Belajar Toleransi dari Rumah Ibadah Lain, Remaja GKJW Lawang Jalani Faithcation ke Vihara dan Pura
Sebanyak 18 remaja Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Lawang memilih belajar langsung tentang toleransi dengan mengunjungi Vihara Dhammadipa di Kota Batu dan Pura Nilwaktita Divisi Infanteri 2 Kostrad di Singosari, Kabupaten Malang.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Memahami keberagaman tak cukup hanya dipelajari dari buku atau ruang kelas. Sebanyak 18 remaja Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Lawang memilih belajar langsung tentang toleransi dengan mengunjungi Vihara Dhammadipa di Kota Batu dan Pura Nilwaktita Divisi Infanteri 2 Kostrad di Singosari, Kabupaten Malang.
Kegiatan bertajuk faithcation tersebut menjadi bagian dari pembinaan calon sidi sebelum mereka memasuki jenjang keanggotaan dewasa di gereja. Melalui kunjungan lintas agama ini, peserta diajak membangun pemahaman bahwa iman yang kokoh justru tumbuh ketika seseorang mampu menghargai dan memahami perbedaan.
Pendeta Sevi Niasari yang mendampingi kegiatan menjelaskan, pengalaman bertemu dan berdialog langsung dengan pemeluk agama lain menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk hidup di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
"Ini menjadi bekal penting bagaimana belajar toleransi secara langsung dan berdialog secara tatap muka bersama," ujar Sevi, Senin (29/6/2026).
Di Vihara Dhammadipa, rombongan disambut Samanera dan Silani yang memperkenalkan sejarah vihara, perjalanan Siddhartha Gautama hingga mencapai pencerahan, serta makna berbagai simbol keagamaan yang terdapat di kompleks vihara.
Tak hanya mendengarkan paparan, para peserta juga diajak memahami tata cara ibadah umat Buddha, etika memasuki tempat suci, fungsi altar, hingga filosofi penggunaan dupa sebagai lambang penghormatan dan pengingat untuk terus menumbuhkan kebajikan.
Dialog berlangsung hangat ketika para remaja berdiskusi mengenai nilai-nilai universal yang diajarkan berbagai agama, seperti kasih sayang, welas asih, kedamaian, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
"Kita diajak berkeliling mengenal ruang-ruang ibadah serta aktivitas spiritual umat Buddha, yang semakin memperluas wawasan tentang keberagaman praktik keagamaan," ungkapnya.
Perjalanan dilanjutkan ke Pura Nilwaktita di kawasan Divisi Infanteri 2 Kostrad, Singosari. Kedatangan rombongan disambut hangat oleh warga bersama Pemangku Pura, I Gede Simpen.
“Terima kasih atas kesediaan waktu dan kesempatan saudara-saudara dari GKJW Lawang yang berkenan berkunjung ke pura kami. Semoga pertemuan ini menjadi jembatan persaudaraan dan saling memahami satu sama lain,” ucap I Gede Simpen.
Di pura, para peserta tidak hanya mengenal tradisi dan tata ibadah umat Hindu, tetapi juga berdialog mengenai pentingnya menjaga kerukunan dalam kehidupan berbangsa. Pertemuan tersebut menjadi ruang belajar bahwa keberagaman merupakan kekayaan yang perlu dirawat melalui saling menghormati.
Melalui faithcation ini, GKJW Lawang berharap para calon sidi tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya matang dalam iman Kristen, tetapi juga terbuka terhadap perbedaan, menghargai keyakinan orang lain, serta mampu membangun persaudaraan tanpa memandang latar belakang agama.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa toleransi lahir dari perjumpaan dan dialog. Saat generasi muda diberi ruang untuk saling mengenal, mereka belajar bahwa setiap agama memiliki cara berbeda dalam beribadah, namun sama-sama mengajarkan nilai kemanusiaan, kasih, dan perdamaian.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


