Advertisement
Indonesia Positif

Sigap di Lapangan, PKP2JH Garda Terdepan bagi Jemaah Haji Indonesia dalam Kondisi Darurat

Keberadaan tim Petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) PPIH Arab Saudi memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam menyelamatkan jemaah haji yang mengalami situasi darurat di Tanah Suci.

TIMES Indonesia,
Sigap di Lapangan, PKP2JH Garda Terdepan bagi Jemaah Haji Indonesia dalam Kondisi Darurat
Petugas PKP2JH saat melakukan pertolongan kepada jemaah haji Indonesia di area Masjidil Haram Makkah. (FOTO: dok. MCH 2026)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

Makkah Keberadaan tim Petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) PPIH Arab Saudi memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam menyelamatkan jemaah haji yang mengalami situasi darurat di Tanah Suci. Melalui sistem pergerakan yang cepat, tim ini fokus mengantisipasi segala potensi bahaya yang mengancam keselamatan fisik maupun kesehatan para jemaah.

Cipto Fidianto, salah satu personel PKP2JH, memaparkan bahwa ruang lingkup kerja mereka meliputi pengawasan ketat di lapangan hingga memastikan tindakan medis lanjutan berjalan lancar.

Advertisement

“Sebagai bagian dari PKP2JH, kami bertugas melakukan pemantauan, pertolongan pertama, stabilisasi awal, koordinasi evakuasi, hingga memastikan jemaah mendapatkan layanan kesehatan lanjutan bila diperlukan,” ujar Cipto di Makkah, dikutip pada Sabtu (20/6/2026).

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai perawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ini menjelaskan bahwa implementasi tugas tersebut diwujudkan lewat patroli keliling di titik-titik keramaian jemaah. Pengawasan diprioritaskan kepada jemaah risiko tinggi (risti), seperti lansia, penyandang disabilitas, serta jemaah dengan penyakit bawaan, terutama di tengah sengatan cuaca ekstrem.

"Kesiapsiagaan menjadi hal yang mutlak karena kondisi jemaah dapat berubah sewaktu-waktu, terutama saat cuaca ekstrem dan kepadatan jemaah meningkat," tambahnya.

Sebagai jembatan antara jemaah dan fasilitas medis, PKP2JH kerap kali diuji dengan berbagai jenis gangguan kesehatan akut yang menyerang jemaah di area terbuka akibat kelelahan fisik.

“Kasus yang paling sering kami temui adalah kelelahan berat, dehidrasi, heat exhaustion, sesak napas, penurunan kesadaran, serta jemaah lanjut usia yang mengalami kesulitan mobilisasi. Tidak jarang kami juga membantu jemaah yang terpisah dari rombongan atau mengalami kebingungan orientasi akibat kelelahan,” ungkap Cipto detail.

Advertisement

Bila menemukan jemaah yang pingsan atau kolaps di jalan, tim penolong ini langsung menerapkan prosedur baku berupa pemeriksaan kilat di tempat kejadian, pemberian tindakan darurat, hingga evakuasi ambulans.

“Kecepatan respons menjadi sangat penting karena beberapa menit pertama sering kali menentukan keberhasilan penanganan,” sebut Cipto menegaskan pentingnya efisiensi waktu.

Setiap tindakan yang diambil di lapangan dipastikan mengacu pada standar keselamatan pasien internasional serta koordinasi yang padu antar-sektor penanganan.

"Seluruh proses dilakukan dengan mengedepankan keselamatan pasien, koordinasi lintas sektor, serta kesinambungan pelayanan agar jemaah mendapatkan penanganan yang optimal," tuturnya.

Ujian terberat bagi ketahanan fisik dan mental petugas PKP2JH terjadi sewaktu fase puncak haji berlangsung di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), di mana jutaan manusia berkumpul di satu area yang sama sehingga ruang gerak penyelamatan menjadi sangat terbatas.

“Tantangan terbesar adalah tingginya mobilitas dan kepadatan jemaah pada fase puncak haji, khususnya saat pergerakan di Armuzna. Dalam kondisi tersebut, akses menuju jemaah yang membutuhkan bantuan kadang tidak mudah, sementara kebutuhan pertolongan harus diberikan sesegera mungkin,” akunya.

Guna mengakalinya, PKP2JH mengoptimalkan penggunaan jaringan komunikasi modern, memetakan titik patroli strategis, serta gencar menyosialisasikan pentingnya asupan cairan bagi jemaah sebelum mereka melakukan aktivitas fisik berat.

"Selain penanganan di lapangan, edukasi kesehatan juga menjadi perhatian penting. Kami menilai banyak kondisi darurat sebenarnya dapat dicegah apabila jemaah memiliki kesiapan fisik yang baik dan memahami risiko kesehatan selama berhaji," tandas Cipto. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Nuril Fahmi
PenulisAhmad Nuril FahmiSarjana Ilmu Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Bergabung dengan TIMES Indonesia dan bertugas di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak 2020. Sudah meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia