Dorong Efisiensi dan Adopsi Teknologi, Mahasiswa Polbangtan Malang Teliti Pemanfaatan Drone Pertanian
Transformasi teknologi di sektor pertanian terus berkembang seiring kebutuhan peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Transformasi teknologi di sektor pertanian terus berkembang seiring kebutuhan peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan (PPB) Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, Sintiya Puspa Nurhalisa, melakukan penelitian bertemakan “Optimalisasi Pemanfaatan Drone Pertanian dalam Mendukung Ketahanan Pangan: Analisis Adopsi Petani Jagung Kabupaten Malang”.
Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya ketahanan pangan nasional serta kebutuhan akan inovasi teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi budidaya pertanian. Kabupaten Malang sebagai salah satu sentra produksi jagung memiliki potensi besar dalam penerapan teknologi pertanian modern, termasuk drone pertanian, yang hingga saat ini tingkat pemanfaatannya masih relatif rendah di kalangan petani.
Dalam penelitiannya, Sintiya menganalisis efisiensi penggunaan drone pertanian dibandingkan metode konvensional, faktor-faktor yang memengaruhi adopsi teknologi drone oleh petani jagung, serta menyusun rancangan penyuluhan guna meningkatkan penerapan teknologi tersebut di lapangan.
Penelitian dilakukan terhadap 78 petani jagung di Kabupaten Malang menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis efisiensi biaya dan regresi linier berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan drone pertanian mampu meningkatkan efisiensi secara signifikan. Penggunaan air untuk penyemprotan dapat ditekan hingga 86,11 persen, penggunaan pestisida berkurang hingga 64,44 persen, biaya penyemprotan turun sebesar 66,67 persen, serta kebutuhan tenaga kerja berkurang hingga 98,08 persen. Selain itu, produktivitas jagung juga mengalami peningkatan sebesar 0,2–0,5 ton per hektare dibandingkan metode konvensional.
Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap adopsi drone pertanian adalah ketersediaan tenaga kerja, intensitas penyuluhan, dan dukungan kelompok tani. Sementara itu, faktor umur, tingkat pendidikan, lama usaha tani, luas lahan, pendapatan, dan akses penyewaan drone tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat adopsi teknologi oleh petani.
Melalui rancangan penyuluhan yang disusun, terjadi peningkatan pengetahuan petani dari 58,9 persen menjadi 89,3 persen atau meningkat sebesar 30,4 persen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan yang dipadukan dengan demonstrasi dan praktik lapang efektif dalam meningkatkan pemahaman serta sikap positif petani terhadap pemanfaatan drone pertanian.
Ujian komprehensif tersebut diuji oleh Dr. Gunawan, S.P., M.Si., Arie N. B. B. Satrio N. S., S.TP., M.TP., dan Dr. Suryaman Sule, SST., M.Si. yang memberikan berbagai masukan untuk penyempurnaan hasil penelitian dan implementasinya di lapangan.
Ketua Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan (PPB) Polbangtan Malang, Rika Despita, S.P., M.Sc., mengapresiasi penelitian yang dilakukan karena mampu mengintegrasikan aspek teknologi pertanian modern dengan pendekatan penyuluhan yang aplikatif.
“Kajian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan drone pertanian tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi penggunaan input produksi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap produktivitas usaha tani jagung. Yang tidak kalah penting, penelitian ini mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi adopsi teknologi oleh petani sehingga dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi penyuluhan yang lebih efektif. Mahasiswa PPB tidak hanya dituntut memahami teori penyuluhan, tetapi juga mampu menghasilkan solusi nyata yang mendukung percepatan transformasi pertanian menuju pertanian modern,” ujarnya.
Sementara itu, Sintiya Puspa Nurhalisa berharap hasil penelitiannya dapat menjadi kontribusi nyata dalam memperluas pemanfaatan teknologi pertanian di tingkat petani.
“Melalui pendekatan intervensi penyuluhan pertanian yang saya susun, harapannya teknologi drone pertanian dapat semakin dikenal, dipahami, dan dimanfaatkan oleh petani sebagai salah satu solusi atas berbagai keterbatasan yang dihadapi di lapangan, khususnya terkait efisiensi tenaga kerja, waktu, dan penggunaan input produksi," ungkapnya usai ujian komprehensif, Selasa (23/6/2026).
"Saya juga berharap penelitian ini dapat membangun semangat semua pihak untuk terus mendorong perkembangan teknologi pertanian yang inovatif dan adaptif, karena pertanian merupakan sektor strategis yang akan menjadi fondasi masa depan bangsa,” lanjutnya. (D)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


