Advertisement
Indonesia Positif

Dari Bisnis hingga Perubahan Iklim, Matematika Bisa Menjadi Alat Pengambil Keputusan

Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), matematika semakin menegaskan perannya sebagai fondasi utama pengambilan keputusan berbasis data dan pengelolaan risiko

TIMES Indonesia,
Dari Bisnis hingga Perubahan Iklim, Matematika Bisa Menjadi Alat Pengambil Keputusan
ILUSTRASI: Matematika semakin menegaskan perannya sebagai fondasi utama pengambilan keputusan berbasis data dan pengelolaan risiko di era digital.
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

TANGERANG Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), matematika semakin menegaskan perannya sebagai fondasi utama pengambilan keputusan berbasis data dan pengelolaan risiko di era digital.

Berbagai tantangan modern, mulai dari serangan siber, krisis keuangan, perubahan iklim, hingga bencana banjir, membutuhkan pendekatan berbasis data dan pemodelan matematis agar dapat diantisipasi secara lebih akurat.

Advertisement

Kajian yang dilakukan oleh Program Studi S1 Business Mathematics STEM Universitas Prasetiya Mulya menunjukkan bahwa matematika tidak hanya tetap relevan di era AI, tetapi justru menjadi kebutuhan strategis dalam menghadapi kompleksitas dunia modern selama satu dekade ke depan.

Menurut Dr. Yeftanus Antonio, Ketua Program Studi S1 Business Mathematics STEM Universitas Prasetiya Mulya, masih banyak masyarakat yang memandang matematika sebatas kemampuan berhitung atau mata pelajaran yang sulit dipahami. Padahal, matematika merupakan fondasi yang menopang berbagai inovasi teknologi, termasuk AI yang saat ini berkembang sangat pesat.

“Banyak orang mengira AI akan menggantikan matematika. Faktanya, AI justru dibangun di atas fondasi matematika yang kuat. Tanpa matematika, tidak akan ada machine learning, analitik data, maupun berbagai teknologi cerdas yang kini digunakan di berbagai sektor industri,” ujar Dr. Yeftanus Antonio.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi yang semakin cepat juga diikuti oleh meningkatnya berbagai risiko bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi berbagai kasus kebocoran data dan serangan siber yang menimbulkan kerugian besar, mulai dari kebocoran data BPJS Kesehatan, data pengguna Tokopedia, hingga insiden pada Pusat Data Nasional Sementara (PDNS).

Dalam konteks tersebut, matematika berperan membantu perusahaan memahami potensi risiko dan menghitung dampak kerugian yang mungkin terjadi.

Advertisement

Melalui teori peluang, teori jaringan, dan pemodelan risiko, matematika membantu perusahaan mengukur probabilitas terjadinya serangan siber, memperkirakan dampak finansialnya, serta merancang strategi mitigasi yang lebih efektif, termasuk melalui pengembangan produk asuransi siber.

Peran matematika juga sangat penting dalam sektor keuangan. Krisis keuangan global tahun 2008 menjadi contoh bagaimana kegagalan satu institusi dapat menimbulkan efek domino terhadap sistem keuangan secara keseluruhan.

Dengan model matematika risiko sistemik, regulator dan bank sentral dapat mengidentifikasi potensi kerentanan lebih dini sehingga kebijakan yang diambil menjadi lebih tepat sasaran.

Tidak hanya di sektor bisnis dan keuangan, matematika juga membantu menjawab tantangan keberlanjutan. Pemanfaatan data satelit dan machine learning memungkinkan peneliti memodelkan kemampuan mangrove dalam menyerap karbon. 

Sementara itu, model spasial-temporal digunakan untuk memetakan titik api lahan gambut serta menghitung dampak ekonomi dan kesehatan yang ditimbulkannya.

Di tengah meningkatnya kejadian banjir di berbagai daerah Indonesia, matematika juga berperan dalam pemetaan risiko banjir, simulasi pergerakan air, hingga perhitungan kerugian ekonomi yang mungkin terjadi.

“Ke depan, isu seperti kota cerdas berkelanjutan, ketahanan terhadap perubahan iklim, transformasi digital, dan perkembangan AI membutuhkan kemampuan kuantifikasi yang kuat," tegasnya.

"Matematika menjadi bahasa yang membantu kita memahami risiko, membuat prediksi, dan menghasilkan keputusan yang lebih baik,” tambah Yeftanus.

Kemampuan mengintegrasikan matematika, analitik data, kecerdasan buatan, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan bisnis menjadi kompetensi utama yang dipelajari di Program Studi S1 Business Mathematics STEM Universitas Prasetiya Mulya yang sudah terakreditasi unggul. 

Melalui pendekatan STEM-driven Business, mahasiswa dibekali keterampilan mengubah persoalan kompleks menjadi solusi berbasis data yang relevan bagi industri, keuangan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.

Seiring meningkatnya peran data dan AI dalam berbagai aspek kehidupan, matematika semakin menegaskan posisinya sebagai bahasa yang membantu manusia memahami kompleksitas dalam mengelola risiko bisnis keuangan, dan perubahan iklim.

Melalui pendekatan STEM-driven Business, Program Studi S1 Business Mathematics Universitas Prasetiya Mulya hadir untuk membekali generasi muda dengan kemampuan analitis yang relevan dalam menjawab tantangan bisnis, teknologi, dan keberlanjutan di era yang terus berubah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Sholihin Nur
PenulisSholihin NurBergabung di TIMES Indonesia sejak Juni 2015. Memiliki minat khusus dalam peliputan berita Pemerintahan, Pendidikan, Olahraga, Teknologi, Seni Budaya dan Lifestyle
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia