TIMES Indonesia Ajak UKM Pers Mahapena UIMSYA Blokagung Banyuwangi Jadi Penulis Nasionalis
Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) yang digeber Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahapena Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung Banyuwangi.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
BANYUWANGI – Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) yang digeber Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahapena Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung Banyuwangi, tidak hanya membekali peserta dengan teknik menulis berita, tetapi juga diajak menjadi penulis nasionalis melalui karya jurnalistik yang positif.
Ajakan tersebut disampaikan Jurnalis TIMES Indonesia Biro Banyuwangi, Muhamad Ikromil Aufa, saat menjadi narasumber PJTD pada Senin (6/7/2026), di Aula Haromain Kampus 1 UIMSYA.
Menurut Aufa, seorang jurnalis tidak cukup hanya mampu merangkai kata, tetapi juga harus memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi yang akurat, mencerahkan, serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan.
“Di era kebebasan berpendapat ini, setiap orang bisa menjadi pembuat konten maupun penyebar informasi. Karena itu, seorang jurnalis harus mampu menjadi pembeda dengan menghadirkan karya yang akurat, berimbang, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Jadilah penulis yang nasionalis,” kata Aufa.
Aufa juga mendorong anggota UKM Pers Mahapena untuk terus mengasah kemampuan menulis melalui praktik yang konsisten. Menurutnya, media kampus merupakan ruang terbaik bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus mengembangkan sensitivitas terhadap berbagai persoalan sosial.
“Kritis itu perlu. Tetapi, kritik harus dibangun di atas fakta dan disampaikan dengan etika,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, alumni Institut Teknologi dan Bisnis ASIA Malang itu, juga membagikan materi mengenai teknik wawancara yang baik kepada para peserta.
Dia menjelaskan pentingnya melakukan riset sebelum bertemu narasumber, menyusun daftar pertanyaan yang relevan, serta membangun komunikasi yang santun agar proses wawancara berjalan efektif.
Tak hanya aspek teknis, Aufa juga menekankan etika dalam wawancara jurnalistik. Menurutnya, seorang wartawan harus menghormati narasumber, tidak memelintir pernyataan, serta mengedepankan akurasi dan prinsip keberimbangan dalam setiap pemberitaan.
Materi yang disampaikan Aufa menjadi salah satu bekal bagi peserta selama mengikuti rangkaian PJTD. Kegiatan yang kembali digelar UKM kampus di bawah naungan Pondok Pesantren Darussalam Blokagung itu merupakan upaya menghidupkan nalar kritis sekaligus memperkuat regenerasi pers mahasiswa.
Mengusung tema “Meneguhkan Fungsi Epistemik Persma dalam Kehidupan Kampus”, PJTD dirancang tidak hanya membekali peserta dengan kemampuan jurnalistik, tetapi juga menanamkan budaya berpikir kritis dalam menyikapi persoalan, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum UKM Pers Mahapena, Achmad Muqoffin Asna, mengatakan bahwa tema yang diangkat pada PJTD tahun ini merupakan bentuk penegasan bahwa pers mahasiswa memiliki tanggung jawab intelektual dalam menyampaikan kebenaran melalui karya jurnalistik yang berkualitas.
“Tema pada PJTD kali ini kami tekankan untuk menghidupkan kembali budaya berpikir kritis yang harus dimiliki jiwa seorang persma melalui ruang-ruang diskusi dalam lima materi yang kami susun sebagai komposisi pembentukan seorang persma,” ujarnya.
Asna menyebut, pelatihan ini sengaja kembali diselenggarakan setelah sempat vakum selama dua tahun sebagai momentum untuk membangkitkan kembali budaya diskusi sekaligus memperkuat nalar kritis di kalangan anggota UKM Pers Mahapena.
Melalui kehadiran praktisi media sebagai narasumber, UKM Pers Mahapena berharap para peserta memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai dunia jurnalistik profesional.
Selain menguasai teknik peliputan dan penulisan berita, peserta juga didorong untuk menjunjung tinggi integritas, independensi, dan semangat pengabdian kepada masyarakat melalui karya-karya jurnalistik yang berkualitas.
Lewat rangkaian materi dan praktik yang diberikan, PJTD tidak hanya menjadi ruang belajar jurnalistik, tetapi juga wadah mencetak generasi pers mahasiswa yang kritis, berkarakter, dan siap menghadirkan jurnalisme positif di tengah derasnya arus informasi digital. (*)
Pewarta: Anggara Cahya
Editor:
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


