Mengarungi Malam Demi 'Emas Hijau' Morotai: Hangatnya Tradisi Berburu Laor yang Mengikat Persaudaraan
Harapan mereka kini seragam dan solid: selama laut Morotai tetap bersih, biru, dan terjaga dari pencemaran lingkungan, tradisi warisan leluhur ini tidak akan pernah punah dan akan terus dinikmati hing

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Malang – Laor atau cacing laut telah lama menjadi panganan tahunan primadona oleh masyarakat pesisir Pulau Morotai. Kemunculannya yang langka menjadi momen yang paling dinanti, mulai dari keseruan memburunya di gelap malam hingga kehangatan menikmati berbagai olahan kulinernya bersama kerabat.
Bagi masyarakat Pulau Morotai, Maluku Utara, datangnya bulan April dan Mei bukan sekadar pergantian lembar kalender biasa. Ada desir angin yang berbeda di pesisir, diiringi rasa penasaran yang pelan-pelan menjalar menjadi obrolan hangat di warung-warung kopi warga.
Mereka sedang menanti sebuah momentum langka yang hanya menyapa satu atau dua kali dalam setahun: munculnya Laor, biota laut eksotis yang kerap dijuluki sebagai 'Emas Hijau' karena nilai tradisi dan kelezatannya yang tak ternilai.
Masyarakat lokal memiliki 'kalender alam' yang diwariskan turun-temurun dari leluhur untuk memprediksi kehadiran makhluk ini.


"Waktu munculnya kita sudah tahu persis berdasarkan hitungan bulan. Tapi saat pertama kali dia keluar dari sarangnya di sela karang, kita tidak bisa melihatnya. Nanti kalau sudah terapung dan mengalir massal di atas air, baru kelihatan jelas," jelas Rahmat (42), nelayan lokal asal Desa Korago
Memburu laor bukan sekadar profesi atau kerja satu-dua orang nelayan demi mencari sesuap nasi. Ini adalah sebuah pesta rakyat, ritual tahunan yang menggerakkan seluruh elemen masyarakat.
Ketika malam yang ditentukan tiba - biasanya riuh dimulai sejak pukul 12 malam hingga menjelang subuh pukul 4 pagi - suasana pesisir pantai Morotai mendadak berubah total.
Tempat yang biasanya sunyi dan gelap, seketika hidup dan benderang oleh lentera dan obor para pemburu.
Dari anak-anak, remaja, hingga orang tua bergerak serentak. Mereka meninggalkan kasur yang empuk demi menuju titik-titik kumpul perburuan ikonik seperti Pulau Tabailenge, Tanjung Gorango, Pantai Baru, hingga Desa Korago.
Perjalanan menuju lokasi-lokasi ini pun tidak jarang menguji nyali dan memacu adrenalin.
Ada kelompok warga yang harus membelah ombak malam yang dingin menggunakan perahu motor kecil. Ada pula yang harus menempuh jalur darat yang ekstrem, membelah hutan belantara dengan mengendarai mobil atau sepeda motor.
Risiko ban bocor, rantai putus, atau mesin mogok di tengah kegelapan malam sudah menjadi bagian dari cerita 'seni berburu' laor yang justru dirindukan.
Namun, hebatnya, semua rasa lelah, kantuk, dan peluh itu luruh seketika begitu roda kendaraan atau lambung perahu mereka menyentuh tepi pantai tujuan.
"Pokoknya kita memburunya beramai-ramai. Ada yang sampai membawa tenda dan bermalam di pulau terluar. Rasanya senang sekali karena suasananya sangat ramai, seperti tidak ada sekat di antara kami," ujar Jubaidah (48), warga pesisir Morotai
Sambil menunggu laor naik ke permukaan menjelang pagi, suasana pesisir berubah menjadi sangat hangat, mirip dengan tempat piknik keluarga berskala besar. Warga tidak hanya diam termangu menunggu di kegelapan.
Mereka membawa speaker portable, memutar musik-musik daerah yang rancak, bersenda gurau, hingga menyalakan api unggun untuk memasak makanan yang dibawa dari rumah.
Makanan itu kemudian disantap bersama di atas hamparan pasir dan bebatuan pantai, mempererat simpul kekerabatan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan sehari-hari.
Ketika fajar mulai menyingsing dan laor yang berbentuk seperti cacing laut warna-warni mulai mengalir melimpah di permukaan air yang jernih, kegembiraan warga langsung pecah mencapai puncaknya.
Bermodalkan jaring khusus bermata sangat halus, tangan-tangan terampil dengan cekatan menyerok laor dari air. Jaring ini dirancang khusus agar tubuh laor yang lembut tidak hancur dan terpisah dari rumput laut, daun, atau kotoran laut lainnya.
Meski penuh tawa, perburuan ini sejatinya adalah sebuah taruhan melawan hukum alam. Musuh terbesar para pemburu laor adalah cuaca, spesifiknya hujan turun.
"Tantangan paling berat itu kalau tiba-tiba turun hujan. Laor itu makhluk yang sangat sensitif, dia bisa langsung hancur dan meleleh kalau terkena air tawar. Kalau sudah begitu, kerja keras semalaman bisa sia-sia," sambung Aki Usman (65), tokoh masyarakat pesisir Morotai
Selain risiko kehujanan, mereka juga harus ekstra waspada saat memijak bebatuan pantai yang licin dan tajam.
Kesalahan kecil bisa berakibat fatal, luka robek di kaki kerap menjadi 'hadiah' bagi mereka yang kurang waspada di bawah remang cahaya subuh.
Bagi masyarakat di luar Maluku Utara, laor mungkin terdengar asing atau bahkan ekstrem untuk dikonsumsi. Namun di lidah warga Morotai, rasanya luar biasa gurih.
Gurihnya bahkan dinilai melebihi ikan atau hidangan laut mewah lainnya. Ibu-ibu di Morotai sudah sangat mahir dalam mengolahnya menjadi hidangan legendaris.
Ada yang digoreng kering, ditumis dengan bumbu pedas yang melimpah, dibakar, dibungkus daun pisang (pepes), hingga dimasukkan ke dalam bilah-bilah bambu untuk dimasak secara tradisional di atas bara api.
Jika hasil tangkapan malam itu melimpah, warga Morotai memiliki sifat komunal yang kental dan tidak pelit untuk berbagi.
Mereka akan langsung membagikan hasil buruan tersebut kepada tetangga, kerabat, atau lansia yang tidak sempat ikut mengarungi malam. Sisanya barulah akan dijual ke pasar jika ada warga lain yang berminat membeli.
Bagi masyarakat Morotai, melewatkan musim laor adalah sebuah kerugian sosial yang besar. Ada rasa sesal yang mendalam jika tidak ikut mengarungi malam menembus dingin demi makhluk kecil ini.
Lebih dari sekadar pemenuh kebutuhan gizi dan protein tinggi, tradisi berburu laor adalah lem perekat yang mengikat erat tali persaudaraan antarwarga.
Harapan mereka kini seragam dan solid: selama laut Morotai tetap bersih, biru, dan terjaga dari pencemaran lingkungan, tradisi warisan leluhur ini tidak akan pernah punah dan akan terus dinikmati hingga anak cucu mereka nanti.
KARAKTERISTIK 'MANJA' SANG BIOTA LAUT
Laor merupakan komoditas laut yang sangat sensitif dan cepat membusuk dalam hitungan jam setelah ditangkap.
Untuk menyiasatinya, masyarakat Morotai langsung mendirikan tempat pengasapan darurat di tepi pantai menggunakan kayu bakar kering agar kadar air laor berkurang dan teksturnya menjadi awet untuk dibawa pulang. (*)
(Pewarta: Yunita Dwi Dyan Hangewa_Mahasiswa Ilkom FISIP UNMER Malang)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

