Penggalan Kisah Perebutan Tahta Tumapel Dibawakan dengan Apik oleh Warga RT 06 Polowijen Malang
Warga RT 06/RW 06 Kelurahan Polowijen, Kota Malang dengan sangat apik saat menyuguhkan sebuah sinopsis tentang perebutan tahta Tumapel dalam Kirab Budaya Kelurahan Polowijen

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Warga RT 06/RW 06 Kelurahan Polowijen, Kota Malang dengan sangat apik saat menyuguhkan sebuah sinopsis tentang perebutan tahta Tumapel dalam Kirab Budaya Kelurahan Polowijen, Minggu (28/6/2026) siang.
Kali ini warga RT 06/RW 06 menyajikan penggalan sejarah tentang runtuhnya pemerintahan Tumapel, Singosari setelah terjadi saling bunuh antara Ken Arok dan Tunggul Ametung hingga tujuh keturunan mereka.
Sinopsis itu dipromotori oleh Yoga Satriawan, koordinator di perumahan Blimbing Regency/Istana Cakalang.
Ketua RT 06, Ely Efendy merasa bangga sekaligus lega setelah berhasil menyajikan sinopsis itu di depan Dewan Juri Kelurahan Polowijen meski dengan segala keterbatasan waktu dan personel.
"Tetapi bagi kami yang utama adalah turut serta mengingatkan kepada khalayak, bahwa di tanah Polowijen yang dulunya bernama Panawijen itu dalam sejarahnya pernah terjadi huru-hara, pengkhianatan bahkan pembunuhan hanya karena ambisi sebuah kekuasaan," kata Ely Efendy.
Area RT 06 antara lain terdiri dari beberapa cluster perumahan di Jl Ikan Cakalang. Dari cluster-cluster itu sejumlah warga ikut ambil bagian dalam sinopsis yang digarap hanya dalam waktu tiga hari itu.
Dalam potongan cerita yang berjudul 'Sepenggal Kisah Di Balik Tragedi Keris Mpu Gandring' itu Warga RT 06 membaginya menjadi dua sesi.
Sesi pertama dilaksanakan di start atau awal pemberangkatan di depan dewan juri di bawah fly-over Jl A Yani. Sedangkan sesi kedua digelar di hadapan dewan juri di panggung finish.
Baik di sesi pertama maupun di sesi kedua, warga RT 06/RW 06 Kelurahan Polowijen ini dengan apik menggambarkan bagaimana detik-detik sang akuwu Tunggul Ametung menculik Ken Dedes, yang kemudian dibunuh Ken Arok dan sebagainya.
'Sepenggal Kisah Di Balik Tragedi Keris Mpu Gandring' itu diangkat sebagai bukti kepedulian warga Polowijen ini mengingatkan kembali bahwa di balik runtuhnya pemerintahan itu terkadang bukan oleh peperangan atau kutukan pendeta, namun juga bisa karena seorang wanita.
Sejarah di Balik Kisah
Nah, dalam secuil sinopsis kali ini warga RT 06/RW memulai dengan narasi bahwa di Jawa dahulu kala selalu dipenuhi perebutan tahta, termasuk di tanah Tumapel, di mana sang akuwu (sekarang setara dengan camat) Tunggul Ametung berkuasa.
Waktu itu Tumapel adalah bagian dari kekuasaan kerajaan Kadiri.Di situ Ken Dedes dikisahkan digambarkan sebagai sosok yang berada di dua sisi.
Satu sisi ia disebut sebagai pembawa Wahyu kerajaan, dan sisi lainnya ada yang mempercayai justru dari dialah awal dari rantai pengkhianatan, pembunuhan dan perebutan kekuasaan di Tumapel yang menghancurkan satu generasi penguasa di Jawa.
Ternyata diketahui bahwa Tunggul Ametung bukanlah pemimpin yang dicintai rakyatnya dalam melaksanakan kebijaksanaannya.
Ia bahkan digambarkan sebagai pemimpin yang mengendalikan pemerintahan dengan tangan besi. Ia juga digambarkan sebagai simbol kekejaman.
Tunggul Ametung menggunakan rasa takut sebagai instrumen utama kekuasaannya.
Karena itu ketika ia mendengar bahwa ada seorang gadis cantik di Panawijen (sekarang Polowijen) bernama Ken Dedes, ia pun memerintahkan anak buahnya untuk menculik Ken Dedes untuk dijadikan istrinya.
Ken Dedes adalah putri seorang brahmana agung (pendeta) yang bernama Mpu Purwa.
Begitu mengetahui bahwa anak gadisnya diculik Tunggul Ametung, Mpu Purwa mengutuk dengan sumpahnya kepada sang akuwu atau tidak bahagia hidupnya dan akan mati dengan sebilah keris.
Di antara penculikan dan kutukan itulah kemudian muncul sosok Ken Arok yang selama ini menjadi pengawal utama Tunggul Ametung.
Mulai dari Ken Arok inilah tragedi keruntuhan pemerintahan Tumapel itu berbenih.
Karena Ken Arok pun ternyata tertarik dengan Ken Dedes. Malam hari saat ridur lelap Tunggul Ametung dibunuh Ken Arok dengan sebilah keris.
Keris itu dipesan juga dari seorang mpu bernama Mpu Gandring.
Seperti diketahui dalam sejarah, Mpu Gandring ini juga dibunuh oleh Ken Arok dengan keris yang dipesannya dan belum sempurna itu sebelum digunakan untuk menghabisi Tunggul Ametung.
Permainan Peran Penuh Penjiwaan
Warga RT 06/RW 06 menggambarkannya dengan penuh penghayatan sesuai peran masing-masing.
Tunggul Ametung, Ken Arok dan Ken Dedes sebagai tokoh sentral cerita itu bermain cantik, meskipun dengan segala keterbatasan kemampuan mereka dalam memerankan tokoh-tokoh itu.
Sayangnya penggalan cerita perebutan kekuasaan yang dipenuhi dengan darah dan pengkhianatan itu pihak panitia Kelurahan Polowijen hanya memberinya waktu masing-masing enam menit di garis start dan finish.
"Tapi bagi kami itu cukuplah, karena penuh dengan segala keterbatasan. Insyaallah kalau ada kesempatan baik, di tahun mendatang kami akan berusaha membawakannya lebih baik dan sempurna," tambah Ely Efendy.
Sinopsis 'Sepenggal Kisah di Balik Tragedi Keris Mpu Gandring' ini digelar salam rangka bersih desa Polowijen 2026 yang bertemakan Memperkuat dan Melestarikan Budaya Sebagai Identitas Polowijen. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


