Prestasi Nindya Alifia Zahra, Tiga Kali Raih Juara I Pencak Silat Usia Dini Bupati Cup Sumenep
Baru menyelesaikan pendidikan di tingkat dasar, Nindya sukses mengharumkan nama sekolah dan kedua orang tuanya dengan meraih medali Juara I dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat Kabupaten Sumenep.
Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
SUMENEP – Semangat jiwa, selangkah maju dengan kepalan tangan untuk meraih mimpi. Di antara senggang waktu SPMB dan senda tawa putri dari bapak Munif ini, terselip kisah tentang tekad yang tumbuh diam-diam menjulang setinggi langit.
Terukir sebuah - Nama Nindya Alifia Zahara. Perempuan muda kelahiran Lamongan, 27 Juli 2014 ini memiliki keberanian yang teruji di gelanggang Kabupaten.
Siswi yang saat ini baru menyelesaikan pendidikan di tingkat dasar, sukses mengharumkan nama sekolah dan kedua orang tuanya dengan meraih medali Juara I dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat Kabupaten Sumenep pada Sumenep Calender Of Event 2026 (Bupati Cup V).
Turnamen antar pelajar se-Kabupaten Sumenep ini berlangsung di Indoor GOR A Yani Sumenep selama tiga hari, 3-5 Juli 2026, diikuti oleh 439 pelajar dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK sederajat.
Capaian Nindya Alifia Zahara tak sekadar prestasi kaleng.
Tiga tahun berturut-turut gelar juara digenggam, mulai edisi 2024 (Bupati Cup III), tahun 2025 (Bupati Cup IV) dan tahun ini 2026 (Bupati Cup V). Terus menorehkan juara, ia membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari langkah kecil.
Perjalanan Nindya Alifia Zahara bermula dari hal sederhana. Ia mengikuti ayahnya ke kegiatan pencak silat.
Dari situlah ia mengenal Persaudaraan Perguruan silat nasional (PSN) Perisai Putih Cabang Kalianget yang dibimbing Yoyok. Dengannya, Kejuaraan Tunggal Usia Dini II Putri dimulai dengan raihan juara 1 atau medali emas.
Perisai Putih cabang Kalianget, menjadi rumah keduanya. Di tempat ini, lebih dari sekadar latihan bela diri, ia menemukan dukungan, persahabatan dan rasa percaya diri.
Lingkungan yang hangat, dorongan dari ayah dan bunda, serta semangat dari pelatih dan teman-teman membuatnya jatuh cinta pada silat. Bukan karena ambisi berlebihan, melainkan karena merasa diterima, disemangati dan dipercaya.
“Menjadi atlet pencak silat dan membahagiakan orang tua,” ujarnya polos namun penuh keyakinan.
Di balik medali juara itu, ada perjuangan yang tak ringan. Dengan sisa tenaga dan semangat yang terus dijaga, Nindya tetap berdiri di gelanggang.
Ia melawan rasa lelah dan gugup, bersandar pada dukungan pelatih, orang tua, dan para pendukung yang tak henti memberi semangat.
"Support terbesar adalah Ayah dan Bunda,” katanya mantap.
Kini, tantangan baru menantinya: mempertahankan gelar dan terus berkembang.
Saat rasa ragu datang, Nindya memilih bercerita kepada ayah dan mamanya - dua sosok yang menjadi penopang terkuat dalam setiap langkahnya. Dari merekalah ia belajar bahwa keberanian untuk bertanding saja sudah merupakan kemenangan.
Mimpinya tak berhenti di podium juara. Nindya ingin kembali berlaga di kejuaraan Provinsi bahkan gelanggang nasional. Ia juga bercita-cita masuk Kedokteran melalui jalur prestasi pencak silat.
Namun, ada satu harapan tulus yang ia titipkan: agar atlet-atlet kecil seperti dirinya mendapat beasiswa, sehingga mimpi mereka tidak terhenti karena keterbatasan.
Di usia masih dini, Nindya Alifia Zahara yang saat ini akan menduduki bangku SMPN 2 Sumenep telah membuktikan bahwa keberanian, dukungan keluarga, dan ketekunan bisa mengubah mimpi menjadi nyata. Dan ini baru permulaan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

