILUSTRASI: Gen-Z disebut sebagai kutu lompat, pakar UMM dorong sikap adaptif perusahaan. (FOTO: Humaniora.id)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Pakar Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM Malang), Kenny Roz S.Kom., M.M., menilai fenomena kutu loncat ala Gen-Z, atau kebiasaan berpindah-pindah pekerjaan bukan sebagai pengukur loyalitas terhadap perusahaan, tetapi sebagai sinyal dan kritik terhadap industri agar dapat beradaptasi. 

Kenny menjelaskan, kutu loncat Gen-Z sering memunculkan stigma negatif dari perusahaan bahwa mereka kurang loyal dan gampang menyerah. Padahal, Gen-Z mengundurkan diri bukan semata-mata krisis loyalitas, tetapi adanya pergeseran mendasar dari mereka dalam memandang makna dan tujuan pekerjaan. 

Advertisement

“Kutu loncat bukan berarti mereka tidak loyal, itu terjadi karena adanya pergeseran makna dan tujuan dari pekerjaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kenny juga membandingkan makna pekerjaan bagi generasi sebelumnya dan Gen-Z. Menurutnya, generasi sebelumnya lebih memandang pekerjaan sebagai sumber stabilitas ekonomi jangka panjang. Sementara Gen-Z memandang pekerjaan sebagai ruang untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang. 

Ia juga menjelaskan bahwa perputaran karyawan saat ini seiring dengan berkembangnya arus digital yang serba cepat. Tambahnya, tidak ada kecocokan antara janji perusahaan dan kondisi asli di lapangan menjadi pemicu utama kepergian mereka.

“Faktor utama mereka resign adalah karena tidak sesuai antara ekspektasi dan realitas kerja. Mereka dapat memperoleh informasi dengan cepat, ketika perusahaan tidak memberikan ruang berkembang, maka mereka tidak ragu mencari peluang lainnya,” imbuhnya. 

Tak hanya itu, Kenny menilai bahwa gaji atau finansial bukan sebagai senjata untuk menahan Gen-Z. Lanjutnya, generasi saat ini memiliki kriteria yang lebih kompleks dalam memilih tempat kerja, seperti mencakup fleksibilitas jam kerja, keseimbangan hidup (work-life balance), kesehatan mental yang terjaga, serta hubungan atasan-bawahan yang suportif.

Advertisement

“Mereka tidak hanya melihat besaran gaji, tetapi apakah perusahan bisa jadi tempat berkembang, memiliki makna, merasa dihargai sebagai individu, bahkan banyak yang bersedia menerima gaji rendah tetapi dengan lingkungan kerja yang baik dan tidak toksik,” tambahnya. 

Kenny menilai perusahaan perlu untuk merombak strategi retensi karyawan agar tidak terus-menerus kehilangan talenta potensial. Menurutnya, langkah yang krusial adalah menjembatani kesenjangan komunikasi antara pemimpin senior yang masih mendewakan hierarki dan senioritas, dengan Gen Z yang lebih menyukai transparansi, budaya kerja inklusif, dan kolaborasi aktif.

“Perusahaan yang dapat mempertahankan Gen-Z  bukan sekadar menawarkan gaji tinggi, tapi bisa mendengarkan kebutuhan karyawan mereka secara proaktif,” tambahnya. 

Ia juga menuntut perusahaan untuk bisa menciptakan lingkungan kerja yang dapat menghargai manusia sebagai aset utama melalui survei kepuasan maupun kanal dialog yang aman. Sinergi perusahaan yang responsif terhadap budaya kerja modern dan generasi muda yang terus mengasah kemampuannya akan menciptakan ekosistem profesional produktif, inovatif, dan berkelanjutan. (*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia