Kisah Pengabdian Tanpa Batas Alexandrina, Guru Pelosok NTT yang Tak Pernah Ingkar Janji
Sekolah-sekolah lain yang berada di dekat rumah mungkin menawarkan fasilitas yang jauh lebih memadai, akses yang lebih aman, serta waktu tempuh yang singkat.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Malang – Pagi baru saja menyapa jajaran perbukitan di Desa Golo Tebo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Udara dingin khas pegunungan yang menusuk tulang seolah tidak menjadi penghalang bagi langkah kaki sang pahlawan tanpa tanda jasa.
Di usianya yang telah menginjak 60 tahun, Alexandrina - atau yang akrab disapa Ibu Santi - terus melangkah menyusuri jalanan terjal, menyembunyikan rasa sakit mendalam yang kian menggerogoti tubuh senjanya.
Tidak ada sedikit pun keraguan terpancar dari pundaknya yang mulai melemah termakan usia. Sebuah tas ransel usang berwarna hitam senantiasa menemani langkahnya, sarat dengan tumpukan buku tematik Sekolah Dasar (SD) yang mulai rapuh dimakan waktu.
Bagi Ibu Santi, setiap fajar yang menyingsing bukanlah sekadar rutinitas harian, melainkan awal dari babak baru perjuangan hidup yang telah ia lakoni selama lebih dari seperempat abad: menaklukkan infrastruktur ekstrem demi masa depan anak-anak di SDI Golo Tebo.
Sejak tahun 1999, Ibu Santi telah mengabdikan seluruh hidup dan jiwanya sebagai pendidik di wilayah terpencil ini. Menjadi guru di Desa Golo Tebo jelas bukan perkara mudah.
Selama 26 tahun terakhir, musuh terbesar yang ia hadapi bukanlah kurikulum pendidikan nasional yang terus berganti arah, melainkan akses jalan menuju sekolah yang layaknya jalur maut yang mengancam keselamatan jiwa.
Jalanan yang menghubungkan antar-desa menuju sekolah tersebut bukan sekadar rusak berat, melainkan telah kehilangan wujudnya sebagai fasilitas publik.
Infrastruktur di wilayah ini seolah-olah luput secara permanen dari agenda pembangunan pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat.
Saat musim kemarau tiba, jalanan ini berubah menjadi jalur tanah berdebu tebal yang ditimbun secara swadaya oleh masyarakat sekitar demi bisa dilewati.
Namun, ancaman sesungguhnya datang ketika musim hujan melanda. Jalur tersebut berubah menjadi kubangan lumpur yang sangat licin dan berbahaya.
Tidak hanya itu, ancaman tanah longsor dari perbukitan sewaktu-waktu siap menutup akses jalan yang sudah sangat sempit tersebut, mengisolasi desa dari dunia luar.
Ketidaktersediaan akses jalan yang layak di Desa Golo Tebo ini memicu efek domino yang melumpuhkan sendi ekonomi masyarakat.
Akibat akses yang berbahaya, biaya transportasi angkutan umum melonjak drastis hingga empat kali lipat - dari yang semula hanya berkisar sepuluh ribu rupiah, kini melambung tinggi menjadi Rp40.000 sekali jalan.
Masyarakat setempat sudah berulang kali menyuarakan keluhan mereka, merasa bahwa wilayah Golo Tebo layaknya 'dianaktirikan' oleh pemerintah.
Usulan demi usulan yang diperjuangkan dalam forum rencana pembangunan antardesa setiap tahunnya seolah hanya berakhir menjadi tumpukan kertas laporan tak berharga di meja birokrasi, tanpa pernah ada realisasi nyata.
Janji-janji politik dari para elite saat musim pemilihan umum datang dan pergi silih berganti. Namun bagi Ibu Santi dan masyarakat setempat, pemandangan jalan beraspal mulus tetap menjadi sebuah kemewahan tertinggi yang hanya hadir di dalam mimpi.
Di tengah pengabaian struktural dan keterbatasan yang mencekik tersebut, dedikasi Ibu Santi berdiri kokoh menantang arus. Setiap hari, berjalan kaki melewati jalur maut menjadi pilihan sadar yang ia ambil.
Jalan rusak tersebut sebenarnya hanya dapat diakses oleh kendaraan roda dua berspesifikasi khusus seperti motor trail atau motor bersilinder besar lainnya. Namun bagi Ibu Santi, keterbatasan itu tak menghalangi misinya.
Ia menegaskan tidak ingin anak-anak di pelosok NTT kehilangan hak mereka untuk berani bermimpi dan mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena negara terlambat hadir untuk membangun jalan mereka.
Baginya, janji yang diikrarkan sebagai seorang pendidik pada 1999 adalah komitmen sakral di hadapan Tuhan yang tidak akan pernah ia ingkari, bahkan jika harus ditebus dengan sisa-sisa kekuatan terakhir di usia senjanya.
Perjuangan penuh peluh ini disaksikan langsung oleh sang anak yang setiap sore menyambut kepulangan sang 'cinta pertama' di rumah.
Rasa iba dan haru kerap kali mengiris hati sang anak melihat tubuh renta ibunya yang dipaksa bersahabat dengan jalur ekstrem ke Desa Golo Tebo.
Suatu malam, saat sang anak membantu memijat kaki Ibu Santi yang membengkak dan terasa sakit setelah seharian penuh berjalan dan mengajar, sebuah pertanyaan terlontar dalam bahasa daerah Manggarai, menyampaikan rasa khawatir yang mendalam.
"Ma, toe cape ite ko lako neteng leso? Padahal manga tawaran sekolah ata tae ite kut jadi tenaga pengajar nitu dan ga ruis kole tempatn dan pastin ga dia salang nitu sinan," ujar sang anak dengan nada lirih.
Artinya: "Ibu, apakah ibu tidak capek jalan kaki setiap hari? Padahal ada sekolah lain yang menawarkan ibu untuk jadi tenaga pengajar mereka. Tempatnya dekat dari rumah dan akses jalannya sudah bagus."
Mendengar pertanyaan itu, Ibu Santi hanya tersenyum tipis - sebuah senyuman khas yang selalu memancarkan ketenangan luar biasa di wajahnya. Ia menatap sang anak dengan binar mata penuh semangat, lalu menjawab dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan yang menggetarkan hati:
"Anak, eme nganceng pilih sot ruis hi mama pasti pilih li mama, tapi eme nggitu ga ceing ata ajar anak koe sot sina Golo Tebo? Toe meseng kaeng one pelosok ga berarti tema masa depan dise ko?"
Artinya: "Nak, kalau semua guru memilih pergi ke sekolah yang dekat dan jalannya mulus, lalu siapa yang mau mengajari anak-anak di Golo Tebo? Apakah karena mereka lahir di pelosok yang jalannya rusak, mereka jadi tidak berhak punya masa depan?"
Ia kemudian melanjutkan kalimatnya dengan penuh ketulusan, “Anak-anak di SDI Golo Tebo itu sudah seperti anak Ibu sendiri. Mereka tidak punya pilihan untuk pindah ke sekolah yang lebih dekat. Kalau Ibu pergi, Ibu merasa seperti mengkhianati masa depan mereka yang sudah rapuh karena keadaan.”
Jawaban mendalam itu seketika meruntuhkan keheningan malam dan menyisakan rasa takjub yang luar biasa di hati sang anak.
Di mata sang anak, ketulusan ibunya melampaui batas kemanusiaan biasa, layaknya seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaga asa anak-anak pelosok yang terisolasi.
Di mata Ibu Santi, kenyamanan pribadi adalah hal sekunder jika dibandingkan dengan tanggung jawab moral yang ia panggul di pundaknya. Sekolah-sekolah lain yang berada di dekat rumah mungkin menawarkan fasilitas yang jauh lebih memadai, akses yang lebih aman, serta waktu tempuh yang singkat.
Namun, bagi seorang pendidik sejati seperti Ibu Santi, ada satu hal luhur yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan kemudahan materi: yaitu ikatan batin yang kuat dan kepastian masa depan bagi anak-anak Golo Tebo yang senantiasa merindukan lentera ilmu. (*)
(Pewarta: Yulis Pentason Harum_Mahasiswa Ilkom FISIP UNMER Malang)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

