HIPMI Sidoarjo Luncurkan Integrated Farming Bioflok, Dorong Kemandirian Ekonomi Desa
BPC HIPMI Kabupaten Sidoarjo meluncurkan Program Integrated Farming Budidaya Ikan Air Tawar Sistem Bioflok sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong lahirnya wirausaha baru.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
SIDOARJO – Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Sidoarjo meluncurkan Program Integrated Farming Budidaya Ikan Air Tawar Sistem Bioflok sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong lahirnya wirausaha baru di sektor perikanan dan peternakan.
Program tersebut merupakan implementasi konsep Sapta Delta dan Integrated Farming yang diinisiasi Ketua Umum BPC HIPMI Kabupaten Sidoarjo, Muh. Zakaria Dimas Pratama, serta didukung melalui Program Bantuan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Peresmian program dilakukan di dua lokasi yang menjadi proyek percontohan, yakni Pokdakan Cahaya Muda Gemilang di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi dan Pokdakan Wiwit Mulyo di Desa Watugolong, Kecamatan Krian.
Selain dua kelompok pembudidaya ikan air tawar, HIPMI Sidoarjo juga membina tiga kelompok peternak ayam petelur sebagai bagian dari pengembangan sistem pertanian terpadu yang menghubungkan sektor perikanan, peternakan, kewirausahaan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Setiap kelompok penerima memperoleh bantuan lengkap dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP berupa satu unit bangunan pendukung, delapan kolam bioflok, 20.000 benih ikan air tawar, serta 1,8 ton pakan untuk satu siklus budidaya. Bantuan tersebut diharapkan mampu mempercepat produktivitas sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Ketua Umum BPC HIPMI Kabupaten Sidoarjo, Muh. Zakaria Dimas Pratama, mengatakan, program ini bukan sekadar penyaluran bantuan, melainkan langkah membangun ekosistem ekonomi yang menghubungkan seluruh rantai usaha, mulai dari produksi hingga pemasaran.
"Persoalan daerah bukan karena kekurangan potensi, tetapi karena banyak potensi yang masih berjalan sendiri-sendiri. Ketika petani, pembudidaya, pelaku usaha, akademisi, investor, pemerintah, dan media dipertemukan dalam satu ekosistem, yang tumbuh bukan hanya satu usaha, tetapi ekonomi daerah secara keseluruhan. Itulah semangat Sapta Delta," Katanya kepada TIMES Indonesia, Rabu (1/7/2026).
Dimas sapaan akrab Zakaria Dimas ini melanjutkan jika HIPMI berperan sebagai penghubung berbagai potensi yang selama ini belum saling terkoneksi.
"Masih banyak pelaku usaha yang mampu memproduksi, tetapi belum memiliki akses pasar. Sebaliknya, pasar membutuhkan pasokan yang stabil, sementara investor mencari peluang usaha produktif yang belum bertemu dengan kelompok usaha yang tepat," ungkapnya.
Dimas melanjutkan jika melalui konsep Integrated Farming, seluruh potensi tersebut diintegrasikan dalam satu rantai nilai yang melibatkan pembudidaya ikan, peternak ayam petelur, UMKM, akademisi, pemerintah, investor, media, hingga jaringan pemasaran.
"Program ini juga diarahkan sebagai laboratorium kewirausahaan berbasis masyarakat. Kelompok binaan tidak hanya didorong meningkatkan produksi, tetapi juga dibekali kemampuan mengelola usaha, memanfaatkan teknologi, memperluas akses pasar, hingga mengembangkan produk bernilai tambah melalui hilirisasi," Paparnya
HIPMI Sidoarjo, tambah Dimas juga mendorong penerapan teknologi digital dalam sektor pangan, mulai dari digital farming, smart aquaculture, pemanfaatan Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), pencatatan usaha digital, hingga pemasaran berbasis teknologi.
"Perikanan dan peternakan tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional, tetapi sebagai sektor usaha modern yang mampu menarik minat generasi muda," katanya.
Dimas menegaskan jika melalui konsep Sapta Delta, HIPMI membangun kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media untuk menjawab berbagai tantangan daerah, mulai dari regenerasi petani dan pembudidaya, penguatan UMKM, hilirisasi produk lokal, hingga peningkatan investasi.
Sementara itu, pengurus Pokdakan penerima manfaat, Dwi Ardy Sugiono, menyambut baik program tersebut. Menurut dia, bantuan yang diterima menjadi modal penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus membangun usaha yang lebih mandiri.
"Bantuan yang kami terima sangat lengkap, mulai dari bangunan, delapan kolam bioflok, 20.000 benih ikan, hingga pakan untuk satu siklus budidaya. Ini menjadi modal besar bagi kelompok kami untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kelembagaan usaha," ujarnya.
Ardy sapaan akrab anggota HIPMI Kabupaten Sidoarjo ini optimistis model Integrated Farming yang diterapkan di Balongdowo dan Watugolong dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Sidoarjo sehingga mampu melahirkan lebih banyak pembudidaya muda dan pengusaha baru di sektor pangan.
"Yang kami bangun bukan sekadar kolam bioflok, tetapi ekosistem usaha. Ketika ekosistem ini tumbuh, kami yakin akan lahir lebih banyak pembudidaya muda, pelaku UMKM, dan pengusaha pangan baru yang mampu menggerakkan ekonomi desa secara berkelanjutan," pungkas Ardy.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


