Selamat, Dosen Unipma Madiun Tembus 5 Besar Program Bug Bounty 2026 Kemendikdasmen RI
Dosen Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Unipma Madiun (Universitas PGRI Madiun), Andria, MKom, MTA, MCE, MOS, MTCRE, CITPM, MCF, OCP, berhasil mencatat prestasi yang membanggakan.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MADIUN – Dosen Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Unipma Madiun (Universitas PGRI Madiun), Andria, MKom, MTA, MCE, MOS, MTCRE, CITPM, MCF, OCP, berhasil mencatat prestasi yang membanggakan.
Andria masuk dalam 5 Besar Finalis Nasional Program Bug Bounty 2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Kemendikdasmen RI) bersama EduCSIRT.
Menariknya, dalam ajang tersebut Andria tidak hanya berpartisipasi sebagai peserta kategori dosen, tetapi juga berperan sebagai dosen pendamping bagi 18 mahasiswa Program Studi Sistem Informasi UNIPMA Madiun yang turut mengikuti kompetisi pada kategori mahasiswa.
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari implementasi pembelajaran berbasis praktik yang diterapkan di Program Studi Sistem Informasi UNIPMA Madiun, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengikuti kompetisi keamanan siber tingkat nasional.
Sebelum pelaksanaan seleksi, Andria secara intensif mendampingi mahasiswa melalui sesi pembinaan dan latihan di Laboratorium Komputer guna memperkuat pemahaman mengenai pengujian keamanan aplikasi, identifikasi kerentanan, serta etika pelaporan celah keamanan (responsible disclosure).
Program Bug Bounty 2026 merupakan program pengungkapan kerentanan (bug bounty) yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengidentifikasi dan melaporkan kerentanan keamanan secara bertanggung jawab (responsible disclosure) guna mendukung penguatan keamanan sistem informasi di lingkungan Kemendikdasmen.
Kompetisi ini diikuti oleh berbagai kategori peserta, yaitu siswa, guru, mahasiswa, dan dosen.
Keberhasilan Andria menembus posisi lima besar nasional menjadi bukti kompetensi dan kapabilitasnya di bidang keamanan siber.
Dalam program tersebut, peserta dituntut memiliki kemampuan analisis, pengujian keamanan aplikasi (penetration testing), identifikasi celah keamanan, serta penyusunan laporan teknis sesuai standar industri keamanan informasi.
Selain aktif sebagai dosen, Andria merupakan pengampu mata kuliah Keamanan Siber dan Forensik Digital pada Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Universitas PGRI Madiun.
Capaian ini sekaligus memperkuat komitmen Unipma Madiun dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul di bidang teknologi informasi, khususnya keamanan siber.
Menurut Andria, prestasi tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan menjadi motivasi untuk terus mengembangkan budaya riset dan praktik keamanan siber di lingkungan perguruan tinggi.
Ia menegaskan bahwa keamanan siber tidak cukup dipelajari hanya dari teori. Mahasiswa perlu dikenalkan dengan praktik nyata, standar industri, serta tantangan yang dihadapi dunia digital saat ini.
"Pengalaman mengikuti Bug Bounty menjadi bekal berharga yang akan saya implementasikan dalam proses pembelajaran agar mahasiswa memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri," ujarnya.
"Harapan saya, semakin banyak mahasiswa yang berani mengikuti kompetisi keamanan siber sejak di bangku kuliah agar memiliki pengalaman dan daya saing ketika memasuki dunia kerja," imbuh Andria.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam Program Bug Bounty merupakan bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).
Melalui kompetisi tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada metode pengujian keamanan aplikasi, etika responsible disclosure, pola berpikir analitis, serta budaya belajar yang berorientasi pada penyelesaian masalah nyata di bidang keamanan informasi.
Ia menambahkan bahwa meningkatnya ancaman siber menuntut perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam mencetak lulusan yang memiliki kemampuan teknis sekaligus kesadaran terhadap pentingnya keamanan informasi.
Keikutsertaan dalam Bug Bounty juga menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi dosen agar materi perkuliahan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ancaman siber terkini.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkaya proses pembelajaran melalui studi kasus nyata, praktik pengujian keamanan aplikasi, serta penerapan etika dalam pengungkapan kerentanan (responsible vulnerability disclosure).
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Unipma Madiun untuk terus meningkatkan kompetensi, memperluas pengalaman melalui kompetisi nasional maupun internasional, serta berkontribusi dalam pengembangan ekosistem keamanan siber di Indonesia.
Melalui capaian ini, Unipma Madiun terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya akademik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mendorong dosen dan mahasiswa untuk berkontribusi dalam penguatan ekosistem keamanan siber nasional melalui pendidikan, riset, dan kompetisi profesional. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

