UNJ Resmikan TPST dan Waste Management Center untuk Perkuat Komitmen Menuju Kampus Zero Waste
Selain pengelolaan sampah, UNJ juga akan melakukan penataan kawasan kampus secara menyeluruh, mulai dari penghijauan, peningkatan kualitas ruang terbuka, hingga penyediaan fasilitas yang ramah bagi pe

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Wil. Kota Jakarta Selatan – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan kampus hijau dan berkelanjutan melalui peresmian Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dan Waste Management Center (WMC) di Area TPST Kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, pada Rabu, 1 Juli 2026. Kehadiran fasilitas ini menjadi langkah strategis UNJ dalam mengurangi residu sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sekaligus membangun budaya pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di lingkungan kampus.
Ketua Waste Management Center UNJ, Samadi, dalam laporannya menyampaikan bahwa selama hampir tiga bulan pelaksanaan program, WMC telah menunjukkan berbagai capaian nyata dalam pengelolaan sampah terpadu. Salah satunya adalah pengolahan sampah organik berupa daun menjadi pupuk kompos padat dan pupuk organik cair yang dimanfaatkan kembali untuk penghijauan kawasan kampus.
Selain itu, WMC juga mengembangkan pengolahan sampah plastik, khususnya botol plastik, melalui proses pencacahan sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui kemitraan dengan berbagai pihak.
"Inovasi ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan sampah, tetapi juga membuka peluang kerja sama yang memberikan nilai tambah bagi hasil pengolahan sampah," ujar Samadi.
Program tersebut semakin diperkuat melalui kolaborasi bersama Badan Pengelola Usaha (BPU) UNJ dalam pengembangan ekoenzim yang mulai berjalan sejak pertengahan Juni 2026 sebagai bagian dari pemanfaatan limbah organik secara berkelanjutan.
Di sisi lain, WMC juga mengembangkan budidaya maggot bekerja sama dengan para akademisi UNJ, termasuk Prof. Dahlia. Program ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi pengolahan sampah organik, tetapi juga mendukung kegiatan penelitian, pembelajaran, hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Menurut Samadi, implementasi sistem pengelolaan sampah di seluruh fakultas, gedung, dan unit kerja UNJ telah memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan residu sampah.
"Jumlah sampah yang dikirim ke Bantar Gebang kini berkurang sekitar seperempat hingga seperlima dari sebelumnya. Artinya, sebagian besar sampah sudah dapat diolah langsung di lingkungan kampus," jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama Waste Management Center bukan semata-mata memperoleh keuntungan ekonomi, melainkan membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus menumbuhkan budaya sadar lingkungan bagi seluruh sivitas akademika.
"Kompos hasil pengolahan dimanfaatkan kembali untuk tanaman di lingkungan UNJ, begitu pula pupuk cair yang dihasilkan. Sementara itu, sampah plastik diolah agar memiliki nilai guna yang lebih tinggi melalui proses daur ulang," tambahnya.
Ke depan, WMC juga akan mengembangkan penataan kawasan kampus agar semakin hijau, bersih, sehat, dan nyaman sebagai bagian dari implementasi konsep Green Campus.
Sementara itu, Rektor UNJ, Prof. Komarudin, menegaskan bahwa peresmian TPST dan Waste Management Center merupakan bagian dari penguatan tata kelola lingkungan melalui pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Lingkungan dan Kawasan.
Menurutnya, pengelolaan lingkungan telah menjadi aspek strategis dalam meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat citra universitas.
"Pengelolaan lingkungan bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga menjadi wajah universitas. Karena itu diperlukan unit yang secara khusus menangani perencanaan, pengembangan, dan pengawasannya," ujar Prof. Komarudin.
Rektor menjelaskan bahwa penguatan pengelolaan lingkungan semakin menjadi perhatian setelah kunjungan Menteri Lingkungan Hidup beberapa waktu lalu. Berbagai masukan mengenai ruang terbuka hijau, pengelolaan sampah, hingga kawasan kampus menjadi momentum bagi UNJ untuk mempercepat implementasi program Green Campus melalui gerakan Zero Waste.
Prof. Komarudin menegaskan bahwa pembangunan TPST tidak boleh berhenti pada penyediaan fasilitas fisik semata, melainkan harus diikuti sistem pengelolaan yang profesional, berkelanjutan, dan didukung sumber daya manusia yang kompeten.
"Yang penting bukan hanya bangunannya berdiri, tetapi bagaimana fasilitas ini benar-benar berfungsi dan dikelola secara profesional," katanya.
Sebagai bagian dari penguatan sistem tersebut, UNJ akan terus mengembangkan budidaya maggot, produksi kompos, pupuk organik cair, ekoenzim, hingga berbagai produk hasil pengelolaan sampah lainnya. Seluruh inovasi tersebut diharapkan menjadi media pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menghasilkan nilai ekonomi melalui penerapan konsep ekonomi sirkular.
Rektor juga menekankan pentingnya sinergi lintas fakultas dan program studi yang memiliki kompetensi di bidang lingkungan, seperti Program Studi Manajemen Lingkungan, Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH), serta Pendidikan Lingkungan.
"Kita memiliki sumber daya akademik yang kuat. Sekarang saatnya teori itu diwujudkan dalam praktik sehingga kampus benar-benar menjadi laboratorium pengelolaan lingkungan," ungkapnya.
Selain pengelolaan sampah, UNJ juga akan melakukan penataan kawasan kampus secara menyeluruh, mulai dari penghijauan, peningkatan kualitas ruang terbuka, hingga penyediaan fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas. Bahkan, UNJ mendorong lahirnya inovasi desain tempat sampah ergonomis yang diproduksi sendiri oleh sivitas akademika sebagai bagian dari pengembangan produk unggulan kampus.
Melalui peresmian TPST dan Waste Management Center ini, UNJ semakin menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi pelopor pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Berbagai inovasi yang dikembangkan membuktikan bahwa sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai guna, bernilai ekonomi, sekaligus mendukung terwujudnya kampus zero waste yang hijau, bersih, dan berkelanjutan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

