Advertisement
Indonesia Positif

Dosen FPsi UNJ Perkuat Kompetensi Orang Tua Anak ADHD melalui Pelatihan Pengelolaan Emosi dan Peningkatan Fokus

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terus memperkuat perannya dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat melalui pengabdian berbasis keilmuan.

TIMES Indonesia,
Dosen FPsi UNJ Perkuat Kompetensi Orang Tua Anak ADHD melalui Pelatihan Pengelolaan Emosi dan Peningkatan Fokus
Dosen FPsi UNJ Perkuat Kompetensi Orang Tua Anak ADHD melalui Pelatihan Pengelolaan Emosi dan Peningkatan Fokus (28/6/26).
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JAKARTA Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terus memperkuat perannya dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat melalui pengabdian berbasis keilmuan. Kali ini, tim dosen Fakultas Psikologi (FPsi) UNJ menyelenggarakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk "Penguatan dan Pendampingan Orang Tua Anak dengan ADHD untuk Meningkatkan Fokus dan Kelola Emosi Anak." Program yang didukung skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) BIMA ini memberikan pendampingan kepada orang tua agar mampu menerapkan strategi pengasuhan yang tepat bagi anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan komunitas Smart Parent for ADHD, serta melibatkan mahasiswa FPsi UNJ, yaitu Raden Ayu Dhiya Khalisha dan Sabiha Ahmad, bersama sejumlah mahasiswa lainnya dan tenaga kependidikan yang turut mendampingi berbagai aktivitas anak selama pelatihan berlangsung.

Advertisement

Kegiatan yang diselenggarakan dalam tiga sesi pada 14, 21, dan 28 Juni 2026 tersebut diikuti secara aktif oleh 30 orang tua yang terdiri atas ayah dan ibu bersama 15 anak. Pelatihan dirancang tidak hanya memberikan pemahaman mengenai ADHD, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua pelaksana kegiatan, Irma Rosalinda, M.Psi., Psikolog, dosen FPsi UNJ, menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru mengenai ADHD. Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar perilaku anak yang sulit diam atau kurang disiplin, melainkan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan mengatur perhatian, mengendalikan impuls, dan mengelola emosi.

 "Anak ADHD bukan malas ataupun kurang disiplin. Mereka mengalami perbedaan cara kerja otak sehingga membutuhkan strategi pengasuhan yang tepat. Orang tua perlu memahami bahwa regulasi emosi adalah proses belajar yang bertahap dan setiap kemajuan kecil anak layak diapresiasi," ujar Irma.

Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar neuropsikologi ADHD, fungsi otak yang berkaitan dengan perhatian dan pengendalian impuls, karakteristik emosi anak, hingga strategi pengasuhan yang efektif. Orang tua juga diperkenalkan pada pendekatan positif, seperti mengenalkan emosi kepada anak, membangun rutinitas yang konsisten, menenangkan anak sebelum memberikan arahan, serta mengutamakan penguatan positif dibandingkan hukuman.

Materi berikutnya disampaikan oleh Anastasia Setyaning, M.Psi., Psikolog, dosen Politeknik Bentara Citra Bangsa Program Studi Konseling Terapan. Ia mengajak peserta memahami bahwa berbagai tantangan yang dialami anak ADHD lebih banyak disebabkan oleh kesenjangan antara mengetahui sesuatu (knowledge) dan kemampuan melaksanakannya secara konsisten (performance).

Advertisement

Menurut Anastasia, fungsi eksekutif, regulasi emosi, dan kemampuan mempertahankan fokus menjadi tantangan utama bagi anak ADHD. Karena itu, peran orang tua bukan sekadar mengingatkan atau menegur, melainkan membangun lingkungan yang mampu mendukung perkembangan anak.

Ia juga memperkenalkan konsep co-regulation, yakni kemampuan orang tua membantu menenangkan sistem emosi anak sebelum mengajarkan perilaku yang diharapkan. Selain itu, peserta diajak mengenali aktivitas yang dapat menguras maupun mengembalikan energi anak sehingga keseimbangan emosi dan kemampuan fokus dapat lebih terjaga.

Sesi kedua menghadirkan Dr. Iriani Indri Hapsari, M.Psi., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UNJ. Ia menekankan bahwa setiap anak ADHD memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pendekatan yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Dalam pemaparannya, Iriani memperkenalkan konsep Pyramid of Learning, yang menjelaskan bahwa kemampuan akademik dan perilaku anak dibangun di atas fondasi perkembangan, mulai dari regulasi sensorik, kontrol gerak, perhatian, regulasi emosi, hingga fungsi eksekutif. Oleh sebab itu, peningkatan prestasi belajar perlu diawali dengan penguatan fondasi perkembangan tersebut.

Pelatihan pada sesi kedua berlangsung semakin interaktif melalui berbagai praktik langsung. Orang tua bersama anak mengikuti latihan brain gym, permainan keseimbangan, penggunaan media visual untuk mengenali emosi, serta berbagai aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan perhatian, regulasi emosi, dan fungsi eksekutif anak. Peserta juga aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi, seperti anak yang mudah terdistraksi, mengalami hyperfocus, sulit mengendalikan impulsivitas sosial, hingga mengalami konflik dengan teman sebaya.

Pada sesi penutup, tim pengabdian melakukan pendampingan lanjutan sekaligus mengevaluasi pengalaman orang tua selama menerapkan berbagai strategi di rumah. Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman antarsesama orang tua sehingga terbentuk dukungan sosial yang saling menguatkan.

Berbagai pertanyaan mengenai pilihan terapi, penanganan tantrum, kesulitan interaksi sosial, hingga prospek masa depan anak ADHD menjadi topik diskusi yang mendapatkan respons antusias dari peserta. Di akhir kegiatan, para orang tua menyampaikan apresiasi atas manfaat pelatihan yang mereka rasakan. Mereka mengaku memperoleh pengetahuan baru, keterampilan praktis, sekaligus dukungan emosional dari sesama orang tua yang menghadapi tantangan serupa.

Melalui program ini, tim Pengabdian kepada Masyarakat FPsi UNJ berharap para orang tua tidak hanya memahami karakteristik ADHD secara ilmiah, tetapi juga mampu menerapkan strategi pengasuhan yang efektif dan berkelanjutan di rumah. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak ADHD diharapkan dapat mengembangkan kemampuan regulasi emosi, meningkatkan fokus, membangun hubungan sosial yang lebih baik, serta tumbuh secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen FPsi UNJ dalam menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus menjawab kebutuhan nyata keluarga Indonesia melalui edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan yang berdampak langsung bagi kualitas tumbuh kembang anak. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

S
PenulisSFD Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia