UI Cordoba Cetak Generasi Pemimpin Berdaya Saing Global Lewat Kuliah Umum Kepala LAN RI
Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) Banyuwangi terus memperkuat perannya dalam menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang mampu bersaing di tingkat global.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
BANYUWANGI – Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) Banyuwangi terus memperkuat perannya dalam menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang mampu bersaing di tingkat global.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Kuliah Umum Nasional bertajuk ‘Menjadi Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat: Kepemimpinan, Pelayanan Publik, dan Masa Depan Indonesia di Era Digital’ di Auditorium UI Cordoba, Jumat (3/7/2026).
Mengundang hadirkan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Dr. Muhammad Taufiq, DEA, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya dunia akademik dengan para pemangku kebijakan.
Ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, pimpinan perguruan tinggi tampak mengikuti jalannya kuliah umum dengan antusias.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Pembina Yayasan UI Cordoba sekaligus Menteri PANRB periode 2022–2024 Abdullah Azwar Anas, Ketua Yayasan UI Cordoba, Pengasuh Yayasan Mabadiul Ihsan dan Daar Al Ihsan, serta jajaran SKPD Kabupaten Banyuwangi dari berbagai organisasi perangkat daerah.
Rektor UI Cordoba, Prof. Dr. Agus Trihartono, S.Sos., M.A., Ph.D., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tapi juga memiliki karakter kepemimpinan yang kuat.
"Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemimpin masa depan yang mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Kehadiran para pemimpin nasional di lingkungan kampus merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus menghubungkan dunia akademik dengan realitas kebijakan publik," ujarnya.
Dalam kuliah umum, Kepala LAN RI, Dr. Muhammad Taufiq, DEA, menekankan bahwa kemampuan belajar sepanjang hayat menjadi kunci utama menghadapi perubahan dunia yang bergerak semakin cepat.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga melayani masyarakat.
Dia juga mengingatkan bahwa gelar akademik bukanlah akhir dari proses pembelajaran. Justru setelah lulus, seseorang dituntut terus meningkatkan kompetensi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
"Perubahan hari ini bergerak sangat cepat. Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti ketika seseorang lulus dari bangku kuliah. Justru di situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai," tegasnya.
Lebih jauh, Kepala LAN RI itu mengajak generasi muda untuk memperdalam bidang keahlian masing-masing. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis dan analitis akan menjadi pembeda utama di tengah derasnya arus informasi yang kini begitu mudah diakses.
Dr. Muhammad Taufiq, juga menyoroti pentingnya membangun budaya yang menghargai profesionalisme dan otoritas keilmuan.
Setiap profesi, kata dia, memiliki kompetensi yang harus dihormati demi menghasilkan kebijakan dan pelayanan publik yang berkualitas.
"Tidak ada yang lebih memahami pendidikan selain guru, sebagaimana tidak ada yang lebih memahami kesehatan selain dokter. Maka, setiap profesi harus terus memperkuat kompetensinya agar mampu memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat," ungkapnya.
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) turut menjadi perhatian dalam kuliah umum tersebut. Dr. Muhammad Taufiq menilai teknologi kecerdasan buatan harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pelayanan publik.
Namun, dia mengingatkan bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan nilai-nilai dasar yang dimiliki manusia. Integritas, empati, kebijaksanaan, dan kemampuan mengambil keputusan tetap menjadi fondasi utama kepemimpinan.
"Artificial Intelligence mampu membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan integritas, kebijaksanaan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, jangan hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga bangun karakter yang membuat teknologi digunakan untuk kemaslahatan," kata Dr. Muhammad Taufiq.
Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan beragam pertanyaan kritis dari mahasiswa mengenai transformasi birokrasi, pemanfaatan AI dalam pelayanan publik, hingga kompetensi yang harus dipersiapkan untuk menghadapi persaingan global. Dialog dua arah tersebut memperlihatkan tingginya minat mahasiswa terhadap isu kepemimpinan dan masa depan Indonesia di era digital. (*)
Pewarta : Fazar Dimas
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


