Mahasiswa KSM Internasional UNISMA Kunjungi Songkhla Old Town, Soroti Kesamaan Kuliner Thailand–Indonesia
Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Islam Malang (UNISMA) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KSM) Internasional di Hatyai, Provinsi Songkhla, Thailand, memperluas wawasan kebudayaan dengan

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Malang – Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Islam Malang (UNISMA) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KSM) Internasional di Hatyai, Provinsi Songkhla, Thailand, memperluas wawasan kebudayaan dengan mengunjungi kawasan bersejarah Songkhla Old Town pada Sabtu (7/2/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari program penguatan wawasan global dan pertukaran budaya yang bertujuan untuk memberikan pemahaman langsung mengenai akulturasi dan pelestarian warisan sejarah di negara tetangga.
Program KSM Internasional UNISMA merupakan salah satu program unggulan yang dirancang untuk memberikan pengalaman lintas budaya bagi para mahasiswa.
Dengan ditempatkan di Hatyai, Songkhla, para mahasiswa tidak hanya menjalankan tugas pengabdian masyarakat, tetapi juga diberi kesempatan untuk mengenal secara langsung kehidupan sosial, budaya, dan sejarah masyarakat Thailand Selatan.
Kunjungan ke Songkhla Old Town menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang paling dinantikan, karena kawasan ini dikenal sebagai pusat sejarah dan akulturasi budaya di wilayah tersebut.
Didampingi oleh mahasiswa mitra dari Thaksin University, rombongan berkeliling mengeksplorasi setiap sudut kota tua yang memesona.
Kehadiran mahasiswa pendamping dari Thaksin University sangat membantu kelancaran komunikasi dan pemahaman konteks lokal, mengingat keterbatasan bahasa dan perbedaan latar belakang budaya.
Kerjasama antara UNISMA dan Thaksin University sendiri telah terjalin melalui nota kesepahaman di bidang pendidikan dan pertukaran budaya, sehingga kegiatan seperti ini menjadi wujud nyata dari implementasi kerjasama tersebut.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Songkhla Old Town menyuguhkan pesona visual yang kuat, di mana dinding-dinding bangunan tua dihiasi mural-mural artistik yang menceritakan kisah sejarah dan kehidupan masyarakat setempat. Mural-mural tersebut menjadi daya tarik utama kawasan ini, dengan puluhan lukisan dinding yang tersebar di hampir setiap sudut jalan. Setiap mural memiliki tema yang berbeda, mulai dari potret kehidupan nelayan, pasar tradisional, hingga adegan sejarah yang menggambarkan masa kejayaan Songkhla sebagai kota pelabuhan. Para mahasiswa terlihat sangat antusias mengabadikan setiap mural yang mereka temui, tidak hanya sebagai kenang-kenangan, tetapi juga sebagai bahan dokumentasi untuk laporan kegiatan mereka.
Arsitektur khas kota tua yang masih terjaga dengan sangat autentik, berpadu harmonis dengan pemandangan laut lepas yang biru di kejauhan, menciptakan latar yang sempurna bagi para mahasiswa untuk melakukan observasi dan dokumentasi budaya. Bangunan-bangunan tua di kawasan ini menampilkan perpaduan gaya arsitektur yang unik, mencerminkan pengaruh berbagai budaya yang pernah singgah di Songkhla. Gaya Sino-Portugis tampak dominan pada beberapa bangunan dengan jendela-jendela kayu berukir dan atap yang melengkung, sementara bangunan lain menunjukkan pengaruh kolonial Eropa dengan tiang-tiang besar dan fasad yang simetris. Perpaduan ini menjadi bukti nyata bahwa Songkhla Old Town pernah menjadi titik pertemuan berbagai peradaban.
Keberadaan kawasan ini tidak terlepas dari posisi strategis Songkhla sebagai kota pelabuhan yang menghubungkan jalur perdagangan antara Timur Tengah, India, Tiongkok, dan Kepulauan Nusantara. Interaksi dagang yang berlangsung selama berabad-abad telah meninggalkan jejak yang mendalam tidak hanya pada arsitektur, tetapi juga pada bahasa, adat istiadat, dan tentu saja kuliner masyarakat setempat. Para mahasiswa UNISMA pun sangat tertarik untuk menelusuri jejak-jejak sejarah tersebut, dan salah satu cara paling konkret adalah melalui makanan yang mereka temui di sepanjang perjalanan.
Momen paling menarik terjadi secara spontan di tengah suasana hangat kawasan tersebut. Saat beristirahat sejenak, para mahasiswa terlibat perbincangan akrab yang kemudian berkembang menjadi diskusi kuliner yang seru. Perbincangan yang awalnya ringan tentang cuaca dan suasana kota tua, perlahan bergeser ke topik makanan ketika salah satu mahasiswa melihat sebuah lapak jajanan yang bentuknya sangat familiar. Dari situlah diskusi mengalir semakin hangat, dengan setiap mahasiswa berbagi pengamatan tentang kemiripan antara jajanan yang mereka lihat dengan makanan khas dari daerah masing-masing di Indonesia.
Secara tidak terduga, mereka mendapat kesempatan wawancara singkat dari pihak pengelola kawasan Songkhla Old Town yang tertarik dengan aktivitas mereka. Pengelola kawasan tersebut tampak penasaran dengan rombongan mahasiswa asing yang datang dengan catatan dan kamera, serta bertanya-tanya tentang tujuan kunjungan mereka. Setelah dijelaskan bahwa mereka adalah mahasiswa KSM Internasional dari Indonesia yang sedang melakukan studi banding budaya, pengelola kawasan pun dengan ramah meluangkan waktu untuk berbincang dan menjawab berbagai pertanyaan dari para mahasiswa. Dalam diskusi itulah terkuak benang merah kuat antara kuliner Thailand dan Indonesia.
Beberapa jajanan di sini terlihat sangat mirip dengan jajanan di kampung halaman kami, bahkan ada yang namanya hampir sama. Misalnya saja, olahan berbasis santan dan rasa gurih yang khas, serta sambal yang menjadi pelengkap hampir setiap hidangan. Ini menunjukkan betapa dekatnya akar budaya kita, terutama dalam hal rempah dan tradisi kuliner Nusantara dan Semenanjung Melayu.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Pengamatan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam diskusi yang berlangsung, para mahasiswa menyebutkan beberapa contoh konkret kemiripan yang mereka temukan. Ada jajanan berbahan dasar tepung beras dan santan yang disajikan dengan kuah gula aren, yang bentuk dan rasanya sangat mengingatkan mereka pada klepon atau nagasari. Ada pula olahan daging yang dibumbui rempah dan santan, yang memiliki cita rasa yang tidak jauh berbeda dengan gulai atau rendan di Indonesia. Bahkan sambal atau saus pedas yang disajikan di setiap lapak makanan memiliki aroma dan rasa yang sangat familiar, dengan dominasi cabai, bawang, dan terasi yang juga menjadi fondasi utama sambal di Nusantara.
Diskusi tersebut menyoroti penggunaan rempah-rempah yang melimpah, keseimbangan cita rasa pedas-manis-asin, serta tradisi kuliner yang berpusat pada nasi dan santan sebagai elemen yang menyatukan kedua budaya. Rempah-rempah seperti serai, lengkuas, jahe, kunyit, dan kemiri ditemukan dalam berbagai hidangan baik di Thailand maupun Indonesia. Penggunaan santan sebagai bahan dasar juga sangat dominan, terutama dalam masakan kari, gulai, dan berbagai jenis bubur manis. Sementara itu, keseimbangan rasa pedas, manis, dan asin menjadi ciri khas yang sama-sama dijunjung tinggi dalam tradisi kuliner kedua bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kedua negara memiliki perkembangan kuliner yang unik, namun terdapat akar yang sama yang bersumber dari pertukaran budaya dan perdagangan rempah di masa lampau.
Perbincangan ringan itu pun berubah menjadi sesi berbagi pengetahuan yang hangat, di mana mahasiswa Indonesia dan Thailand saling bertukar cerita tentang nama, bahan, dan cara pembuatan makanan khas masing-masing daerah. Mahasiswa UNISMA dengan antusias memperkenalkan berbagai makanan khas Indonesia kepada mahasiswa Thaksin University, seperti rendang, soto, rawon, dan berbagai jenis jajanan pasar. Sebaliknya, mahasiswa Thailand juga memperkenalkan hidangan khas Songkhla yang belum banyak dikenal oleh wisatawan asing. Saling tukar cerita ini tidak hanya memperkaya wawasan kuliner, tetapi juga membangun kedekatan emosional di antara mereka, karena makanan terbukti menjadi bahasa universal yang dapat menyatukan perbedaan.
Lebih dari sekadar kunjungan wisata, interaksi ini menjadi jembatan untuk saling mengenal lebih dalam. Keindahan Songkhla Old Town tidak hanya terletak pada arsitektur dan muralnya, tetapi juga pada keramahan dan kekayaan budayanya yang hidup. Sepanjang perjalanan, para mahasiswa disambut dengan senyuman ramah dari penduduk setempat, yang dengan sukarela memberikan penjelasan tentang sejarah bangunan dan makna di balik setiap mural yang mereka temui. Keramahan ini membuat para mahasiswa merasa seperti berada di rumah sendiri, meskipun berada di negara asing yang jauh dari kampung halaman.
Di sepanjang jalan utama, berdiri kokoh sebuah kelenteng China (Temple China) yang menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat Tionghoa setempat, menambah lapisan keragaman budaya di kawasan tersebut. Keberadaan kelenteng ini menunjukkan bahwa Songkhla Old Town bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga pusat kehidupan spiritual dan sosial bagi berbagai komunitas. Para mahasiswa sempat mampir sejenak untuk mengamati arsitektur kelenteng yang megah dengan ornamen-ornamen khas Tionghoa, serta melihat suasana ibadah yang berlangsung dengan khidmat. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana harmoni antar komunitas dapat tercipta dalam sebuah kawasan yang heterogen.
Suasana makin terasa hangat dan nyaman dengan kehadiran deretan kafe-kafe modern yang terselip di antara bangunan tua, menawarkan tempat bagi pengunjung untuk bersantai sambil menikmati Thai tea dan merenungkan perpaduan masa lalu dan masa kini. Kehadiran kafe-kafe tersebut tidak mengurangi nilai sejarah kawasan, melainkan justru menambah vitalitas dan daya tariknya bagi generasi muda. Para mahasiswa pun memanfaatkan salah satu kafe untuk beristirahat sejenak, menikmati Thai tea yang segar, dan menulis catatan perjalanan mereka.
Suasana yang kontras antara bangunan tua di luar dan interior kafe yang modern memberikan pengalaman tersendiri yang sulit dilupakan.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi para mahasiswa KSM Internasional UNISMA tentang pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus membuka mata akan banyaknya kesamaan yang dapat menjadi landasan untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Thailand, khususnya di kalangan generasi muda.
Pengalaman langsung berada di Songkhla Old Town memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan sekadar membaca buku atau menonton dokumenter.
Mahasiswa tidak hanya melihat dan mendengar, tetapi juga merasakan sendiri atmosfer, keramahan, dan kekayaan budaya yang ada.
Harapan ke depan, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi pengalaman pribadi yang berkesan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk ikut serta dalam program pertukaran budaya dan KSM Internasional.
Dengan semakin banyak generasi muda yang memiliki pengalaman lintas budaya, maka akan semakin terbangun rasa saling pengertian dan toleransi antar negara, yang pada gilirannya dapat memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Thailand di masa depan.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Kesamaan kuliner yang ditemukan dalam kunjungan ini hanyalah salah satu contoh kecil dari sekian banyak benang merah yang menghubungkan kedua bangsa, dan mahasiswa UNISMA berharap dapat terus menggali dan memperdalam pemahaman mereka tentang kekayaan budaya Asia Tenggara.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

