Advertisement
Indonesia Positif

Mengenal Zinc, 'Komandan Tak terlihat' yang Menjaga Daya Tahan Tubuh dan Masa Depan Bangsa

Zinc lebih dari sekedar mikromineral yang terlibat dalam imunitas.

TIMES Indonesia,
Mengenal Zinc, 'Komandan Tak terlihat' yang Menjaga Daya Tahan Tubuh dan Masa Depan Bangsa
Dr. Fajar Ari Nugroho, S.Gz., M.Kes Ketua Divisi Ilmiah AsNI Jawa Timur/ Pengurus DPC PERSAGI Kota Malang.
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG zinc lebih dari sekedar mikromineral yang terlibat dalam imunitas.

Kajian argumentatif berbasis bukti ilmiah 2025–2026 menjelaskan tentang perlunya pengakuan defisiensi zinc sebagai salah satu akar masalah infeksi berulang, stunting fungsional, dan beban ganda sistem kesehatan nasional.

Advertisement

Fokus permasalahan gizi anak Indonesia saat ini terbagi pada stunting, wasting, dan defisiensi zat besi.

Maskipun angka stunting mengalami perubahan trend menurun, pola kesakitan akibat infeksi saluran napas akut (ISPA) dan diare pada anak usia di bawah lima tahun masih tetap tinggi secara nasional. Fenomena ini mengidentifikasikan adanya celah determinan yang mungkin belum secara sistematik dapat diselesaikan.

Berdasarkan kajian dari berbagai publikasi ilmiah internasional maupun data nasional terbaru defisiensi zinc merupakan salah satu factor penyebab paling signifikan namun paling kurang diresponse dalam sistem deteksi dan intervensi gizi anak di Indonesia. 

Prevalensi Defisiensi zinc Lebih Tinggi dari Stunting

Berdasarkan analisis ulang data Riskesdas 2018 yang dipublikasikan dalam Jurnal terbitan PubMed pada 2025 yang dilakukan pada 550 anak usia 0-59 bulan memberikan gambaran bahwa 38,7 persen anak balita mengalami defisiensi zinc , 34,2 persen mengalami defisiensi zat besi, dan 23,1 persen mengalami stunting.

Permasalahan ini juga ditemukan di Hongkong (2025) ditemukan 37 persen anak mengalami defisiensi zinc, menandakan bahwa permasalahan desiensi zinc adalah masalah global.

Advertisement

Lebih jauh mengenai defisiensi zinc di Indonesia, angka yang tinggi menunjukkan anak-anak yang memiliki risiko infeksi dimungkinkan tidak hanya berasal dari kelompok stunting jika dilihat persentase kasusnya.

Gangguan infeksi adalah akar permasalah dari kejadian kurang gizi pada anak, dimana infeksi memang selalu menjadi prioritas mekanisme pertahanan alamai tubuh.

Artinya jika ada infeksi maka semua arah metanolisme akan diarahkan untuk menyelesaikan infeksi dan menunda metabolisme lain termasuk laju pertumbuhan anak.

Besarnya kasus ini juga menunjukkan bahwa deteksidini defisiensi zinc menyebabkan jutaan anak hidup dengan sistem pertahanan tubuh yang lemah tanpa diketahui.

Pengatur Utama Imunitas, Bukan Sekadar Penunjang Pertumbuhan 

zinc secara fisiologis terlibat dari sekitar 300 enzim dalam tubuh, termasuk diantaranya adalah enzim yang terlibat dalam proliferasi sel limfosit T, diferensiasi sel B, dan regulasi respon inflamasi.

Keterlibatan zinc dalam imunitas ini membuat mineral ini dikenal juga sebagai goalkeeper of immune function.

Berdasarkan sebuah studi pada terkini (2025), zinc memiliki tiga peran utama dalam sistem imunitas anak, yaitu:

1. Memeprtahankan integritas sawar epitel khususnya saluran napas dan pencernaan

zinc berfungsi menjaga tight junction antar sel epitel sehingga kerapatannya tidak mengalami perubahan yang menyebabkan pathogen mudah memasuki sirkulasi sistemik.

2. Menjaga keseimbangan respon imun Th1/Th2

Ketika terjadi defisiensi zinc akan menyebabkan dominasi Th2, pada kondisi ini maka akan yterjadi peningkatan risiko alergi, asma, dan inflamasi kronis saluran napas.

3. Menghambat aktivasi NF-KappaB sehingga mengurangi produksi sitokin proinflamasi yang berlebihan

Berdasarkan konsep molecular tersebut, penambahan skrining zinc gizi anak di Indonesia selain berat badan maupun tinggi badan perlu untuk dipertimbangkan.

Penambahan skrining zinc akan memberikan kemampuan untuk mendeteksi hidden hunger serta potensi risiko gangguan status gizi karena infeksi yang berulang.

Kontroversi Suplementasi zinc, Antara Bukti dan Implementasi

Berikut adalah rekapitulasi dari beberapa studi yang berhubungan dengan efektivitas penggunaan suplementasi zinc:

zinc efektifzinc tidak efektif
Kondisi klinisPenjelasanSumber Kondisi klinisPenjelasanSumber
Diare akutMemperpendek durasi rata-rata 13 jam Meta-analisis NIH (2024); rekomendasi WHOPneumonia berat yang sudah dirawatTidak menurunkan angka kematianHarvard/THS Tanzania (2026)
Pencegahan ISPA berulangMenurunkan frekuensi infeksi hingga 15,2 persen pada anak usia >6 tahunRCT, Advances in Therapy (2025)Meninggikan badan anak dalam 12 bulanTidak signifikan jika tanpa dukungan gizi lainStudi pada anak talasemia (2025)
Anak dengan defisiensi terkonfirmasiMemperbaiki respons imun dan nafsu makanBerbagai studi   

                   
Sejumlah telaah di atas menunjukkan bahwa waktu pemberian bukan satu-satunya penentu keberhasilan suplementasi zinc, dosis pemberian diduga sama pentingnya. Pemberian zinc pada saat kondisi anak sedang sakit pneumonia, tergambar seperti memadamkan api saat rumah sudah hangus terbakar.

Sehingga pendekatan yang paling rasional adalah pencegahan defisiensi berbasis ppulasi (fortifikasi pangan) dan skrining berbasis risiko (anak dengan infeksi berulang), bukan saat anak sudah dalam kondisi kritis.

Timbal: Penghambat Penyerapan zinc yang Terabaikan

Salah satu temuan studi terkini yang perlu menjadi kekhawatiran adalah studi di Jawa Tengah (2025) yang melaporkan bahwa 91,4 persen anak memiliki kadar zinc normal namun tetap menunjukkan penciri stunting di mana 55,2 persen nya mengalami kerancunan timba (pb) dalam darah.

Timbal mengganggu metabolisme zinc melalui kompetisi terhadap protein pengikat logam (metallothionein) dan gangguan absorbs intestinal. 

Sehingga, meningkatkan asupan zinc saja tidak akan memberikan efek optimal jika paparan timbal di lingkungan tidak dikendalikan. Ini juga menunjukkan bahwa kebijakan gizi tidak dapat dipisahkan dengan kebijakan lingkungan dan pengendalian polusi.

Keseriusan pengendalian pencemaran limbah timbal terutama dari sektor trasnportasi dan insdustri akan membantu secara serius pemberantasan efek defisiensi zinc pada anak.

Rekomendasi Kebijakan, Sebuah Argumen untuk Tindakan

Berikut adalah rekomendasi sederhana mengenai defisiensi zinc dan angka kejadian kesakitan dan stunting pada anak:

1. Revitalisasi Sistem Skrining Gizi Nasional

Parameter skrining di posyandu dan puskesmas saat ini (berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas) terbukti tidak mampu mendeteksi defisiensi zinc.

Perlu ditambahkan parameter riwayat infeksi berulang (ISPA ≥4 kali/tahun atau diare ≥2 kali/tahun) sebagai indikator red flag untuk rujukan pemeriksaan kadar zinc.

2. Fortifikasi Pangan Skala Luas dengan zinc

Berdasarkan keberhasilan fortifikasi garam beryodium dan tepung terigu diperkaya zat besi, saatnya pemerintah melakukan studi kelayakan untuk fortifikasi beras, minyak goreng, atau biskuit sekolah dengan zinc.

Biaya fortifikasi diperkirakan hanya Rp5.000–10.000 per anak per tahun, jauh lebih murah daripada biaya pengobatan ISPA berulang.

3. Suplementasi zinc Terarah untuk Populasi Risiko Tinggi

Suplementasi diberikan hanya untuk: a). Anak dengan konfirmasi defisiensi zinc (kadar serum <70 mcg/dL); b). Anak dengan diare akut (sesuai protokol WHO); c). Anak dengan ISPA berulang yang gagal respons terhadap terapi konvensional.

4. Pengendalian Paparan Timbal sebagai Prioritas Lintas Sektor

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlu memperketat pengawasan emisi timbal dari kendaraan bermotor dan industri daur ulang aki bekas.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang risiko menanam sayuran di pinggir jalan raya harus digencarkan.

5. Penelitian Berbasis Komunitas yang Berkelanjutan

Pemerintah perlu mengalokasikan dana riset untuk pemetaan kadar zinc dan timbal pada anak di berbagai wilayah Indonesia, terutama daerah dengan industrialisasi tinggi dan lalu lintas padat.

Penutup

Mengabaikan defisiensi zinc sama dengan membiarkan sistem pertahanan tubuh anak-anak Indonesia terus beroperasi dalam kondisi setengah lumpuh, tanpa kita sadari. Bukan karena kurangnya niat, tetapi karena kurangnya sistem yang dirancang untuk melihat masalah ini.

Sudah saatnya kita mengakui bahwa hidden hunger zinc adalah salah satu kegagalan sistemik yang paling terabaikan dalam kebijakan kesehatan anak nasional. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia