Mengenal Festival Munara Wampasi, Tradisi Nelayan Suku Biak Papua yang Terus Dilestarikan
Suara riuh warga berpadu dengan debur ombak di pesisir Kabupaten Biak Numfor, Papua, saat Festival Munara Wampasi kembali digelar.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Malang – Suara riuh warga berpadu dengan debur ombak di pesisir Kabupaten Biak Numfor, Papua, saat Festival Munara Wampasi kembali digelar.
Tradisi nelayan masyarakat Suku Biak ini tidak hanya menjadi ajang mencari hasil laut, tetapi juga simbol pelestarian budaya dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hamparan laut yang mulai surut dipenuhi masyarakat yang membawa jaring, tombak tradisional, dan ember penampung hasil laut.
Suasana meriah dengan tawa serta semangat gotong royong menjadi ciri khas Festival Munara Wampasi yang hingga kini masih terus dijaga oleh masyarakat pesisir Biak.
Festival Munara Wampasi merupakan tradisi masyarakat Suku Biak yang dilaksanakan saat musim air laut surut, umumnya berlangsung pada Mei hingga Juli.
Tradisi ini tidak sekadar menjadi aktivitas menangkap ikan, tetapi juga mencerminkan hubungan erat masyarakat dengan alam dan warisan budaya leluhur.
Masyarakat Suku Biak, Fredik Lukas Rumainum, mengatakan bahwa tradisi tersebut telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan selalu dinantikan setiap tahunnya.
“Dulu itu disebut Wampasi dan dilakukan sederhana saja. Sekarang sudah dibuat lebih meriah supaya bisa menarik wisatawan juga,” ujar Fredik saat diwawancarai.
Fredik menjelaskan, kata Munara berarti pesta, sedangkan Wampasi merujuk pada musim kering ketika air laut surut.
Pada masa itulah masyarakat bersama-sama turun ke laut untuk menangkap ikan dan mencari hasil laut lainnya.
Seiring perkembangan zaman serta dukungan pemerintah daerah, tradisi yang dahulu digelar secara sederhana kini berkembang menjadi festival budaya yang lebih besar dan terbuka bagi masyarakat luas.
Saat ini, Festival Munara Wampasi tidak hanya menghadirkan kegiatan menangkap ikan bersama, tetapi juga menampilkan berbagai pertunjukan budaya, seperti tarian tradisional, hiburan rakyat, dan kegiatan adat lainnya.
Kehadiran berbagai atraksi tersebut membuat festival semakin dikenal masyarakat luar daerah hingga wisatawan.
Sebelum festival dilaksanakan, masyarakat terlebih dahulu menerapkan tradisi adat yang dikenal dengan sebutan sasi.
Tradisi ini berupa larangan mengambil hasil laut dalam jangka waktu tertentu sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem laut agar hasil tangkapan tetap melimpah.
“Laut dijaga selama satu tahun supaya hasilnya tetap banyak. Kalau waktunya sudah tiba, baru masyarakat bersama-sama turun ke laut,” jelas Fredik.
Ketika masa sasi dibuka, masyarakat mulai memasang jaring di area laut sebelum air benar-benar surut.
Saat air mulai turun, ikan-ikan yang terjebak kemudian ditangkap secara bersama-sama.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan karena menghadirkan suasana kebersamaan dan kegembiraan warga.
Selain memiliki nilai budaya, Festival Munara Wampasi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Sejumlah warga memanfaatkan momentum tersebut untuk membuka lapak makanan dan minuman, serta menjual hasil laut kepada para pengunjung.
Menurut Fredik, keramaian masyarakat saat mencari hasil laut bersama menjadi pengalaman paling berkesan dalam festival tersebut.
Ia menilai tradisi ini tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Kalau festival ini tidak terus dilaksanakan, generasi berikutnya bisa saja tidak mengenal budaya ini lagi,” katanya.
Ia berharap Festival Munara Wampasi dapat terus dilestarikan dan dikembangkan menjadi festival budaya berskala nasional agar semakin banyak masyarakat mengenal budaya Papua, khususnya budaya masyarakat Suku Biak.
“Harapan kami festival ini tetap berjalan terus supaya budaya tetap terjaga dan generasi muda masih bisa melestarikannya,” tutup Fredik.
Festival Munara Wampasi menjadi bukti bahwa budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas masyarakat yang harus terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya menjaga alam, memperkuat kebersamaan, dan melestarikan budaya bagi generasi mendatang. (*)
(Pewarta: Defi Herlitha Urus_Mahasiswa Fisip Unmer Malang)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

